more"/> more">
Psychology Corner - Mendampingi Anak Bertumbuh Mengenal Diri dan Bangsa
Last Updated : Jun 25, 2021  |  Created by : Administrator  |  157 views

Oleh Marisa Ria Filnanti, S.Psi

Mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Orang tua terus belajar bagaimana menemukan cara yang efektif dalam mendampingi anak dalam proses tumbuh kembang. Setiap pola asuh tiap keluarga tidaklah sama karena pasti ada perbedaan perlakuan orangtua dan cara mendidik anak dalam keluarga. Mendidik dan mendampingi anak belajar adalah proses seumur hidup yang tidak bisa dilepaskan dari peran orangtua, karena sebenarnya Pendidikan yang paling dasar adalah dari rumah. Kesepakatan dari kedua orangtua dalam mendidik anak sangat diperlukan  supaya tidak terjadi kebingungan dari anak dengan pola pengasuhan di rumah atau anak merasa di perhatikan atau disayang dari salah satu figur orang tua. Selain itu kepedulian sosial atau minat sosial pada anak dapat berkembang dengan baik jika anak mendapatkan contoh pengajaran dari orang tua.

Menurut Adler (Alwisol 2005) hubungan cinta yang baik dari papa dan mama di rumah dapat menolong anak mengembangkan sikap peduli terhadap lingkungan sosialnya. Lebih lanjut Adler juga mengatakan bahwa salah satu tolak ukur kematangan secara psikologis adalah memiliki sikap peduli sosial atau menunjukkan adanya sikap interes pada lingkungan sosialnya, sehingga anak diharapkan nantinya bisa membaur dengan anak-anak atau teman sebaya mereka tanpa melihat suku, ras, agama ataupun latar belakang budayanya.

Orang tua bisa mengajarkan banyak hal kepada anak, mulai dari keteraturan, tanggung jawab, disiplin dan mengajarkan anak bagaimana merespon orang lain dengan baik. Mungkin ada banyak orang tua yang sedikit banyak stres dengan tanggung jawab dalam mendidik anak, hal ini dikarenakan merasa mendidik anak hanyalah tugas dan tanggung jawab ibu atau seorang istri di rumah. kenyataannya tidak. Mendidik anak diperlukan kerjasama yang baik dari orang tua sehingga anak akan mendapatkan figur yang utuh antara peran papa atau mama di rumah. anak juga tahu tentang tugas dan peran papa dan mama dalam konteks budaya.
 

Kesalahan seorang papa yang cenderung otoriter atau mengabaikan anak akan berdampak pada psikologis anak dan secara tidak langsung akan menjadi salah satu faktor penghambat perkembangan interes (kepedulian) sosial pada anak (Adler, Alwisol 2005). Menemani anak dalam bermain, olahraga bersama, bermain peran (roleplay) bisa menjadi alternatif utnuk orang tua, khususnya papa untuk bisa mendampingi tumbuh kembang anak sehingga anak tidak akan kehilangan figur seorang papa di rumah dikarenakan papa yang sibuk bekerja. Dengan bermain peran juga bisa menjadi salah satu cara bisa berkomunikasi dengan anak dan orang tua bisa melihat ketertarikan anak pada satu profesi tertentu yang mungkin saja itu bisa menjadi cita-citanya kelak.

Banyak hal yang anak-anak bisa dapatkan dari orang tua yang juga siap mendidik anak di rumah, karena sekali lagi dari rumah anak belajar bagaimana mengenali identitas dirinya, mengenal lingkungannya (minimal lingkungan dimana dia tinggal) maupun identitas bangsanya. Cinta akan bangsa atau mengenal budaya yang ada di Indonesia bisa diciptakan dari rumah. Hal yang paling penting diketahui anak sebagai salah satu penerus Bangsa Indonesia adalah dia harus mengenali lambang yang menjadi ikon atau ciri utama dari Bangsa Indonesia. Orang tua bisa mulai mengenalkan dari warna bendera Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia Raya,dan gambar Garuda Pancasila yang menjadi identitas Bangsa. Di dalam Garuda Pancasila terdapat 5 Sila dan masing-masing sila memiliki maknanya masing-masing yang menggambarkan Bhineka Tunggal Ika. Mengenal Pancasila sebagai lambang Ideologi Bangsa Indonesia bisa diberikan atau diperkenalkan semenjak anak berusia dini (usia PAUD) tapi dengan porsi yang tidak melupakan proses tumbuh kembang anak. Dan proses pengenalan ini harus dilakukan secara terus menerus agar anak tetap mengingat bahwa ini adalah sesuatu yang penting

            Pergeseran jaman dan makin maraknya dunia teknologi, seolah menggeser nilai-nilai penting Pancasila sebagai ideologi Bangsa. Hal ini bisa terjadi karena orangtua sudah semakin sibuk bekerja karena harus memenuhi kebutuhan keluarga ataupun  ingin anak mendapatkan Pendidikan yang terbaik. Di sekolah anak juga diperkenalkan akan Garuda Pancasila dan segala yang menjadi arti dari atribut Garuda Pancasila, tapi apa yang diajarkan oleh pihak sekolah tidak akan maksimal jika di rumah anak tidak dididik untuk mencintai Bangsanya. Perkembangan anak milenial perlahan-lahan membuat anak jadi terkesan tidak peduli atau merasa ini bukanlah hal yang patut diingat. Itu hanya menjadi sebuah pelajaran yang setelah ujian selesai, selesai juga apa yang harus diingat tentang ideologi / lambang Bangsa Indonesia.

Tips singkat dalam mendampingi anak mengenal bangsanya sendiri:

  1. Ciptakan suasana yang hangat, santai dan menyenangkan supaya anak memahami akan pentingnya nilai-nilai Pancasila.
  2. Jangan memaksa anak berlebihan untuk belajar dan penting untuk bisa mendengarkan saat anak bertanya.
  3. Sesuaikan materi yang diberikan pada anak adalah sesuai dengan usia dan tahapan perkembangannya.
  4. Kreativitas, karena jika hal ini tidak menarik bagi anak. Maka anak tidak akan mau mengikuti pembelajaran yang diberikan.
  5. Kerjasama antara papa dan mama  sangat penting disini jadi akan membuat anak senang ada peran orangtuanya yang menolong serta membuat anak tau bahwa orangtuanya berkomitmen untuk mengakui atau melakukan apa yang dikatakan. Anak perlu “model” yang dia contoh. Dan contoh yang hidup dan nyata adalah orangtuanya dirumah.

Orangtua yang baik adalah orang tua yang terus mendampingi tumbuh kembang anak tanpa membeda-bedakan perlakuan terhadap anak. Berikan waktu yang terbaik (quality time) untuk anak bisa merasakan kehadiran orang tua. Selamat berproses menjadi orang tua yang siap mengantarkan anak-anak menjadi generasi maksimal yang mengharumkan nama Bangsa Indonesia. Tuhan Yesus memberkati.

 

Daftar Pustaka:

Alwisol (2005). Psikologi Kepribadian edisi revisi cetakan ketiga. Malang: UPT. Penerbitan Universitas Muhammadiyah

(* Penulis melayani sebagai Konselor di Griya Pulih Asih)

 

Griya Pulih Asih

Pusat Pemulihan dan Pengembangan Diri”

“Mendampingi Menggapai Potensi Efektif”

Telp.+62 857 9115 2570

Email: griyapulihasih@gmail.com

Web: https://griyapulihasih.com

Ig: griyapulihasih (rumah pemulihan)

You Tube: Griya Pulih Asih

 

Layanan:

Psikotes

  • Bakat-Minat dan Penjurusan
  • Seleksi dan Penempatan Kerja
  • Rekomendasi/Evaluasi dan Pengembangan Karyawan Pelatihan dan Seminar
  • Pelatihan/Seminar Komunikasi, Konseling, Parenting, Kepemimpinan, Self Development, dll.

Konseling dan Intervensi

  • Konseling karir, keluarga, pasutri, relasi, pranikah, dll.
  • Intervensi medikasi, kognitif, perilaku, konsentrasi, verbal-komunikasi, dll.

Child Care Center “Griya Anak”


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES