more"/> more">
REFLEKSI - The Character of God’s Workman (Karakter Pekerja Allah)
Last Updated : Jun 03, 2022  |  Created by : Administrator  |  134 views

Oleh Julio Kristano. A. M.Div *)

 

 

Manusia yang adalah ciptaan yang identik dengan Pencipta-nya. Apa yang ada dalam diri Pencipta tercermin dalam diri manusia. John Calvin, menuliskan dalam bukunya, Institutes of Christian Religion, yang merangkum pengenalan Allah dan manusia: “Mengenal Allah, mengenal diri. Mengenal diri, mengenal Allah.” Manusia tidak akan bisa mengenal dirinya jika dia tidak lebih dulu mengenal Allah.  Pengenalan akan Allah sendiri dimungkinkan sejauh jika menyatakan diri-Nya pada manusia.  Sebagai Pencipta, Allah menyatakan diri kepada manusia untuk dikenal sesuai dengan kerelaan-Nya.  Semakin manusia mengenal Allah, ia semakin mengenal dirinya yang adalah gambar dan rupa Allah.  Semakin ia mengenal diri, manusia akan semakin mengenal Allah yang menciptakannya.  Keduanya terkait sangat erat dan akan terus bertumbuh seiring pertumbuhan iman.

Dalam Kejadian 1-2, TUHAN Allah menciptakan dunia dan memakai manusia sebagai pelaksana utama mandat kebudayaan.  TUHAN adalah inisiator sekaligus arsitek dari karakter dan natur manusia, yang ditempatkan sebagai pekerja-Nya dalam mengelola ciptaan lainnya.  Bagaimana karakter itu ada dalam diri manusia?  Sistem nilai yang kekal harus menjadi bangunan karakter menyeluruh dalam diri seorang pekerja Allah.  Apa yang menjadi tuntutan Allah berbeda dengan apa yang dikejar dunia.  Dunia selalu mengejar yang bersifat sementara; apa yang pasti akan habis.  Apa yang dikejar oleh dunia berakhir binasa, dan sama sekali tidak memberikan keuntungan.

Yohanes 6:27 menyatakan: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”    Hal utama dalam membangun karakter pekerja Allah adalah menjadikan Kristus pusat dari seluruh kehidupan.  Ketika Kristus menjadi pusat maka aspek-aspek kehidupan seperti uang, karir, jabatan, pelayanan, pernikahan, waktu, kepemilikan harus dipusatkan kepada Kristus. Pertanyaan kepada kita adalah manakah yang paling sulit yang kita bisa serahkan kepada Kristus?

 

Dalam 1 Timotius 6:7-8 tertulis; Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Dalam ayat ini Paulus mengulas perihal kepemilikan seperti uang, materi dan kekayaan.  Manusia seringkali menghabiskan seluruh hidupnya mencari hal-hal itu disertai dengan sebuah keinginan dan berbagai-bagai nafsu.  Karena itu Paulus menegaskan bahwa hal itu akan membuat manusia celaka dan menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan, serta membuat manusia menyimpang dari imannya dan tersiksa hidupnya dengan berbagai-bagai duka.  

Maka bagaimana manusia bisa memiliki karakter pekerja Allah?  Matius 9:36 menuliskan, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”  Ayat ini menunjukkan bagaimana Tuhan Yesus melakukan pelayanan.  Yesus memiliki karakter dan sifat khas dalam mengerjakan pelayanan-Nya.  Kata “melihat’ di dalam kalimat ini, menunjukkan melihat dengan kedalaman hati yang penuh perasaan, dan bukan sekedar “menonton.”  Perhatian terhadap manusia sebagai sesama ciptaan Tuhan adalah karakter yang nampak di sini.  

Bagaimana perhatian kita terhadap rekan kerja, pimpinan dan bawahan di lingkungan kerja kita?  Apakah relasi kita sebatas sebagai sesama pencari kerja, atau sesama manusia yang sama-sama membutuhkan belas kasihan Tuhan?  Kehadiran kita memiliki peran yang sangat besar untuk memperhatikan mereka.  Banyak yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak ada arah hidup. Kehidupan dunia yang selalu menghabiskan energi membawa kepada kebutuhan akan jiwa yang harus diisi oleh nilai-nilai hidup kekal.  

Karakter berikutnya yang sedang dibangun melalui Matius 9 di atas adalah pekerja Allah memiliki kehidupan yang selalu berbagi.  Itu menjadi sebuah sistem nilai yang berlaku dalam Kerajaan Allah.  Di dalam setiap kesempatan di area publik, kita diberikan kesempatan untuk bisa mengerjakan peran, dimulai dengan melihat sesuatu yang ada di sekitar kita. Perhatikan mereka, datangi mereka, dan hadirlah dalam kehidupan mereka, supaya mereka dapat berjumpa dengan Tuhan Yesus serta mendapatkan kehidupan yang sejati bersama Pencipta-Nya. Soli Deo Gloria.

(Penulis melayani pelayanan mahasiswa di Perkantas Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES