more"/> more">
Jalan Menuju Salib
Last Updated : Apr 19, 2021  |  Created by : Administrator  |  172 views

Oleh Bonefasius Hendrik Nono

 

Sebelum kehadiran virus corona, hidup berjalan dengan ritme yang baik. Semua rencana dan tujuan dengan begitu mudah berjalan. Namun sejak munculnya Covid-19, hidup kita mulai digoncangkan dengan berbagai informasi tentang virus corona yang begitu membahayakan bagi kehidupan kita, seolah hilang pula harapan kita pada saat itu. Kita cendrung takut: takut bertemu orang, takut berelasi, dan cenderung melindungi diri sendiri. Dengan kata lain, kita mengasihi diri. Banyak orang yang mengumpulkan persedian makanan yang banyak, menjadikan kondisi ini sebagai ladang bisnis yang menguntungkan dirinya sendiri. Orang menjadi tidak peduli dengan kehidupan orang lain, dan berfokus pada kenyamanannya sendiri.

Mari kita coba merefleksikan iman kita di tengah kondisi saat ini. Apakah kita melihat bahwa virus ini adalah sebuah ancaman? Apakah virus ini begitu buruk? Apakah virus ini telah mengambil kebahagian kita untuk bersenang-senang, melakukan sesuatu dengan bebas? Pada kenyataanya, virus ini membatasi langkah dan gerak kita. Mematikan diri kita, seolah-olah virus ini adalah lawan yang tangguh, musuh yang berat. Akhirnya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kita telah dimatikan oleh keadaan. Kita dimatikan oleh kondisi, dan cendrung berlindung di bawah keadaan. Kreativitas dan semangat kita hangus, seakan kita tak berdaya. Kita telah dikalahkan oleh situasi ini.

Saya melihat kondisi pandemi ini adalah sebuah salib yang harus kita pikul, jalan yang harus kita lalui. Sebagai orang yang beriman kepada Kristus, kita tidak bisa lepas dari “salib kehidupan.” Matius 16:24 mencatat: “lalu Yesus berkata kepada murid-muridnya,’Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti aku’.” Mengikuti Kristus berarti siap menerima segala penderitaan. Siap memikul beban yang ringan atau pun yang berat. Seorang misionaris Katolik, Yosep Freinadametz, mengatakan, “salib adalah rejeki sehari-hari untuk seorang pengikut Tuhan.” Bunda Teresa pernah berkata, “Penderitaan adalah hadiah yang paling indah, yaitu ketika kita boleh ikut merasakan sengsara Kristus.”

Ketika kita melihat salib berarti kita selalu melihat harapan. Pandemi ini adalah penderitaan kita. Kita perlu siap melaluinya, siap memikulnya. Kita tidak bisa menghindar. Kalau ingin menang dalam penderitann, berarti kita melaluinya dengan memikul salib. Teruslah berjuang. Kadang salib begitu berat. Kadang kita kehilangan harapan, putus asa, kecewa, dan merasa segala perjuangan nampak sia-sia. Kita mungkin sering jatuh, tapi kita harus bangkit. Kristus sudah melaluinya, dan Dia menang. Kemuridan dalam pandemi memang jalan salib yang sulit. Kita dipaksa keluar dari diri kita, kenyamanan kita, dan terus bersemangat dalam pemuridan, serta tetap mengabarkan Injil kemenangan Kristus atas salib.

 

*) Bonefasius Hendrik Nono, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Sains, Teknik dan Terapan, Jurusan Matematika, Universitas Pendidikan Mandalika Mataram  Motto hidupnya adalah  selalu ada harapan di setiap awal melangkah. Kesan selama 10 bulan mengikuti komunitas menulis Pena Murid sangat membantu saya  dalam membuka wawasan menulis, saya sangat terkesan dengan Kakak Mentor yang mengatakan bahwa kita bisa menulis  dari kehidupan sehari-hari. Ditengah kesibukan kuliah saya, saya bersyukur bisa banyak belajar dan dimentor dalam menulis hal-hal yang sederhana. Berharap tulisan saya bisa menjadi berkat.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES