more"/> more">
“Seperti Ular di Bawah Kaki Michael”
Last Updated : Apr 28, 2021  |  Created by : Administrator  |  153 views

Lidya  Wurru

 

 

Resolusi membaca 30 eksemplar buku di tahun 2021 saya mulai dengan “Buluh Yang Terkulai.” Buku ini tanpa sengaja saya temukan di perpustakaan pada 1 Januari 2021, sebuah buku yang ditulis dari khotbah-khotbah D. Martyn Lloyd Jones di Wesminster Chapel pada tahun 1964. Meskipun ditulis 54 tahun silam, namun buku ini mampu mengorek bagian terdalam dari kekristenan saya, dan mungkin banyak orang saat ini.

Ketika wabah virus korona menyerang dunia, masalah depresi menjadi topik yang banyak dibahas oleh para psikolog dan pengguna media sosial. Lloyd Jones sangat teliti memprediksi dan merangkum depresi rohani sebagai masalah yang dihadapi semua orang. Penyebab depresi rohani yang menarik perhatian saya adalah masalah ketidakpercayaan, penyesalan karena kondisi masa lalu dan dosa serta ketakutan menghadapi masa depan. Ketidakpercayaan adalah akar dari segala depresi yang muncul dipermukaan.

Di suatu hari ketika mengambil waktu sabat, saya berdiam diri dan merenungkan rangkaian pertanyaan yang mendalam. Mengapa saya dan banyak orang Kristen merasa dosanya tidak diampuni? Mengapa penyesalan masa lalu terus menghantui? Mengapa masa depan begitu menakutkan sehingga menimbulkan ketakutan dan kecemasan yang berlebih? Mengapa ketidakpercayaan melanda orang Kristen, bukankah Kristus berkata “sudah selesai” ketika Dia di atas kayu salib?

Satu kali saya pernah merasa Tuhan muak dan ogah untuk memberi pengampunan atas dosa yang saya lakukan berulang kali. Saya tahu kebenaran-Nya yang berkata, Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka (Ibrani 10:17). Namun dalam praktiknya, pikiran saya penuh dengan perasaan bersalah dan merasa belum diampuni. Ketika perasaan mendominasi, kebenaran menjadi tidak absolut lagi.

Dia tidak mengingat dosa saya, tapi mengapa saya berlarut-larut mengingatnya? Pertanyaan retoris yang menggelikan ketika mengulang membaca kembali ayat di atas. Selain ayat tersebut, Roma 5:8 juga menjadi ayat yang sangat kuat meneguhkan: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Pada saat saya sedang tidak baik-baik saja, merasa berdosa dan sulit untuk bangkit, di situlah Kristus membuang dosa saya.

Dia membenarkan saya di atas kayu salib. Ketika saya percaya kematian- Nya, percaya pada Firman-Nya dan pengampunan-Nya, masihkah saya merasa begitu tercekat karena pengalaman hidup begitu mencekam? Ketika saya percaya karya penyelamatan-Nya, saya akan mampu memberitakan Injil-Nya dengan leluasa. Itulah jalan bagaimana “ular” itu diinjak, sehingga tidak lagi berkuasa atas kita. Martyn Lloyd Jones mengutip pernyataan seorang yang bernama Browning dalam bukunya: “Bagiku iman artinya ketidakpercayaan yang terus ditekan, seperti ular di bawah kaki Michael.” Ya, saya harus menginjak keraguan dan ketidakpercayaan saya seperti ular di bawah kaki Michael.

 

*) Lidya  Wurru, saat ini melayani sebagai staf kantor di Perkantas Mataram. Kak Lidya ini memiliki keyakinan bahwa hidup adalah tentang belajar dan memaksimalkan karunia. Bersyukur selama bergabung di komunitas Pena Murid saya tertantang untuk produktif menulis, mencoba hal yang baru dan terus latihan.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES