more"/> more">
Sketsa~Omnibus Soli Deo Gloria Rinto Wardana, SH., MH.,CRA
Last Updated : Jun 25, 2021  |  Created by : Administrator  |  163 views

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12)

 

Kita patut bersyukur Perkantas diberkati dengan banyak buah pelayanan, yakni para alumni yang terus berjuang menghadirkan nilai-nilai kerajaan Allah di dalam profesi maupun pelayanan. Salah satu dari buah pelayanan tersebut adalah Rinto Wardana. Setelah menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Jember, Rinto melanjutkan Pendidikan S2 Ilmu Hukum di Universitas Pancasila, dan saat ini, suami dari Rani Nugraha dan ayah dari seorang putri bernama Macherie ini sedang mempersiapkan ujian terbuka program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Pelita Harapan, Jakarta.


Pengalaman Pemuridan  dan Masa Kecil yang Menginspirasi

Advokat kelahiran Beleraksok, Mentawai, 39 tahun lalu bersyukur pernah terlibat dalam pelayanan mahasiswa di Perkantas Jember. Rinto mengaku mengenal Kristus lebih mendalam melalui kakak-kakak rohaninya di Permaker. Pengalaman pemuridan banyak membawa hal-hal positif yang mengubah mindset saya atas hidup, ujarnya. Terutama ketika saya mengetahui janji Tuhan bahwa segala usaha saya untuk memperoleh hidup kekal itu bukan atas usaha saya tetapi Tuhan telah mengaruniakan hidup kekal kepada saya lewat pengorbanan Kristus. Tanggung jawab saya adalah mengabarkan kabar sukacita kepada siapapun dan dimanapun saya berada. Kedua, penghargaan selama saya hidup dan menjadi orang Kristen, saya hanya menjadi Kristen KTP dan tidak memahami bagaimana kehidupan dalam Kristus itu yang seharusnya. Tetapi sejak di Permaker, saya banyak mendapat pelajaran iman dari teman-teman di sana tentang bagaimana seharusnya hidup kita berdampak bagi sesama, serta bagaimana karakter Kristus dapat dilihat orang yang tidak mengenal-Nya melalui hidup kita.

Kepada tim sketsa, Rinto men-sharing-kan lebih dalam mengapa dia memiliki beban yang besar dalam bidang hukum.

“Sejak dahulu saya paling anti diskriminasi. Pengalaman masa kecil di tanah kelahiran saya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, di mana adanya diskriminasi terhadap agama tertentu sehingga tidak bisa berbaur satu dengan yang lain pada saat saya duduk di bangku sekolah. Akhirnya saya termotivasi untuk ikut berjuang agar tidak terjadi lagi diskriminasi di Republik ini, dengan alasan apapun.  Saya terinspirasi oleh perjuangan Yap Thiam Hien, I Wayan Sudirtha, Teguh Samudera, dan Luhut Pangaribuan. Puji Tuhan, tiga nama yang saya sebut terakhir ini akhirnya menjadi partner saya dalam memperjuangkan dan menjaga Pancasila. Kami tergabung dalam Forum Advokat Pengawal Pancasila yang membubarkan legalitas HTI, dan juga mempertahankan UU Ormas di Mahkamah Konstitusi. Yap Thiam Hien telah meletakkan dasar-dasar profesi advokat sebagai penjaga hidup manusia selama di dunia, agar tidak terjerat urusan hukum. Apa yang dilakukan Yap Thiam Hien selama menjadi advokat adalah perwujudan dari memanusiakan manusia.”

 

Tantangan dan Sukacita

 

Saat ini Rinto bekerja sebagai Advokat, Konsultan Hukum dan Kurator, Firman Tuhan dari Matius 7:12 yang mengatakan,”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” sangat berpengaruh dalam hidupnya. Profesi advokat adalah profesi yang sangat berisiko tinggi, karena ketika kita membuat atau melaporkan seseorang ke pihak kepolisian maka secara otomatis akan menimbulkan friksi dengan orang yang dilaporkan. Bahkan tidak jarang orang yang dilaporkan melakukan kekerasan terhadap yang melaporkannya. Ini banyak sekali terjadi di dunia advokat. Ayat ini menjadi kekuatan untuk maju mengerjakan tanggung jawabnya sebagai advokat.

 

 “Saya berusaha untuk menunjukkan kepada “lawan” saya bahwa yang saya lakukan adalah untuk membela kepentingan hukum orang yang saya bela, dan bukan membela pribadinya atau kelakuannya.  Saya melakukan ini agar tidak terjadi main hakim sendiri yang dilakukan klien saya terhadap orang yang merugikannya. Langkah hukum adalah untuk menyelamatkan 2 pihak agar tidak terlibat dalam perseteruan yang tidak jelas ujungnya. Tindakan saya ini seringkali membuat “lawan” saya mengerti, dan malah sering juga karena sikap saya ini membuat “lawan” justru bisa diajak bicara karena melihat ketulusan saya. “

 

Saya bersukacita bisa membantu klien saya ketika prinsip-prinsip firman Tuhan bisa mereka terima. Seperti kisah seorang Ibu yang memiliki 3 anak, dan 1 anaknya masih dalam kandungan ingin menggugat cerai suaminya menikah lagi dan mengikuti agama istri barunya. Ibu ini mau menggugat cerai suaminya di pengadilan, dan meminta saya untuk membantunya. Lalu saya jawab: “Bu, saya tidak berani mengubah Firman Tuhan yang tertulis di Matius 19:6, “…karena itu apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”  Saya katakan kepada ibu itu: “Dengan Ibu menyuruh saya menggugat suami ibu agar kalian bercerai, maka ibu telah menyuruh saya merubah firman Tuhan ini, dimana yang dipersatukan Allah akhirnya diceraikan pengacara.” Ibu ini yang sejak tadinya menangis tiba-tiba tertawa.

Lalu bertanya, apa yang akan dilakukannya. Saya sampaikan kepada dia agar mendoakan suaminya untuk kembali kepada mereka, dan saya memintanya agar melibatkan hamba Tuhan untuk membantunya berkomunikasi dengan sang suami, serta tetap menunjukkan kasih kepada suaminya. Beberapa tahun kemudian, dimana saya sudah lupa peristiwa ini, suatu sore saya mendapat telepon, ternyata dari Ibu itu. Dia menyampaikan kabar sukacita, suaminya telah kembali kepada dia dan anak-anaknya. Dia melakukan apa yang saya sarankan, yaitu mendoakan suaminya dan meminta bantuan hamba Tuhan. Hamba Tuhan ini akhirnya terus menemui suaminya, dan mengajak suaminya kembali pada istrinya. Saya bersukacita mendengar kabar tsb.

 

 

 

Harapan dan Asa bagi Dunia Hukum di Indonesia

Saya agak pesimis dengan penegakan hukum kita. Aparat penegak hukum telah menjadikan kewenangan yang mereka miliki sebagai alat untuk mencari uang dengan cara pasif. Tanpa mereka meminta, kita sudah dianggap tahu apa yang harus kita lakukan ketika meminta tolong kepada penegak hukum ini (ini sangat berbahaya). Dampaknya apa? Ketika kita “paham” dengan hukum tak tertulis ini, maka urusan kita akan dikawal sampai selesai.

Namun jika tidak, maka kita harus gigit jari dan menempuh jalan berliku penuh onak dan duri, dan tidak jarang berujung pada frustasi bahkan sampai menimbulkan pencari keadilan ini bunuh diri. Sangat miris. Dampak bagi saya adalah ketika saya tidak melakukan langkah sesuai “hukum tak tertulis ini,” klien saya akan dipersulit dan buntutnya, kita dianggap tidak cakap. Penegakan hukum kita tidak membutuhkan kehebatan lawyer dari sudut intelektualitas, tetapi seberapa besar dia memiliki koneksi dengan aparat penegak hukum. Sulit menghilangkan praktik ini karena sudah berurat berakar. Salah satu yang menjadi oase di tengah kemelut penegakan hukum seperti hukum rimba ini, adalah dengan tetap menjaga komitmen diri untuk tidak terjerat dalam praktik ini, serta melakukan pembelaan dan pendampingan klien sesuai jalur benar (legal). Harapan saya kedepan makin  banyak muncul para penegak hukum yang berintegritas dan menjunjung kebenaran.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES