more"/> more">
Refleksi - Hidup yang Berpusatkan Injil
Last Updated : Apr 23, 2021  |  Created by : Administrator  |  154 views

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (Filipi 1:21).

Oleh Eri Iwantoko,SIP,M.Div

Paulus mengkristalkan perjalanan imannya dengan suatu kalimat: “Bagiku hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan.”  Sebuah kalimat yang telah menjadi gambaran siapa dan apa yang telah dilakukan mantan penganiaya jemaat yang telah bertobat itu.  Kalimat ini seharusnya menjadi gambaran bagi orang-orang percaya dalam menjalani hidup sebagai murid-murid Kristus. 

Mulai dari mana?

Menyerahkan hidup kepada Injil bukan terjadi begitu saja.  Petrus dan para murid yang lain tidak serta merta menjadi manusia yang rela memberikan seluruh hidupnya bagi Injil.  Hidup yang berpusatkan pada Injil dimulai dengan perjumpaan dengan Kristus.  Petrus dan murid-murid yang pertama rela meninggalkan pekerjaan, keluarga, bahkan segala kesenangannya untuk mengikut Yesus.  Hal itu dimulai dengan perjumpaan mereka dengan Kristus.  Yesus pergi ke pantai Danau Genesaret dan menjumpai Simon Petrus serta rekan-rekannya yang sedang membersihkan jalanya.  Sepanjang malam mereka bekerja keras mencari ikan, tapi tidak mendapatkannya.  Pagi menjelang siang, Yesus menjumpai mereka.  Anak tukang kayu ini memerintahkan Petrus untuk menebarkan jalanya kembali.  Mungkin protes muncul dari mulut Petrus, sang nelayan kepada si anak tukang kayu ini.  Tetapi karena Yesus Sang Anak tukang kayu ini dikenal sebagai seorang guru, maka Petrus menaati perintah-Nya.  Beberapa waktu kemudian Petrus harus berteriak-teriak meminta tolong teman-temannya untuk membantu mengangkat jala yang penuh dengan ikan..  Dua perahu hampir tenggelam dipenuhi ikan. 

Wajah Petrus yang sebelumnya penuh keraguan akhirnya menjadi penuh riang.  Penuh sukacita.  Di tengah kesukacitaan muncul kekaguman dan pertanyaan dari Petrus, bagaimana ini bisa terjadi?  Tanpa berpikir panjang, Petrus datang tersungkur di depan  Yesus diikuti Yakobus dan Yohanes, yang bersamanya.  Petrus meminta agar Yesus meninggalkannya: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa.”  Yesus tidak mengecam keraguan Petrus, tetapi memberikan penghiburan dan panggilan-Nya.  Kata-Nya: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjadi penjala manusia.” 

Seperti Petrus, Paulus juga telah menyerahkan segenap hidupnya bagi Injil.  Dia mengalami perjumpaan dengan Yesus di tengah-tengah kebencian dan militansinya menindas para pengikut Kristus di Damsyik.  Perjumpaan awal dengan Yesus menjadi awal dari segala hidup yang berpusatkan pada Kristus.  Tanpa perjumpaan dengan Yesus Kristus, tidak ada hidup yang berpusatkan pada Injil.

 

Hidup ini bukan milikmu

Yesus mengingatkan para murid dan orang-orang yang mengikuti Dia. Syarat menjadi murid-Nya ialah menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia.  Menyangkal diri artinya membuat dirinya nothing, menolak keberadaan dirinya.  Dirinya bukan lagi miliknya tetapi milik Kristus.  Yang dikerjakan adalah apa yang menjadi kehendak Kristus bagi dirinya.  Setelah perjumpaannya dengan Kristus, Zakheus pemungut cukai melepas apa yang disayanginya yaitu kekayaan. Ia membagikan separuh hartanya untuk orang miskin, dan bahkan siap menggembalikan uang empat kali lipat dari orang yang telah diperasnya.  Hidup yang menjadi milik Kristus berbuahkan kerelaan melepaskan apa yang disayangi.  Perjumpaan Paulus dengan Yesus Kristus telah mengubah kehidupannya. 

Tujuan hidupnya bukan lagi tujuannya.  Tujuan hidupnya adalah tujuan Yesus yaitu membawa orang-orang Israel, bangsa-bangsa lain, dan raja-raja untuk percaya kepada Kristus.  Apa yang menjadi kebagaannya selama ini dianggapnya sampah karena Kristus.  Paulus mengikut Yesus sepanjang hidupnya. Melaksanakan apa yang Kristus kehendaki dalam hidupnya.  “Memikul salib” tidak lepas dari praktik hidupnya. 

 

Menghabiskan kesempatan bagi Kristus

Tidak diragukan lagi, para rasul telah memberikan hidupnya bagi Injil.  Paulus menghabiskan setiap kesempatan agar Injil diberitakan, bahkan ketika di penjara pun menjadi kesempatan baginya untuk memberitakan Injil .  Dia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk memberitakan Injil Kristus, meskipun penderitaan dan sengsara menjadi bayangannya.  Dia tidak berhenti karena kesulitan. 

Dia memenuhi perjalanan misinya dengan tidak bergantung pada pemberian jemaat tapi keahliannya membuat tenda digunakan juga untuk mencukupi perjalanannya.  Baginya hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan.

Kita tidak harus memiliki pengalaman hidup seperti Paulus dan rasul-rasul lainnya, teapi kita tetap harus memusatkan hidup kita pada Injil Kristus.  Dalam peran-peran yang sedang kita jalani, kita dapat menanamkan nilai-nilai yang telah Yesus ajarakan.  Profesi, posisi, dan karir menjadi kesempatan yang Tuhan berikan agar Kerajaan Allah dinyatakan.  Setiap sudut-sudut dalam hidup kita menjadi kesempatan agar Injil digaungkan. 

Di sekolah, kampus, tempat kerja dimana pun kita berada, orang dapat merasakan kasih Kristus melalui hidup kita.  Tidak ada satu ruang kosong dalam hidup kita yang tidak menjadi kesempatan agar Injil diberitakan. 

Perjalanan lebih dari satu jam dari Surabaya Timur menuju Surabaya Barat pada Jumat Agung tahun ini menjadi perjalanan yang bermakna dalam hidup saya.  Sepanjang perjalanan itu menjadi kesempatan menceritakan kepada Bapak Sopir yang mengantar kami tentang apa yang sebenarnya terjadi di Jumat Agung.  Bersyukur bapak ini mendengarkan cerita Injil.  Bersyukur istri dan anak-anak melihat dan mendengar bagaimana menyampaikan Injil di tengah perjalanan.  Mengingat hal tersebut, terlintas peristiwa perjalanan dua murid dengan Yesus menuju Emaus (Lukas 24). 

Inilah perjalanan Emaus saya.  Kita bisa minta agar Tuhan memberikan “perjalanan-perjalanan ke Emaus” yang lainnya.  Kesempatan menjadi anggota grup Whatsapp dengan teman-teman sekolah dan kuliah dulu menjadi kesempatan yang baik untuk menceritakan Kristus, di saat mengucapkan selamat Paskah kepada teman-teman seiman di antara teman lain yang berbeda keyakinan.  Setiap kesempatan, dimana pun, dalam kondisi apa pun, dapat menjadi kesempatan memberitakan Injil.  Siap sedialah. baik atau tidak baik waktunya, agar Injil diberitakan. (* Penulis Melayani Pelayanan Siswa di Surabaya)

*) Ilustrasi gambar diambil dari Unsplash.com/photos/aiPS6E9pO28


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES