more"/> more">
“Oleh Bilur-bilurnya kita Menjadi Sembuh”
Last Updated : Apr 09, 2021  |  Created by : Administrator  |  328 views

Oleh: Yusuf Deswanto

Yesaya 53:4-5; 1 Petrus 2:24-25

            “Bilur-Nya, bilur-Nya, bilur-Nya sungguh heran. Bilur-Nya, bilur-Nya membawa kesembuhan. Asal percaya saja semua sakit hilanglah, oleh darah Yesus menolong.” Kalimat-kalimat di atas adalah lirik dari sebuah lagu pujian yang populer di beberapa gereja, khususnya gereja-gereja dengan denominasi Pentakosta/Kharismatik. Sebagai salah satu jemaat gereja Pentakosta, sejak kecil saya sangat mengenal lagu ini. Dalam kesederhanaan liriknya, saya dan banyak jemaat gereja Pentakosta lainnya akan mudah menyimpulkan makna lagu ini: “bilur-bilur Yesus membawa kesembuhan semua penyakit orang percaya.”

Saya juga sangat yakin, setiap jemaat yang menyanyikan lagu ini pasti memahami kata “kesembuhan” dan “sakit” di sini dalam pemaknaan sakit atau sembuh secara fisik/medis. Jadi, apakah demikian yang dimaksudkan pernyataan “oleh bilur-bilur-Nya kita (kamu) menjadi sembuh” di dalam Alkitab?

            Kutipan “oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” adalah satu bagian kecil dari penggambaran nabi Yesaya akan “hamba Tuhan yang menderita” di dalam Yesaya 52:13-53:12. Pernyataan ini kemudian dikutip oleh Rasul Petrus dalam suratnya yang pertama (1 Petrus 2:24), dengan mengubah kata ganti orang pertama jamak (kita) menjadi kata ganti orang kedua jamak (kamu).

Kata “bilur” (Ibr. chabburah; Yun. mólóps) digunakan untuk menunjukkan bekas luka-luka memar, lebam, bengkak, membiru dan berdarah, khas luka-luka bekas cambukan pada tubuh “hamba Allah yang menderita”. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menuliskannya sebagai jamak “bilur-bilur,” tetapi dalam teks Ibrani (Yesaya 53:5) maupun teks Yunani (LXX. Yes. 53:5; 1 Pet. 2:24) kata “bilur” adalah tunggal.

            Tak terbantahkan lagi, bahwa gambaran “hamba yang menderita” dalam Yesaya 52:13-53:12 menubuatkan penderitaan dan siksaan yang akan dialami oleh Yesus Kristus, “Sang Mesias yang menderita” itu. Kutipan Petrus dari gambaran hamba yang menderita Yesaya menegaskan penggenapan nubuat nabi Yesaya di dalam pribadi Yesus Kristus. Gambaran Yesaya yang detil dalam Yesaya 52:13-53:12 penuh dengan elemen-elemen retoris dan figuratif, sehingga mungkin saja pembaca masa kini menafsirkan “sakit” (ayat 4) dan “sembuh” (ayat 5) dalam makna sakit dan sembuh secara fisik (meski konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya juga lebih menjelaskan makna penggantian hukuman dosa secara menyeluruh). Namun ketika kita mengacu kepada penafsiran Petrus di suratnya, jelas bahwa makna “sakit” dan “sembuh” di sini adalah dalam pemaknaan spiritualitas dan moralitas hidup, yaitu “kesakitan” sebagai “dosa” dan “kesembuhan” sebagai “pembebasan dari dosa.”

Perhatikan kutipan lengkap dari surat Petrus tersebut: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1Pet.2:24 – penekanan ditambahkan).

            “Dagangan” ajaran “kesembuhan ilahi” (secara fisik/medis) yang sering mengutip bagian Alkitab ini telah sekian lama menyelewengkan (mendistorsi) pola pikir umat Kristen, sehingga lagu pujian dan doa-doa pun lebih diarahkan kepada aspek kesembuhan fisik/medis. Hingga saat ini, dari grup-grup Whatsapp yang saya ikut, saya masih sering membaca doa-doa semacam “kiranya bilur Yesus menyembuhkan penyakitmu.” Tak sedikit pula yang kemudian mengaminkan pernyataan tersebut. Tentu saja saya tidak sedang menampik bahwa kuasa Yesus Kristus sanggup menyembuhkan segala penyakit manusia, baik pada masa hidup-Nya di dunia atau setelah kebangkitan-Nya.

Ya, mujizat kesembuhan dari segala penyakit masih dapat berlangsung hingga saat ini, jika Allah mau bekerja. Namun terlalu menyederhanakan “kesembuhan” dari segala “penyakit-penyakit dosa”, baik yang berdampak secara fisik, mental, moral, dan karakter hidup manusia, dengan hanya berorientasi pada kesembuhan fisik justru telah mengerdilkan kuasa penebusan Yesus Kristus sebagai Hamba Yang Menderita.

            Pernyataan deklaratif ini, “oleh bilu-bilur-Nya, kita (kamu) menjadi sembuh,” seharusnya membawa penghayatan Paskah menjadi lebih bermakna bagi hidup kita. Pembebasan dan kesembuhan kita dari dosa-dosa telah dirancang dengan sangat agung oleh Allah, sejak kejatuhan Adam dan Hawa hingga pembuangan Israel pada zaman nabi Yesaya. Pemulihan dan kesembuhan kita dari penyakit kronis dosa (yang jauh lebih mengerikan daripada penyakit kanker sekalipun), telah dibayar sangat mahal dengan luka-luka dan bilur-bilur penuh darah Sang Hamba yang menderita, Yesus Kristus.

Bacalah Yesaya 52:13-53:12 sekali lagi dengan penuh penghayatan. Gunakan imajinasi Anda untuk membayangkan betapa berat dan penuh penderitaan Yesus telah menggantikan kita: “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya.” Terpujilah Yesus Kristus, Sang Hamba yang Menderita untuk kesembuhan dosa kita.

(*Penulis melayani Pelayanan mahasiswa di Perkantas Jember)

*Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/photos/VfP3EbRW3Jo


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES