more"/> more">
Menjadi Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego Masa Kini - Sebuah Refleksi dari Daniel 1:1-21
Last Updated : Jun 25, 2021  |  Created by : Administrator  |  181 views

Oleh Nila Kus Rendrawati S.P*)

 

Kisah Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego dimulai pada masa pembuangan awal bangsa Israel  ke Babel. Menurut catatan Wikipedia, pembuangan awal terjadi pada tahun 605 SM, ditahun ke-4 pemerintahan Raja Yoyakim. Selanjutnya, peristiwa yang disebut dengan pembuangan besar pertama tahun 597 SM terjadi pada masa pemerintahan Raja Yoyakhin yang memerintah hanya 3 bulan 10 hari. Dan pembuangan besar kedua terjadi pada tahun 587 SM di masa pemerintahan Raja Zedekia. Kerajaan Israel yang dibangun pada sekitar 1000 tahun sebelum masehi itu pun berakhir sudah, karena serangan yang dilakukan oleh Nebukadnezar raja Babel. Ditandai dengan runtuhnya Yerusalem.

 

Kitab Daniel 1 : 1 – 21 dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi politik seperti tersebut di atas. Bagian ini secara khusus menuliskan mengenai Daniel dan ketiga temannya yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menjadi tawanan perang raja Babel. Namun, mereka punya kualitas yang luarbiasa, sehingga mampu menarik perhatian Raja Nebukadnezar. Mereka adalah orang buangan yang mendapatkan kesempatan untuk dididik dan diberi kedudukan memimpin beberapa wilayah yang ada dalam kekuasaan Babel.  Ada dua pelajaran mengenai kehidupan mereka  yang dapat kita teladani hari ini.  

Pertama, mereka adalah orang-orang muda yang berkualitas tinggi sehingga mendapatkan kepercayaan dari raja Babel. Dalam Daniel 1:4 penulis  menyaksikan bahwa mereka memiliki kualitas baik secara fisik maupun non fisik.  Secara fisik mereka adalah orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, berperawakan baik. Dan secara non fisik mereka adalah anak-anak muda memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan cakap bekerja dalam istana raja. Bahkan, di dalam ayat 20, penulis menuliskan bahwa kecerdasan mereka sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang berilmu di seluruh kerajaan Babel!

 

Meneladani Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, kita perlu membangun diri sehingga dapat menjadi pribadi yang berkualitas. Pribadi yang berani mengembangkan diri sesuai dengan talenta unik yang diberikan Tuhan kepada masing-masing kita, sehingga kita dapat menarik hati orang-orang disekeliling kita, dan menjadi berkat.

 

Hal kedua yang bisa kita teladani dalam diri Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah keberaniannya mempertahankan nilai-nilai kebenaran firman Allah. Ketika raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya (ayat 5), mereka menolak karena tidak ingin menajiskan diri. Mengapa mereka berpikir bahwa santapan raja adalah sesuatu yang bisa menajiskan diri ? paling tidak ada dua alasan menurut Jajang Sukarjo, yaitu:

  1. Ada jenis-jenis daging yang biasa dimakan raja, seperti misalnya babi, kuda dan beberapa jenis lain yang bagi orang Yahudi adalah binatang “haram”. Selain itu orang Babel juga makan darah segar binatang yang dicurahkan diatas daging sebelum dimasak. Dan ini juga dilarang keras dalam ketentuan hukum Taurat (Imamat 3 : 17; Imamat 17 : 10 – 14)
  2. Ada kemungkinan, makanan dan minuman raja dipersembahkan terlebih dahulu kepada dewa Babel. Jadi lebih baik mengantisipasi kemungkinan ini.

 

Dua hal di atas memberi mereka alasan kuat untuk menolak makanan raja. Lalu mereka makan apa? Mereka memilih makanan yang mungkin tidak enak secara lidah, tetapi sehat bagi tubuh, yaitu sayur dan air putih.  Sungguh tindakan berani bukan? Apalagi jika ditambah informasi bahwa menolak atas apa yang telah ditetapkan raja juga berarti melawan sistem yang dibangun oleh negara Babel. Jadi, penolakan ini adalah  tindakan yang beresiko. Alasannya jelas, karena memilih untuk menaati firman Tuhan.

 Sanggupkah kita melakukan hal seperti ini? Memilih yang sepertinya tidak enak, tetapi menyehatkan dan membangun, yaitu menaati firman Tuhan. Memang tidak mudah, karena kalaupun mencoba mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang kita anut, pilihannya bisa : tergilas, difitnah, tidak naik jabatan, dikucilkan bahkan dikeluarkan dari pekerjaan. Sangat beresiko. Namun, belajar dari kisah ini, apapun resikonya kita harus menaati firman Tuhan, karena itulah hal terbaik dan terindah.

 

Pada akhirnya, kepandaian, hikmat, ketrampilan, kecerdasan, cakap bekerja dan fisik yang baik tidak cukup tanpa disertai dengan rasa takut akan Tuhan dan hidup di dalam ketaatan firman-Nya.  Kita hanya akan menjadi “robot jenius tanpa jiwa”.  Sebaliknya, hidup dalam Kristus tanpa semangat untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri menjadikan kita pribadi yang tidak  bertanggungjawab. Sulit membawa dampak perubahan dan “kurang rasa asinnya”.  Semoga kita tidak lelah untuk terus berjuang meningkatkan kualitas diri sekaligus menjadi murid-murid Tuhan yang radikal, hidup dalam kebenaran firman-Nya,  bagi kemuliaan nama-Nya, sama seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Tuhan Memberkati .

(* Penulis adalah alumni Perkantas Jember dan melayani sebagai Badan Pengurus Ranting)

 

Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/photos/ip9nBZPnqX8


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES