more"/> more">
Pendidikan untuk Mengubahkan Hidup: Perjalanan Seumur Hidup
Last Updated : May 14, 2021  |  Created by : Administrator  |  149 views

Sebuah Refleksi dalam Rangka Hari Pendidikan Nasional

Oleh Winanti Krisanisdyastika, S.Th.*)

 

Pendidikan bukan persiapan untuk hidup. Pendidikan adalah hidup itu sendiri

John Dewey

 

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:6-7)

 

Mari kita merefleksikan Ulangan 6:6-7 tentang bagaimana Tuhan memerintahkan kepada umat untuk mengajarkan kebenaran kepada anak-anak.  Artinya, anak-anak membutuhkan ajaran dan didikan tentang kebenaran.  Anak-anak harus memiliki dasar bagi hidup mereka yaitu kebenaran Firman Tuhan.  Pengajaran ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus supaya benar-benar diingat dan dilakukan dalam kehidupan mereka.  Pengajaran juga harus diberikan dalam segala keadaan dan dengan relasi yang terjalin baik. Melalui relasi yang baik,  anak-anak dapat menerimanya dengan baik juga. Pada gilirannya, diharapkan terjadi perubahan yang berkelanjutan dalam hidup mereka.  Inilah tujuan pendidikan, perubahan hidup yang berkelanjutan.

 

Melihat kembali pengertian pendidikan, sebagai segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan terjadi sepanjang hidup akan menolong memahami arti penting pendidikan.  Artinya tidak ada batasan tempat dan waktu bagi seseorang untuk mendapatkan pendidikan atau pengalaman belajar.  Mulai sejak kecil, kita  sudah mengalami proses belajar. Proses selanjutnya bisa didapat melalui pengalaman hidup di banyak lingkungan.  John Dewey menyatakan “Pendidikan bukan persiapan untuk hidup. Pendidikan adalah hidup itu sendiri.”  Hal ini menyatakan bahwa pendidikan itu adalah perjalanan hidup sendiri setiap orang.  Seluruh hidup adalah pembelajaran yang tidak berakhir.

                 

Banyak orang mungkin berpikir bahwa pendidikan hanya diselenggarakan oleh sekolah.  Namun melihat kembali pada Ulangan 6:6-7, pendidikan Kristen dimulai dari keluarga.  Keluarga sebagai lembaga pertama yang dibentuk Allah, juga menjadi tempat pertama anak-anak mendapat pendidikan Kristen.  Dalam keluarga Kristen, sejak dini anak akan terbentuk dengan baik jika keluarga melaksanakan fungsi edukasi/pendidikan dalam terang Firman Tuhan.  Orang tua sebagai penyelenggara pendidikan harus bekerja sama dengan baik. Ayah dan ibu memiliki peran yang sama untuk memberikan pendidikan Kristen kepada anak-anak. Pendidikan tidak bisa hanya diserahkan kepada satu orang saja, ayah atau ibu saja. Peran dan tanggung jawab keluarga dalam pendidikan Kristen ini sangat besar. 

                   

Gereja sebagai sebagai persekutuan orang-orang beriman juga memiliki fungsi untuk menyelenggarakan pendidikan Kristen.  Dalam pelayanannya terhadap jemaat/umat, gereja menyentuh seluruh bagian jemaat, sejak anak-anak dari anak-anak sampai orang tua bahkan lanjut usia.  Gereja memiliki karakteristik dalam menyelenggarakan pendidikan Kristen. Ciri khas tersebut adalah Kebenaran Kristus. Gereja membawa jemaat mengenal Kristus dan bertumbuh menjadi dewasa dalam Kristus. 

                 

Sekolah sebagai lembaga merupakan tempat khusus untuk menyelenggarakan pendidikan.  Sekolah Kristen memiliki peran dan panggilan khusus. Sebagai lembaga sekolah Kristen mengajarkan seluruh ilmu pengetahuan dan pelajaran-pelajaran lain dalam terang Alkitab.  Dalam perannya, pendidik Kristen harus juga mengajarkan cara hidup dalam terang Firman Tuhan. Cara paling effektif adalah melalui teladan hidup.  Anak didik adalah subyek/pribadi yang menjadi tujuan dari penyelenggaraan pendidikan.  Setiap pendidik Kristen dipanggil untuk membawa anak didik mengenal Allah dalam diri Yesus Kristus dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.  Proses berikutnya, pendidik Kristen harus membawa anak didik bertumbuh semakin serupa Kristus dan memiliki karakter Kristus.  Dalam proses ini, Pendidik Kristen harus mampu menghargai siswa sebagai pribadi yang unik. Pendampingan kepada siswa sesuai dengan karunianya untuk tujuan Allah dalam kehidupan mereka.  Sekolah Kristen merupakan komunitas yang menyatakan cinta kasih Kristus.   Hal tersebut harus nyata pada setiap  pemangku pendidikan, guru, siswa dan juga orang tua. 

 

Pendidikan yang mengubahkan hidup, terjadi sepanjang hidup.  Semua pemangku pendidikan harus terus berperan untuk menolong anak-anak yang dipercayakan. Orang tua, gereja, dan sekolah perlu perlu terus bersinergi membangun komitmen mendidik anak-anak sehingga mengalami perubahan hidup terus menerus.  Hal ini tidak dapat dilakukan hanya dengan setengah hati. Diperlukan ketulusan, kesungguhan, keteladanan dan kasih yang sungguh seperti yang telah diberikan Allah dalam Yesus Kristus. Sekali lagi, tujuan akhirnya adalah setiap anak mengalami pertumbuhan yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan hidupnya memuliakan Tuhan. Soli Deo Gloria. (* Alumni Perkantas Jember, saat ini melayani sebagai Guru PAK di SMPK Aletheia Jember)

*Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/photos/8CqDvPuo_kI


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES