more"/> more">
Menjiwai Pancasila dengan Belas Kasihan
Last Updated : Jun 11, 2021  |  Created by : Administrator  |  279 views

Sebuah Refleksi dalam Rangka  Kesaktian Pancasila

Oleh Krisna Yogi. P,ST

 

1 Juni 1945, di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno mengutarakan pemikiran dan gagasannya mengenai falsafah dasar negara Republik Indonesia (RI), yang disebutnya sebagai Pancasila. Rumusan awal Pancasila menurut Bung Karno adalah: 1. Kebangsaan Indonesia; 2. Internasionalisme, atau peri-kemanusiaan; 3. Mufakat atau demokrasi; 4. Kesejahteraan sosial; 5. Ketuhanan. Pidato menggelora yang disampaikan Bung Karno tanpa teks itu berhasil meredakan ketegangan antara golongan Muslim yang menginginkan bentuk negara Islam, dengan golongan kebangsaan yang menginginkan bentuk negara sekuler. Pada akhirnya dicapailah kesepakatan bahwa bentuk negara Indonesia adalah negara Pancasila. Peristiwa bersejarah inilah yang pada 2016 oleh Presiden Jokowi ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila.

Peristiwa historis dalam sejarah Pancasila berikutnya terjadi ketika panitia kecil, yang berjumlah sembilan orang (karenanya disebut Panitia Sembilan), selesai merumuskan rancangan pembukaan UUD 1945 pada tanggal 22 Juni 1945. Pada rancangan yang dinamai “Piagam Jakarta” oleh M. Yamin itu, Pancasila dalam bentuk yang kita kenal sekarang dicantumkan pada alinea keempat dengan sila pertama berbunyi: “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya.” Sehari sebelum disahkannya UUD 1945 pada 18 Agustus 1945, perwakilan Protestan dan Katolik menjumpai Bung Hatta untuk menyatakan keberatan atas kalimat “dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya.” Bung Hatta kemudian mengumpulkan tokoh-tokoh golongan Islam untuk membicarakan permasalahan itu, dan mereka mencapai mufakat untuk mengganti tujuh kata tersebut menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa.”

Kesepakatan monumental ini patut disyukuri karena memungkinkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap utuh dan terwujud hingga hari ini. Akan tetapi, sementara mengakomodasi keyakinan Islam dan Kristen, paradigma monoteistik yang dominan dalam “Ketuhanan YME” telah menjadi dasar bagi tindakan negara untuk mendiskriminasi banyak golongan lainnya. Agama Hindu Bali dan Budha baru diterima sebagai agama yang dilayani negara, setelah dapat menunjukkan konsep ketuhanan yang monoteistik dalam ajaran mereka. Bagi penganut agama leluhur, setelah melewati pergulatan panjang berhadapan dengan eksklusi dan diskriminasi, pengakuan itu baru datang setelah 65 tahun kemerdekaan Indonesia. Dan mungkin tidak akan pernah ada ruang pengakuan bagi keyakinan non-teistik dalam lingkup negara dimana Ketuhanan YME menjadi norma fundamentalnya. Bagaimana sebagai seorang Kristen, yang sekaligus menjadi warga negara Indonesia, merespons persoalan ini?

Dalam konteks Perjanjian Lama, Sabat, bersama dengan sembilan hukum lainnya, adalah norma fundamental bagi kehidupan umat Tuhan. Dalam tradisi agama Yahudi, kekudusan hari Sabat dilindungi dengan begitu banyak peraturan turunan yang rumit dan kaku. Akibatnya, hari Sabat yang semestinya menjadi hari istirahat untuk merayakan rahmat Allah dengan penuh sukacita, berubah menjadi beban berat dan mengancam. Yesus mengembalikan makna Sabat sebagai perayaan kehidupan itu.

Pada suatu hari Sabat, Yesus pergi mengajar di suatu rumah ibadat. Ada seorang yang tangan kanannya lumpuh turut mendengarkan pengajaran-Nya. Yesus menyembuhkan orang itu di hadapan jemaat yang hadir. Dalam kacamata ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tindakan Yesus itu jelas melanggar kekudusan hari Sabat. Menanggapi penilaian tersebut, Yesus berkata: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Kali lain Yesus berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Demonstrasi belas kasihan Allah melalui tindakan Yesus, yang menyembuhkan orang di hari Sabat, dinilai tidak menghormati Allah oleh kuasa agama pada waktu itu. Namun, yang disembuhkanNya “memuliakan Allah… dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.”

Kisah di atas mengemukakan terjadinya kontestasi dalam interpretasi dan implementasi Sabat dalam mengatur kehidupan umat Tuhan. Yesus menantang kemapanan wacana atas Sabat dalam tradisi agama Yahudi, dengan memberikan wacana baru yang mengkaitkan penghormatan pada Allah melalui pengudusan hari Sabat dengan kesejahteraan dan keselamatan manusia. Yesus menunjukkan bahwa belas kasihan adalah ekspresi terbaik untuk menguduskan Sabat, dan dengan demikian menghadirkan sukacita bagi manusia dan kemuliaan bagi Allah.

Paradigma belas kasihan inilah yang kiranya digunakan umat Kristiani masa kini untuk menjiwai Pancasila. Pancasila telah menjadi berkat besar bagi Indonesia, tetapi juga telah digunakan oleh kekuasaan untuk membatasi hak sipil dan politik banyak kelompok marjinal. Kekristenan dapat memberikan wacana baru atas Pancasila dan mendemonstrasikan bagaimana penghormatan kepada Tuhan dapat menginspirasi upaya pembelaan atas hak-hak warga negara yang termarjinalkan.  Hal ini dilakukan demi terwujudnya kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, apapun agama, keyakinan, orientasi gender, ras, dan kelas ekonominya. Tentunya ini membutuhkan refleksi dan kesediaan memikirkan ulang pandangan yang telah mapan terhadap Pancasila, namun ternyata mendiskriminasi. Misalnya dicontohkan oleh seorang filsuf Katolik Indonesia, Romo Nicolaus Driyarkara. Dalam buku Pancasila dan Religi, Driyarkara menyatakan bahwa Pancasila pada esensinya merupakan ekasila yakni cinta kasih: kepada Tuhan dan sesama. Ia juga menyatakan bahwa “masing-masing religi bebas, karena tidak diatur negara, tidak bisa dipaksakan jalannya. Religi bukan (bagian) karya me-Negara, negara tidak berhak mengatur religi.” Melalui upaya-upaya memaknai ulang Pancasila seperti ini, kiranya mereka yang kemudian mengalami pembelaan dan pembebasan dari peminggiran oleh negara, bisa merasakan sukacita dan akhirnya turut memuliakan Bapa yang di surga.( *Penulis melayani di Pelayanan Siswa Malang)

 

Ilustrasi gambar diambil dari https://www.officeholidays.com/holidays/indonesia/pancasila-day


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES