more"/> more">
TIDAK ADA TEROBOSAN, TANPA KEMITRAAN
Last Updated : Jul 23, 2021  |  Created by : Administrator  |  71 views

Oleh Milhan K. Santoso,S.Psi *)

 

Sebuah badai yang dahsyat, COVID-19 telah membuat dunia terguncang. Kita tidak akan pernah menjumpai dunia yang sama lagi ketika melihat bagaimana pandemi ini menghantam tanpa membedakan orang kaya atau miskin, tua atau bayi dan Kristen atau non Kristen. Seluruh orang di dunia menangis dengan air mata yang sama, hati menjadi hancur dengan cara yang sama, dan kekhawatiran serta ketakutan yang nyata dari setiap umat manusia adalah sama. Pertanyaan “berapa lama lagi?” dan “apa yang akan terjadi selanjutnya?” menjadi pertanyaan yang tidak bisa dijawab siapa pun. Ketika kita menghadapi permasalahan dunia yang semakin parah dan pelik dalam tingkatan global, belum lagi masalah hati manusia yang terpisah dari Sang Penciptanya selama berabad-abad. Dengan mencermati semua hal ini, maka sangatlah tidak mungkin sebuah lembaga pelayanan atau sebuah gereja atau sebuah institusi sanggup menghadapinya, lalu apakah kita akan berputus asa dan hanya duduk menunggu Kristus datang kembali?

 

Kehadiran masalah yang besar, sebenarnya dapat menjadi sebuah titik tolak bagi lahirnya suatu kesadaran bahwa kita tidak sanggup untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut dengan sumber daya, kekuatan, dan keahlian sendiri. Saat kita tidak punya daya untuk menuntaskan masalah yang begitu besar dengan energi sendiri, di sanalah kemitraan menjadi kuncinya. Kemitraan selalu dimulai dengan visi yang besar dalam menanggapi masalah yang terlihat mustahil. Visi yang besar menjadi penggerak yang kuat ketika setiap individu atau organisasi pelayanan tidak dapat mewujudkannya karena sudah pasti hal itu melebihi kapasitas pribadi terlepas dari seberapa kekuatan finansial, strategi yang dimiliki dan banyaknya personil yang dimiliki. Visi yang besar menjadi sebuah sasaran akhir bersama dengan memaksimalkan setiap panggilan dan keunikan khusus dari tiap individu maupun organisasi, yang selama ini mungkin berfokus ke target masing-masing tetapi kemitraan menolong untuk mengarahkan kepada fokus yang lebih besar dan capaian yang lebih luas bagi kepentingan Kerajaan Allah. Kita sudah memahami secara jelas bahwa setiap kita adalah hamba yang dipanggil untuk melayani Sang Tuan juga untuk terus menyalibkan diri kita sendiri setiap waktu. Para pelayan tidak memiliki agendanya sendiri, tetapi agenda dari Sang Tuan menjadi tujuan utama. Ketika kita memahami bagian ini, kita akan ditolong untuk bisa melihat agenda yang lebih besar yaitu perluasan Kerajaan Allah di atas segala kepentingan individu atau organisasi pelayanan kita.

 

Kolaborasi antara tubuh Kristus ini juga begitu penting bukan hanya karena sarana paling efektif untuk menyelesaikan masalah yang besar, tetapi juga karena hal itu mencerminkan sifat dari Allah Trinitas dan kerinduan Allah agar persekutuan kasih di antara umat-Nya dapat terwujud. Setiap kita dianugerahi oleh Roh Kudus berbagai karunia, peran, dan fungsi yang berbeda-beda dalam pelayanan untuk melengkapi satu dengan yang lain, itulah maksud dari Allah merancang umat-Nya secara unik. Yesus juga mendoakan para muridnya agar mereka menjadi satu sama seperti Dia dan Bapa adalah satu dengan tujuan agar dunia tahu dan percaya kepada-Nya. Alkitab menyatakan secara jelas bahwa keinginan hati Allah adalah kesatuan relasi dalam keberagaman fungsi dari masing-masing tubuh Kristus. Tuhan tidak menginginkan keseragaman dan perpecahan, tetapi bagaimana setiap bagian tubuh Kristus bisa bersatu dalam karunia yang beragam. Inilah yang dinamakan dengan sebuah sinergi, terjadinya kesatuan tanpa menghilangkan ciri khas keberagaman dari masing-masing individu untuk menggenapkan tujuan Allah di dunia. Ada atau tidak adanya krisis, Allah telah merancang umat-Nya untuk bergerak dalam kesatuan bersama dengan memanfaatkan setiap karunia yang dimiliki, terlebih lagi di saat krisis melanda. Kesatuan tubuh Kristus menjadi nilai mutlak dengan segala keterbatasan yang ada karena tujuan global Allah masih sama untuk membawa segala suku bangsa datang kepada-Nya.

 

Sepanjang sejarah kegerakan misi dunia, kemitraan telah menunjukkan perannya dalam memajukan Injil Kerajaan Allah. Tuhan telah membawa angin Injil sampai ke seluruh dunia dalam 1 abad ini yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga menghasilkan pertumbuhan yang berlipat ganda di antara tempat-tempat yang dulu sangat susah untuk dijangkau Injil. Semua itu tidak akan terjadi ketika setiap individu dan organisasi merasa lebih baik dari yang lainnya, maka yang menjadi kunci bagi terjadinya kemitraan yang memajukan Injil adalah: "hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri" (Flp. 2:3). Tidak ada satu orang pun, gereja atau pelayanan yang memiliki semua perspektif, strategi, atau sumber daya yang diperlukan untuk menuntaskan Amanat Agung di masa yang sulit seperti ini. Firman Tuhan ini menantang dengan menyatakan apakah kita mau untuk mengutamakan yang lain daripada diri kita sendiri meskipun keterbatasan ada di depan pintu kita. Saat kita saling berbagi dan bekerja sama bersama dalam penyertaan Allah, maka tidak ada satu kesulitan pun yang akan dapat menghalangi dan Allah akan memakai kita untuk mencapai hal-hal yang lebih besar dari yang pernah kita pikirkan. (* Penulis melayani sebagai Pimpinan Cabang Perkantas Jatim)

 

(* Ilustrasi gambar diambil di https://www.lawabsolute.com


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES