more"/> more">
Wanita di Sekitar Salib
Last Updated : Apr 19, 2021  |  Created by : Administrator  |  178 views

Oleh Ria Agustina

 

Penjelajah besar Inggris, Mary Kingsley, dilahirkan di Highgate, London, 1862. Ia berasal dari keluarga berada dan berpendidikan tapi jiwa petualangan membawanya membantu suku-suku terpencil di pedalaman Afrika. Sebagai seorang petualang, Mary Kingsley adalah contoh dari sosok yang tangguh dan berani. Penjelajah dan pedagang lain sangat menghormatinya, dan tidak menganggap remeh Kingsley hanya karena ia seorang perempuan. Kingsley mampu bertahan hidup setelah jatuh ke dalam lubang perangkap yang penuh duri, berenang melewati sungai yang dipenuhi lintah, dan menjadi pemanjat kedua yang mencapai puncak Gunung Cameron, puncak tertinggi di Afrika Barat.

Sebagai orang berada dan berpendidikan tinggi sebenarnya ia tidak perlu menyusahkan diri untuk menyelamatkan orang-orang di Afrika itu, apalagi mereka terkenal sebagai suku kanibal dan tidak berpendidikan. Tekadnya untuk melakukan penelitian di bidang antropologi dan sejarah suku-suku Afrika ini akhirnya membawa reformasi suku-suku Afrika mereka menuju peradaban baru. Tentu apa yang dilakukan Kingsley mendatangkan kritik dan tantangan besar dari pedagang dan pemerintahan Inggris saat itu. Namanya tercatat sebagai inisiator gerakan reformasi Kongo yang mendirikan African Society. Kingsley menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal pada usia 37 tahun di Afrika.

Membaca kisah Mary Kingsley sungguh menginspirasi, demikian juga halnya membaca kisah para wanita di sekitar salib. Alkitab mencatat tiga nama wanita yang mengiring-Nya saat Dia harus mengalami siksaan hingga di Kalvari, tidak termasuk Maria ibu Yesus (Yoh.19:25). Yang pertama adalah Maria Magdalena, selanjutnya Maria ibu Yakobus muda dan Yoses, serta wanita bernama Salome (Mark. 15:40-41).

Di saat para murid yang selalu bersama Yesus telah melarikan diri karena takut ditangkap sebagai pengikut Yesus, para wanita ini tidak melarikan diri. Apakah karena mereka berani atau lebih berkomitmen dibandingkan laki-laki para murid Yesus? Mungkin, meskipun nampaknya perempuan tidak mungkin ditangkap. Terlepas dari itu, mereka ada di sana, dan mereka tetap setia, tidak hanya sampai kematian Kristus, tetapi juga setelah kematian-Nya hingga hari kebangkitan-Nya.

Calvin memberikan komentar melalui tulisannya “How shameful will it be, if the dread of the cross deters us from following Christ, when the glory of his resurrection is placed before our eyes, whereas the women beheld in it nothing but disgrace and cursing!” [Alangkah memalukannya jika rasa takut terhadap salib menahan kita dari mengikuti Kristus, pada waktu kemuliaan dari kebangkitanNya diletakkan di depan mata kita, sedangkan perempuan-perempuan itu tidak melihat apapun di dalamnya selain aib dan kutuk]. Calvin hendak menegaskan bahwa pada saat para wanita tersebut belum melihat kebangkitan Kristus, yang nampak di depan mata mereka hanya aib dan kutuk pada diri Yesus. Tetapi mereka tetap menunjukkan pengharapan, keberanian dan kesetiaan yang luar biasa dalam mengikut Yesus.

Kingsley dan para wanita di dekat salib ini memberikan teladan bagi kita untuk memiliki pengharapan, keberanian dan kesetiaan saat berada di dalam sebuah situasi yang sulit, bahkan ketika situasi tersebut tidak menguntungkan mereka. Demikian juga kita sebagai orang Kristen yang mengaku murid Kristus. Apa pun yang kita kerjakan saat ini ditengah rutinitas dan carut marut problematika hidup, kita ditantang untuk memiliki keberanian seperti mereka. Sudahkah kita berkomitmen untuk tetap berada di sekitar salib Yesus, dan terus menjadikan salib sebagai fokus pandangan kita? Ketika salib Kristus menjadi fokus utama kita, tidak akan ada yang bisa menghalangi kita untuk melangkah dan berjuang bagi Yesus.

*) Refleksi ini saya persembahkan untuk semua para wanita yang terus berjuang dengan berbagai profesi yang ditekuni. Terus berjuang, kerjakan visi yang Tuhan hadirkan dalam hidupmu dan tetaplah berfokus pada Yesus. Selamat Hari Kartini !

*) Ria Agustina, melayani di Departemen Literatur Perkantas Jatim. When you catch the wind, you’ll get direction, as long as HE is the captain of your ship, quote inilah yang mendorong saya untuk fokus mengerjakan pengembangan Literasi di Perkantas Jatim selama 3 tahun ini. Harapan saya aktivitas membaca dan menulis bisa menjadi bagian penting bagi pertumbuhan murid yang yang dibina dalam pelayanan Perkantas.

Untuk itu Pena Murid hadir untuk menjawab tantangan jaman dimana budaya membaca dan menulis dikalangan anak muda sudah mulai pudar. Jika membaca adalah proses melihat wawasan melalui jendela yang terbuka dan menjadikannya sebagai pengetahuan pribadi, maka menulis adalah suatu cara menyajikan kembali kekayaan ilmu yang didapat dari membaca sehingga menjadi berkat bagi banyak orang.

 


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES