more"/> more">
Salib: Jalan Penderitaan untuk Keselamatan
Last Updated : Apr 19, 2021  |  Created by : Administrator  |  174 views

Oleh Christianto

 

            Masa Paskah masa untuk berefleksi. Saya banyak mendapatkan inspirasi baru tentang bagaimana cara menikmati dan menghayati Paskah. Paskah merupakan sebuah peristiwa yang dialami oleh Yesus Kristus dan merupakan hari dimana Dia menyelesaikan pekerjaan-Nya di dunia, yaitu menebus dosa umat manusia.

            Penderitaan Yesus dimulai ketika Ia ditangkap oleh para prajurit Romawi di Taman Getsemani. Dia berada di Taman Getsemani (Matius 26: 36-46) untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Peristiwa ini juga mencerminkan sisi kemanusiaan-Nya, yang juga mengalami kegentaran saat Dia mengetahui bahwa waktu-Nya telah tiba. Penderitaan dimulai saat Ia menerima pukulan dari para prajurit yang berada di hadapan Mahkamah Agama (Matius 26: 57-68). Kemudian penderitaan yang Ia alami berlanjut ketika Ia dihadapkan pada Pontius Pilatus. Yesus diseret oleh para serdadu wali negeri, dan mereka memanggil seluruh pasukan untuk berkumpul di sekeliling-Nya. Mereka menanggalkan pakaian-Nya, mengenakan-Nya jubah ungu, memasang mahkota duri di atas kepala-Nya, memberikan sebatang buluh pada tangan kanan-Nya, megambil buluh itu lalu memukulkannya ke kepala-Nya, serta berlutut dihadapan-Nya untuk mengolok-olok Dia (Matius 27: 27-31). Penderitaan dan penghinaan terhadap diri-Nya tidak berhenti sampai disitu. Setelah mengalami penderitaan penyesahan, Ia harus berjalan memikul salib hingga seorang dari Kirene bernama Simon membantu memikul salib-Nya. Puncak penderitaan-Nya terjadi ketika Dia disalibkan di Bukit Golgota. Tangan dan kaki-Nya dipaku pada kayu salib, hingga lambung-Nya ditusuk dengan tombak oleh salah seorang prajurit Romawi.

            Hukuman salib yang diterima Yesus tersebut disebutkan sebagai hukuman yang ekstrem oleh Tacitus (sejarawan Romawi). Hukuman kejam itu harus diterima-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Betapa hebat penderitaan yang telah diterima-Nya di atas kayu salib. Penderitaan tersebut menggambarkan penolakan dunia terrhadap Dia.

            Sama halnya dengan dunia yang menolak Dia, demikian pula dunia ini menolak setiap orang yang percaya kepada-Nya. Banyak penderitaan yang telah dialami oleh orang percaya karena imannya kepada-Nya. Penolakan merupakan bentuk dari penderitaan yang dialami oleh orang percaya. Sebagai suatu contoh, di negara China, orang percaya beribadah di gua. Bahkan mereka mendapatkan Alkitab cetak hanya per-lembar saja setiap minggunya. Betapa menderitanya hidup sebagai orang percaya di negara seperti China, dimana mereka harus berjuang ekstra keras untuk memelihara imannya. Hal tersebut memiliki peristiwa yang mirip dengan peristiwa bangsa Israel, ketika mereka dijajah oleh Mesir (Keluaran 1-2). Penderitaan yang dialami oleh orang percaya yang terdapat di China tersebut menggambarkan bahwa mereka memikul salib, yaitu penderitaan karena iman mereka.

Memikul salib juga berarti menyalibkan keinginan daging yang bertentangan dengan keinginan Roh. “Perbuatan daging ialah percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hari, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Galatia 5: 17-21). Setiap orang percaya tidak boleh lengah oleh Iblis, dan harus selalu memikul salibnya, seperti yang telah dilakukan oleh para pengikut Kristus di daratan China.

            Hal tersebut membuat saya tahu dan sadar bahwa saya tidak sendiri dalam penderitaan. Setiap murid pasti mengalami penderitaan yang sama karena menyalibkan keinginan daging. Meskipun setiap orang memiliki dosa dan keinginan daging yang berbeda-beda untuk disalibkan, semua orang membutuhkan ketekunan yang sama dalam menyalibkan keinginan dagingnya. Maka setiap ketekunan di dalam penderitaan menyalibkan daging pada gilirannya akan menghasilkan buah (Roma 5: 3-4; Yakobus 1: 4).

 

*) Christianto, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pertanian Universitas Jember (UNEJ), doakan saat ini sedang berjuang menyelesaikan tugas akhirnya. Motto hidupnya adalah terus berfokus dengan apa yang ada di depan dan mengoptimalkan segala kesempatan (Kolose 3: 23).

Kesan  mengikuti  Komunitas Menulis Pena  Murid Perkantas, saya sangat diberkati  dan menikmati saat bersama teman-teman bisa sharing mengenai penulisan dan mendapatkan banyak masukan untuk mengembangkan penulisan yang dilakukan

 


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES