more"/> more">
Refleksi : Emaus: Dari Hilang Harap kepada Harapan
Last Updated : Apr 21, 2022  |  Created by : Administrator  |  261 views

Inspirasi dari lukisan The Supper at Emmaus karya Rembrandt

Oleh Ria Agustina,S.Kom

 

 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar,  ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci  kepada kita?" 

Lukas 24: 31-32

 

Bermula dari perjalanan kedua orang murid menuju Emaus, saat mereka sedang dilingkupi perasaan kecewa, sedih dan bingung karena kehilangan guru yang mereka kasihi. Perjalanan tersebut menjadi tidak terasa membosankan, sebab ada “orang asing” yang berinisiatif menemani mereka dengan percakapan yang penuh kesan. Dalam percakapan tersebut mereka banyak berdiskusi tentang segala hal yang terjadi (ay. 19-24), dan beberapa kali “orang asing” itu meluruskan tentang kesimpang-siuran berita dengan menjelaskan apa yang dinyatakan kitab suci tentang Mesias (ay. 25-28).

 

Hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam, tempat yang mereka tuju telah sampai. “orang asing” itu masih hendak melanjutkan perjalanan-Nya, namun kedua murid meminta “orang asing” itu untuk tinggal bermalam bersama mereka, karena mereka tertarik dan dipenuhi semangat ketika mendengar “orang asing” itu (ay.29).

 

Kedua orang murid mengajak “orang asing” itu untuk makan bersama, dan tiba-tiba sesuatu yang tak terbayangkan terjadi: “orang asing” ini nampak seperti seseorang yang mereka kenal dekat dan kasihi. Mereka baru sadar, dialah Yesus yang mereka percakapkan. Namun Yesus, “Sang orang asing” itu telah pergi dari mereka. 

Bisa membayangkan perasaan mereka?

Gejolak batin yang tak terlihat inilah yang dilukiskan Rembrandt dalam lukisan The Supper at Emaus (Perjamuan di Emaus). Diperkirakan lukisan ini di buat pada tahun 1648, setelah diperjual belikan oleh beberapa kolektor, akhirnya lukisan ini disimpan di Museum Louvre, sebuah Museum seni terbesar dan bersejarah di Paris.

Rembrandt melukis dengan memberikan kontras yang cukup jelas antara bayangan dan pantulan cahaya dengan gradasi yang halus, sekaligus memberikan efek dramatis kepada penikmat lukisannya. Wajah Yesus dilukis dengan cara yang sederhana, perbedaan dalam lukisan ini adalah antusias kedua orang murid saat melakukan percakapan dengan Yesus yang tidak mereka kenal.

Di sepanjang perjalanan mereka tidak bisa mengenali Yesus (ay. 16).  Mengapa?  Lukas menceritakan bahwa ada yang menyelubungi mata mereka. Bisa jadi itu ketakutan, keputusasaan, mimpi yang pudar karena Guru atau orang yang mereka kasihi diperlakukan dengan kejam hingga mati. Namun mata mereka tiba tiba terbelalak di meja makan, ketika  Yesus memberkati makanan itu dan memberikannya kepada mereka (ay. 31). Yang menjadi pertanyaannya mengapa pada saat itu mata mereka baru terbelalak?  Calvin menulis” hence  we learn how great is the weaknessof all our senses, since neither eyes nor earsdischarge their office unless so far as power is incessantly communicate to them from heaven” (karena itu kita belajar betapa besar kelemahan dari pancaindera kita, karena baik mata maupun telinga tidak melaksanakan fungsi mereka kecuali kuasa diberikan terus menerus kepada mereka dari surga).

Dari hal ini Calvin menegaskan  bahwa seseorang mengenal atau tidak mengenal  Yesus bukan tergantung pada dirinya sendiri, tetapi tergantung kehendak Allah.  Pengenalan kembali para murid di meja makan terhadap Yesus terjadi karena Dia hadir dan menyatakan diri-Nya. Mereka baru menyadari bahwa sejak dalam perjalanan hingga meja makan tadi hati mereka berkobar-kobar (ay.32). Perjumpaan dengan Yesus mengubahkan mereka, meluluhkan semua penghalang mereka untuk mengenali siapa Dia dan berbalik memberitakan kebangkitan-Nya (ay. 35).

Banyak orang di sekitar kita yang sulit melihat mengenali Yesus saat ini dalam hidup mereka. Kehilangan harapan karena banyak pergumulan baik dari dalam diri maupun lingkungan mereka. Sejatinya perjalanan menuju Emaus menjadi pengingat bahwa panggilan kita juga menjumpai mereka dan hadir. Melalui percakapan dan kasih kita, kita bisa membawa dan mengarahkan hati pikiran mereka kepada Kristus yang sudah bangkit itu. Memberi harapan kepada yang sudah kehilangan harapan.

 

(*Pena Murid Easter Project in Christian Heritage Arts~Penulis melayani di Literatur Perkantas Jatim)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES