more"/> more">
Am I Enough?
Last Updated : Apr 28, 2021  |  Created by : Administrator  |  150 views

Oleh Noni Elina

 

 

Apakah aku cukup? Sebuah pertanyaan yang mungkin muncul di benak sebagian besar orang. Termasuk diriku.

Sebagai orang yang menghabiskan banyak waktu muda di gereja, terlibat pelayanan, menjadi relawan, panitia di hari-hari besar gereja, sebenarnya aku sempat merasa bahwa aku adalah seorang Kristen yang nyaris sempurna. Maksudnya, aku hampir tidak terlibat dengan isu-isu buruk yang dikaitkan dengan mahasiswa masa kini: seks bebas, mabuk, menyontek, berkata kotor, dan lainnya. Aku benar-benar merasa bahwa tidak ada yang salah waktu itu. Semuanya nyaris sempurna kecuali rasa tidak cukup yang selalu menghantui.

Tanpa sadar aku selalu menuntut kesempurnaan dalam diri. Begitu terpuruk ketika menyadari sebuah dosa yang ada sejak dini. Aku ingin sempurna dengan kekuatanku sendiri. Begitu frustasi ketika gagal berkali-kali. Pertanyaan ini kemudian muncul, apakah aku cukup baik untuk dikasihi oleh Allah? Apakah aku layak? Apakah Kristus masih mengasihiku ketika aku gagal berkali-kali?

Benar, terkadang kita menjadi lemah bukan ketika mengalami penderitaan, tetapi ketika mengalami kegagalan. Bagiku tidak masalah hidup sendiri di kota, di mana aku melayani saat ini. Aku dapat melaluinya; melalui banyak perjalanan menggunakan sepeda motor untuk memuridkan: kehujanan, kepanasan, dan terkadang kesepian. Namun ketika kegagalan menghampiri, aku menjadi begitu tidak berdaya.

 

Ekspektasi yang salah

Ekspektasiku untuk menjadi seorang Kristen yang sempurna dengan kekuatanku sendiri adalah sebuah kesalahan. Aku bahkan seolah berkata, “Tuhan, duduklah saja di kursi penonton dan lihat aku.” Aku ingin membuat Tuhan terkesan. Bahkan aku berharap Dia memberikan standing applause diakhir pertunjukan. Namun, firman Tuhan berkata bahwa tidak ada seorang pun yang benar (Roma 3:10), semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Kita dibenarkan oleh karena iman kepada Kristus. Itulah alasan mengapa Yesus disalib, untuk menebus dosa seluruh umat manusia.

Menghayati makna salib membuatku menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa sempurna tanpa Yesus. Inilah yang Tuhan inginkan: berjalan bersamaku di dalam setiap hal yang aku hadapi. Dia tidak ingin hanya duduk di kursi penonton. Dia ingin ambil bagian dalam setiap pertandingan yang ada! Dia adalah Allah yang turut merasakan setiap kesulitan, kesedihan, dan luka kita. Salib Kristus membuat semua itu mungkin.

 

Berdamai dengan sisi gelap

Aku belajar untuk berdamai dan menerima sisi gelap dalam diri, lalu menyerahkannya pada Kristus. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tetapi aku percaya bahwa Tuhan tahu cara untuk terus membentukku menjadi pribadi yang Dia inginkan. Bagianku adalah terus percaya dan taat. Bahkan kemampuan untuk percaya dan taat itu pun adalah pemberian Allah.

Menjawab pertanyaan di awal artikel ini, apakah aku cukup? Jawabannya adalah ya. Aku adalah alasan yang cukup bagi Allah untuk mengorbankan Anak-Nya yang tunggal mati di kayu salib. Bukan hanya untukku, tetapi Dia juga melakukan untukmu dan seluruh umat manusia di dunia.

Teruntuk setiap orang yang saat ini merasa bahwa dirinya tidak berharga, tidak cukup baik, dan merasa tidak sempurna, semoga kita terus ingat akan karya Allah yang begitu besar bagi kita. Dialah Pribadi yang memperjuangkan kita sedemikian rupa. Seorang yang rela menanggung hukuman demi keselamatan kita. Dirimu sangatlah berharga. Jangan patah semangat, terus andalkan Tuhan ya!

 

*) Noni Elina, seorang pembelajar hidup penuh waktu, saat ini melayani sebagai staf  Siswa di Perkantas Banyuwangi.. Semoga melalui Pena Murid, kita terlatih untuk menulis pertama-tama untuk diri sendiri lalu untuk orang lain. Tulisan yang berasal dari hati akan sampai ke hati.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES