more"/> more">
MAHASISWA BANGKIT TANGKAP KAIROS-MU! Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional
Last Updated : May 28, 2021  |  Created by : Administrator  |  254 views

Oleh  Drs. Johan Deretah, M.A

 

Lahirnya Budi Utomo tahun 1908 memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan Indonesia. Sekalipun perjuangannya tidak jauh berbeda dengan organisasi lain pada zamannya, yaitu kemerdekaan, visi Ke-Indonesia-an kuat digaungkan organsisasi ini. Jika ditelusur lebih jauh, pergerakan organisasi ini dimotori para pemuda, yang saat itu juga sebagai mahasiswa. Hal ini merupakan gambaran  bahwa para mahasiswa, yang secara usia adalah pemuda, memberikan peran penting bagi sejarah pembentukan ke-Indonesia-an.

 

Ada hal yang unik dari Budi Utomo yaitu sekalipun bukan pendiri, dr. Wahidin Soedirohoesodo selalu dikaitkan dengan organisasi ini. Saat gagasan Budi Utomo disampaikan, usainya sudah lebih dari 50 tahun. Dari dirinya, gagasan ke-Indonesia-an bergulir. Gagasan ini ditangkap oleh kelompok muda. R. Soetomo dan sekelompok mahasiswa School tot Opleiding van Indische Aartsen (STOVIA), sekolah kedokteran saat itu, mewujudkan gagasan tersebut dengan mendirikan Budi Utomo. Usia mereka berkisar 20 tahunan saat itu.

 

Berdirinya Budi Utomo melibatkan dua pihak. Pihak “tua” yang membagikan visi dan gagasan besar tentang kebangsaan; pihak kaum muda yang mewujudkan gagasan tersebut terwujud. Hal ini bisa menjadi pembelajaran penting bagi generasi kini, tua maupun muda. Keduanya bisa terlibat secara aktif untuk kemajuan bangsa Indonesia.

 

Mengapa Pemuda Penting?

 

Menurut Undang-Undang nomor 40 tahun 2009, pemuda adalah orang yang berada pada rentang usia 16 sampai 30 tahun. Jumlah mereka sangat banyak. Informasi dari www.bps.go.id angka pemuda di Indonesia pada 2019 ada di kisaran 64 juta, atau mencapai 24% dari jumlah penduduk Indonesia.

 

Usia pemuda masuk dalam kategori usia produktif. Jumlah mereka terus meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 2030. Hal tersebut yang disebut bonus demografi. Keadaan di mana jumlah masyarakat usia produktif lebih banyak dari jumlah populasi non produktif. Indonesia mendapatkannya sejak tahun 2020 dan mencapai puncaknya di tahun 2028-2030. Usia produktif dalam sensus penduduk dikategorikan pada mereka yang berusia 16 sampai dengan 64 tahun. Jumlahnya bisa mencapai 70% dari seluruh penduduk Indonesia.  Kondisi ini memiliki dua sisi yang harus diperhatikan. Sisi pertama adalah potensi, melalui jumlah mereka yang sangat banyak, bangsa ini bisa berkembang dalam banyak aspek. Di Pihak lain, kondisi tersebut juga merupakan tantangan, yakni kebutuhan lapangan pekerjaan yang sangat banyak. Jika tak tertangani dengan baik, dapat mengakibatkan menumpuknya pengganguran.

 

Secara lugas data-data di atas menyatakan bahwa pemuda merupakan segmen dari usia produktif, yang perlu mendapatkan perhatian untuk  dioptimalkan perannya. Kegagalan akan hal ini akan berdampak pada bertambahnya persoalan bangsa ini.

 

Pemuda berperan penting bagi bangsa ini. Sejarah sudah membuktikan hal ini. Pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia meluas dan berakar di kalangan pemuda. Demikian berikutnya, pemuda akan tetap menjadi tokoh-tokoh sejarah dalam perjuangan Indonesia mencapai kejayaan. Di tangan mereka, arah Indonesia bergerak kelak akan ditentukan.

 

 

 

Di Mana Mahasiswa Kristen?

 

Usia mahasiswa pada umumnya ada dalam kategori pemuda. Mahasiswa Kristen termasuk di dalamnya. Mahasiswa memiliki tempat khusus, karena mereka adalah insan akademis, pribadi pemikir. Mereka punya peran sangat penting. Dalam sejarah kebangkitan dan perjuangan ke-Indonesia-an, peran para mahasiswa sangat jelas.

 

Saat ini, mahasiswa Kristen ada bersama dengan delapan jutaan mahasiswa lainnya. Mereka memiliki ragam ideologi, agama dan budaya. Bersama-sama, mereka sedang ada di tengah “kawah candradimuka”. Tidak diketahui jumlah mahasiswa Kristen terkini. Tentang mereka, bisa dilihat tiga hal sekaligus: (1) sebagai komponen bangsa, bersama dengan komponen bangsa yang lain, mereka dapat berjuang untuk hadirnya keadilan dan kesejahteraan bagi bangsa ini. Dengan ujung pena dan suara mereka yang lantang,  perjuangan untuk perbaikan dapat dilakukan; (2) Sebagai insan Kristen, mereka menghadapi tantangan ideologi, isme dan segala bentuk budaya yang berkembang di tengah maupun di pinggiran kampus. Saya menyebut dalam pengertian sebenarnya. Di tengah kampus, banyak orang yang tengah bergerak dengan ideologi, isme dan budayanya. Sedang di pinggiran kampus, ada banyak kelompok yang siap menawarkan – jika tak mau menyebutnya sebagai serangan – kepada mereka isme, ideologi dan budaya. (3) Mahasiswa Kristen merupakan potensi yang dimiliki Gereja Tuhan dalam pengertian seluas-luasnya, yang dengan kekuatannya bisa memberikan peran pada dunia kampus saat ini, bagi Gereja, masyarakat, bangsa ini pada masa-masa berikutnya

 

Dari sini dapat terlihat jelas posisi, eksistensi, tantangan dan potensi mahasiswa dan mahasiswa Kristen kini dan ke depan.  Bersama dengan para mahasiswa lain, mahasiswa Kristen adalah warga negara Indonesia yang  memiliki hak dan tanggung jawab yang sama merawat Indonesia. Sebagai umat percaya, mahasiswa Kristen merupakan para pembelajar yang sedang mengenali misi Allah melalui dunia kampus dan dinamikanya.

 

Tangkap Kairos Itu!

 

Para mahasiswa harus punya kesadaran bahwa keberadaannya di kampus merupakan bagian dari proses pengenalan tentang misi Allah. Cara pandang ini sangat penting. Tanpa kesadaran ini, keberadaannya akan dianggap sebagai kisah belaka, bagaikan waktu yang bergulir dari satu masa ke masa berikutnya.  Hal tersebut hanya dianggap sebagai “ritus” dari proses pembelajaran. Lazimnya setelah Sekolah Menegah Atas, mereka akan melanjutkan studi di perguruan tinggi. Lebih jauh lagi, status Kristen para mahasiswa tidak memiliki makna apapun.  Pengertian atau pemikiran ini hanya melihat proses sebagai kronos, yaitu waktu yang terus bergerak dari jam, hari, minggu, bulan dan seterusnya. Waktu dilihat sebagai rangkaian peristiwa semata.

 

Para mahasiswa perlu mengembangkan cara pandang lebih baik. Setiap peristiwa dilihat sebagai kesempatan atau kairos. Jika keberadaan mahasiswa dipandang sebagai kairos, maka akan terlihat “ruang” yang bisa diperankan mahasiswa kini dan akan datang. Di tengah ragam ideologi, budaya dan isme, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengasah diri beradu wacana dengan mahasiswa lain untuk membangun ketajaman berpikir. Jika dikaitkan dengan ke-Indonesia-an, para mahasiswa Kristen memiliki kesempatan untuk belajar hidup, membangun komunitas dan mempertajam “roso” kebhinekaan dengan berbagai pihak di kampus. Ini kegiatan yang memerlukan waktu, akan tetapi jika berhasil memenangkan bagian ini saat di kampus, akan menjadi modal besar dalam kehidupan tahap berikutnya.

 

Mahasiswa Kristen, perlu melihat keberadaannya di tengah kampus sebagai kesempatan istimewa. Menangkap kesempatan dan menungganginya, menuju tahap yang lebih tinggi. Dari sana mereka bisa memandang tantangan kini dan ke depan. Jika mereka tidak memiliki keberanian cukup, Persekutuan Mahasiswa adalah komunitas yang paling rasional dapat bergerak bersama untuk proses ini. Jika hal itu masih dirasa belum memadai, mereka memiliki indung yang dapat membantu memberikan perlengkapan diri dan kekuatan. Induk mereka adalah Gereja Tuhan dalam pengertian seluas-luasnya.

 

Peran Gereja Tuhan

 

Melihat kembali lahirnya Budi Utomo seperti dikutip di atas, tampak pihak “tua” dan “muda” yang bergerak bersama untuk pergerakan bangsa Inodnesia. Ini adalah pola yang baik. Bagus untuk menjadi pembelajaran bersama saat ini. Gereja dan para mahasiswa Kristen dapat menjadi layaknya pihak “tua” dan “muda” dalam peristiwa lahirnya Budi Utomo.

 

Gereja Tuhan dapat menjadi inspirator bagi para mahasiswa Kristen. Gereja perlu engage ke kampus; mendukung gerakan anak-anak Gereja di kampus. Gereja sudah punya pengalaman hidup dalam keragaman. Mahasiswa perlu diperlengkapi dan didampingi untuk berhadapan dengan ideologi, isme dan budaya yang tidak berbasis pada ke-Indonesia-an. Mahasiswa akan menjadi bagian dari para pejuang keadilan dan penyuara kenabian dari kampus. Gereja dan para mahasiswa harus menangkap kairos ini. Jika tidak dilakukan sekarang, maka sepuluh tahun ke depan kita akan menyaksikan anak-anak kita kalah. Mereka tidak siap masuk ke dalam hari-hari yang lebih jahat lagi.

 

Secara teknis mungkin saja Gereja lokal akan memiliki banyak kendala jika harus terlibat dalam dunia kampus. Pelayanan dalam organisasi Gereja sendiri sering sudah memberikan kesibukan. Di pihak lain, banyaknya Gereja lokal yang ramai-ramai masuk kampus akan memberikan tingkat ketegangan dan persaingan yang tinggi antar Gereja lokal. Dalam kondisi ini, Parachurch merupakan alternatif terbaik untuk melakukan tugas ini. Saat ini, pihak ini sedang berjuang dan bergulat untuk mengerjakan tugas pendampingan, pemuridan dan mentoring kepada para mahasiswa Kristen. Diperlukan kolaborasi Gereja, Parachurch dan dan Mahasiswa Kristen untuk menangkap dan memanfaatkan kairos ini.

 

Momentum memperingati kebangkitan nasional ini harus menginspirasi setiap insan Tuhan di tanah air ini menangkap kairos masing-masing. Maju bergerak bersama sesuai dengan peran masing-masing. Kebangitan nasional, adalah kebangkitan pemuda Kristen, kebangkitan mahasiswa Kristen, kebangkitan Gereja Tuhan, kebangkitan Parachurch di tengah bumi pertiwi ini.( * Penulis melayani di Perkantas Jember sebagai Staf Alumni)

 

  • Ilustrasi gambar diambil dari Web https://www.jakartanotebook.com/blog/lagu-untuk-hari-kebangkitan-nasional-2020/

Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES