more"/> more">
"Keesaan Gereja dan Pelayanan Mahasiswa" (Integrasi Pelayanan Bersama demi terwujudnya keesaan gereja dan Hadirnya Pemimpin Muda)
Last Updated : Oct 09, 2021  |  Created by : Administrator  |  15 views

Anggriadi Ricky. H. M.Div*)

 

Pendahuluan

 

Isu keesaan gereja yang beberapa waktu lalu digadang-gadang dalam seminar atau khotbah Minggu, saat ini nampaknya sudah mulai meredup. Pertanyaannya, apakah keesaan itu sudah tercapai, ataukah gereja atau umat Kristen sudah tiba pada titik jenuh terhadap perbincangan isu tersebut? Faktanya, saat ini gereja nampaknya bukan makin bersatu, tetapi malah banyak perpecahan dan saling kritik seiring memanfaatkan media sosial.

 

Masa pandemi ini sebenarnya merupakan kesempatan untuk membangun keesaan gereja: gerakan yang tidak dibatasi oleh tembok, sistem atau struktur gereja yang membatasi. Di masa pandemi seseorang dapat beribadah di gereja yang bukan gereja asalnya. Tidak hanya satu denominasi gereja yang dapat dihadiri, dalam waktu yang sama seseorang bisa hadir di tiga gereja sekaligus, baik secara bergantian ataupun bersamaan. Namun apakah ibadah online saat ini dapat menyatukan gereja? Bagaimana pelayanan mahasiswa berperan dalam mewujudkan keesaan gereja?

 

Gereja Mula-mula dan Masa Kini

Sejak awal gereja sudah menghadapi masalah perpecahan, baik antara orang Yahudi dan non Yahudi, maupun antara kelompok dalam satu jemaat. Nasihat Paulus kepada jemaat Korintus mengenai sikap saling mengunggulkan satu kelompok terhadap kelompok yang lain, merupakan satu contoh tentang hal ini (1Kor. 1). Gereja yang dibangun di atas dasar iman percaya kepada Kristus, dengan tugas mengabarkan Injil, sudah kehilangan makna karena dipisahkan oleh aspek-aspek non-esensial. Media sosial seringkali menambah suasana perpecahan, karena perbedaan-perbedaan disampaikan secara gamblang, yang makin mendorong perpecahan. Alih-alih Injil yang diperdengarkan, tuduhan keburukan-keburukan pihak lain yang lebih keras disuarakan.

 

Berbicara tentang gereja yang esa bukan berarti meniadakan denominasi, dan membangun satu denominasi dan organisasi tunggal. Beragamnya denominasi merupakan kekayaan kekristenan yang mewujudkan keesaan gereja, karena ikatan yang didasarkan pada Kristus sebagai Kepala Gereja. Gereja yang disatukan oleh darah Kristus, dan dipanggil menjadi satu dengan Bapa (Yoh. 17) bukanlah gereja yang mengalami peleburan budaya dan organisasi. Keesaan gereja lebih berkaitan dengan kesatuan semangat, jiwa, dan roh yang saling mendukung, melengkapi, dan mengembangkan karunia-karunia yang Tuhan berikan, sebagaimana yang diuraikan Rasul Paulus dalam Korintus 12. Keesaan gereja juga diwujudkan melalui misi bersama untuk hadirnya Kerajaan Allah di dalam dunia.

 

Peran Pelayanan Mahasiswa terhadap Keesaan Gereja

 

Pelayanan mahasiswa adalah miniatur “gereja” dengan satu tujuan dan misi. Ia juga menyatukan umat (mahasiswa) dari berbagai latar belakang suku, bahasa, budaya, dan organisasi gereja, yang kemudian mengerjakan visi bersama. Pelayanan mahasiswa dalam wadah Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) mengembangkan sebuah nilai: mahasiswa dari beragam bendera gereja bersepakat untuk bersatu dan bersekutu tanpa saling tuding, dengan satu visi menjadi berkat bagi gereja, bangsa dan dunia.

 

“Apakah pelayanan mahasiswa benar-benar bisa menjadi berkat bagi gereja Tuhan?” Bukankah visi dari pelayanan mahasiswa adalah menghasilkan alumni yang menjadi berkat bagi gereja?

 

Pembinaan di PMK dapat mempercepat proses hadirnya pemimpin-pemimpin gereja yang lebih siap, tanggap dan matang dalam karakter dan pemikirannya. Selain itu, pelayanan mahasiswa juga mempersiapkan mahasiswa untuk melihat kesatuan dalam keberagaman gereja. PMK tidak boleh terlepas dari gereja, karena pelayanan ini hadir untuk menyiapkan mahasiswa sehingga siap diutus terlibat kembali ke dalam pelayanan pembangunan gereja.

 

Di sisi lain gereja perlu melihat pentingnya pelayanan mahasiswa. Keterbukaan gereja bagi pelayanan mahasiswa harusnya mendorong kerjasama dengan lembaga pelayanan mahasiswa agar proses pembinaan makin efektif. Pelayanan mahasiswa adalah mitra bagi gereja, karena itu integrasi pembinaan bersama menjadi sebuah model yang perlu dikembangkan. Duduk bersama memperbincangkan bagaimana mempersiapkan pemimpin-pemimpin gereja di masa depan, dapat dimulai demi pelayanan yang lebih efektif.

 

Menghadirkan Keesaan melalui kerjasama

 

Melihat kepentingan yang besar ini, maka gereja dan pelayanan mahasiswa perlu dengan sengaja bertemu dan berbincang mengenai kerjasama yang dapat dilakukan. Berikut mungkin beberapa model pelayanan yang bisa dikerjakan bersama:

 

1. Pemuridan Bersama

 

Pemuridan bukan sesuatu yang asing di dunia pelayanan, baik di gereja ataupun di kalangan pelayanan mahasiswa. Pemuridan yang ideal dari tiap-tiap ranah pelayanan yang dikerjakan perlu terus dikembangkan. Gereja perlu mempercayakan pemudanya (yang mahasiswa) untuk dimuridkan dalam konteks kaum intelektual, untuk mempersiapkan mereka mencapai visi kepemimpinan. Gereja juga perlu “merelakan” pemudanya untuk waktu sesaat dibina dalam konteksnya (sebagai mahasiswa), sehingga dapat berinteraksi dalam komunitas intelektual di kampus. Karena itu pelayanan mahasiswa harus berbenah untuk benar-benar mengerjakan gerak pemuridan yang sangat khusus, tanpa menduplikasi aktifitas gereja.

 

2. Pelayanan Sosial Bersama

 

Salah satu sarana efektif untuk bersatu dapat melalui gerakan sosial bersama seperti mengadakan bantuan sosial atau sejenisnya. Nah pelayanan mahasiswa bisa bekerja sama dengan pelayanan kaum muda gereja untuk mengadakan kegiatan sosial.  Selain menjadi berkat, kegiatan sosial bersama dapat meningkatkan kebersamaan dan saling kenal antar gereja. Dalam kegiatan sosial seperti ini tidak ada kepentingan bendera masing-masing selain kepentingan Kerajaan Allah. Melalui kepedulian sosial bersama tercipta pembelajaran bersama untuk mempersiapkan generasi muda gereja terlibat dalam transformasi bangsa.

 

3. Pelayanan Misi Bersama

 

Pelayanan Misi banyak terabaikan baik oleh pelayanan mahasiswa ataupun pelayanan gereja. Mobilisasi misi perlu dilakukan kepada pemuda (mahasiswa) untuk mengarahkan hati dan hidup mereka agar siap dipakai Tuhan dalam Misi-Nya. Misi Allah harus dilihat secara luas termasuk implementasi ilmu dalam berbagai profesi untuk mentranformasi sebuah kelompok masyarakat, sehingga kasih Kristus dapat dialami oleh masyarakat luas.

(*Penulis saat ini melayani sebagai Sekjen Perkantas Indonesia)

 

(*Ilustrasi gambar di ambil dari https://unsplash.com/photos/ESvbxu9R-MA


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES