more"/> more">
Titik Penentuan: Hilang atau Menemukan Pengharapan (Kejadian 37:12-36)
Last Updated : May 13, 2022  |  Created by : Administrator  |  254 views

Oleh: Francisca Riswandani, M.Div

 

Jika semua orang bercerita, berapa milyar penderitaan yang terjadi dalam sehari? Kehilangan, kerugian, sakit-penyakit, kecelakaan, penolakan, pelecehan, tekanan, trauma, kematian dan sederet kisah pilu lainnya, ada di mana-mana. Dalam rentang usia berapapun, dalam bidang apapun, penderitaan menjelma dalam segala bentuknya yang tak terhitung.

Tidak jarang, saat menderita orang menjadi lumpuh secara mental dan spiritual. Derita membutakan mata batinnya untuk bisa melihat ada pengharapan dan kebaikan dibalik penderitaan. Mereka berpikir bahwa menderita itu adalah akhir segalanya—titik tak berpengharapan!

Kejadian 37 adalah narasi penderitaan Yusuf yang dalam. Ia terduduk di dasar sebuah sumur di Dotan (ay. 24). Baru saja ia menempuh perjalanan sekitar 100 km. (25 km. dari Hebron ke Sikhem, dan 75 km. dari Sikhem ke Dotan) untuk memastikan apakah saudara-saudaranya baik-baik saja. Namun, justru di dalam upaya kasihnya Yusuf menerima perlakukan kejam. Ia dilucuti dan dilemparkan ke dalam sumur kering (ay. 12-18), lalu dijual sebagai budak seharga dua puluh syikal perak (2,28 kg. perak; ay. 28), harga sebuah barang, bukan seorang manusia.

Apa yang kita pikirkan jika berada di tempat Yusuf, ketika ia diseret 847 km dari Dotan ke Mesir, 25 hari perjalanan darat dengan tangan terikat, baju lusuh, dan makan-minum seadanya? Barangkali kita pikir kehidupan Yusuf sudah tamat. Apalagi yang bisa diharapkan, dia tidak lagi punya hak atas hidunya karena berada dalam kuasa-kehendak tuannya. Ia kehilangan segalanya, perlindungan Yakub, signifikansi anak terkasih, kelimpahan harta orangtua dan kebebasan. Penderitaannya terasa lebih berat, juga bagi siapapun ketika mendadak merosot ke tempat yang tidak nyaman.

Pertanyaan-pertanyaan fatalis sangat mungkin muncul di benak Yusuf: Apa salahku hingga saudara-saudaraku begitu tega kepadaku? Seandainya saja ayah tidak menyuruhku ke Sikhem, semua ini tidak akan terjadi. Mengapa ayah tidak menyuruh salah satu pegawainya saja yang pergi, bukan aku? Di manakah Tuhan ketika semua ini terjadi? Bukankah Tuhan berdaulat, Mahatahu dan Mahakuasa dapat menghentikan semua tindakan jahat itu? Tidakkah Ia mampu mencegah datangnya derita? Deraan rasa sakit, fisik, hati, mental, bahkan spiritual bisa melumpuhkan pengharapannya.

Kepiluan yang tidak kalah besar juga terjadi pada Yakub di Hebron, ia menyimpulkan anak terkasihnya itu sudah mati. Mengapa derita datang bertubi-tubi pada Yakub, apa salah dia? Mengapa bukan istri atau anak-anaknya yang lain, mereka yang menempati nomor dua atau tiga di hatinya? Di mana Allah, di mana putra-putra gagahnya, mengapa mereka tidak menolongnya? Bisa jadi ia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Di sini, kisah Yakub diakhiri dengan kepiluan, “Yakub tidak mau dihiburkan sampai berhari-hari lamanya” (ay. 35). Penderitaan sanggup menghanyutkan orang dalam ratapan kekecewaan, kepedihan, kebencian, dan kepahitan jika hanya fokus pada penderitaannya semata.

Narasi penderitaan Yusuf diakhiri dengan sebuah kalimat pendek yang nampak memiliki kelanjutan, “Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja” (ay. 36). Benar saja, dalam terang pasal 39 penderitaan Yusuf berubah menjadi narasi sukacita karena ada penyertaan Allah. Apa saja yang diperbuatnya berhasil sehingga mendapat kepercayaan besar dari Potifar.

Allah rupanya tidak duduk diam jauh di atas sana. Namun, Dia hadir dalam seluruh peristiwa Yusuf. Ia mengijinkan hal-hal buruk terjadi karena Ia sudah menyiapkan rencana berikutnya. Demikian pula ketika kita melihat narasi penderitaan ini masih berlanjut dalam naik-turunnya perjalanan Yusuf, tetapi penderitaan justru menempanya menjadi pribadi berkualitas, siap memasuki konteks hidup seperti apapun, baik posisi maupun kondisi.

Penderitaan menjadi titik penentuan untuk menemukan pengharapan dimana Allah menyatakan rencana-Nya. Tuhan membentuk kita dengan mengijinkan hidup yang tak mudah karena kedewasaan perlu ditempa dalam kesulitan. Kesebelas saudara Yusuf hidup nyaman di Hebron, tetapi tidak mengalami pengalaman, pembentukan, dan kemuliaan seperti Yusuf melalui penderitaannya.

Menemukan pengharapan dalam penderitaan pertama-tama memerlukan iman yang meyakini bahwa penderitaan yang diijinkan Allah ada dalam penyertaan-Nya. Penyertaan Allah itulah yang mendatangkan kebaikan bahkan kemuliaan. Kedua, dalam keterbatas manusia kita tentu boleh bertanya kepada Allah, tapi bertanyalah dengan jiwa yang terbuka. Seluruh panca-indra kita akan menjadi sarana terbaik untuk menangkap kehendak dan kehadiran Allah, serta menerima kuasa dan kekuatan dari Allah dalam menjalani penderitaan. Bahkan jika penderitaan berakhir pada kematian Ia akan menyediakan yang terbaik dalam keabadian. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang kekal

Ketiga, mintalah apa yang ingin Allah lakukan kepada saudara. Allah dalam diri Yesus Kristus tidak menghindari penderitaan bahkan memilih penderitaan sejak mula-Nya demi pemulihan relasi manusia dengan Allah. Allah yang demikian adalah yang sangat memahami dan sanggup menyelesaikan seluruh derita Anda. Terakhir, lanjutkanlah perjalanan iman melewati penderitaan dalam usaha terbaik Anda.  Mereka yang berhenti akan kehilangan pengharapan. Mereka yang terus berjalan akan menemukan kekayaan anugerah Allah dan memahami ada kebaikan serta kemuliaan di dalam penderitaan.(* Penulis melayani Pelayanan Alumni Perkantas Malang)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES