more"/> more">
Menemukan Kehidupan Yang Seimbang (Finding Your Balance Life)
Last Updated : Jul 08, 2022  |  Created by : Administrator  |  115 views

Oleh Stevani Kilay

           Allah menciptakan dunia dengan keseimbangan yang sempurna, yang memberi jejak Sang Pencipta.  Jika keseimbangan tersebut terganggu, muncullah masalah-masalah di dalam dunia ciptaan-Nya.  Allah memberikan kita, rekan kerja-Nya, tidak hanya berkat tetapi juga tanggung jawab mengelola dunia ciptaan-Nya.

Allah juga menciptakan manusia dengan keseimbangan. Beberapa aspek yang membangun keseimbangan hidup manusia antara lain fisik, psikis atau jiwa, sosial, dan spiritual. Semua aspek itu saling terkait satu dengan yang lain.  Jika satu aspek terganggu maka akan berdampak kepada aspek yang lain.  Kejatuhan manusia dalam dosa berdampak pada terganggunya keseimbangan hidup manusia di masa kini.  Hal itu memunculkan rasa tidak bahagia dan ketidakpuasan, yang membawa hidup makin terasa berat, rumit, dan sulit.

Dalam dunia yang bergerak cepat, manusia tergoda untuk menghabiskan hidup ini dengan bekerja tanpa batas.  Kelelahan fisik diabaikan demi mendapatkan sesuap nasi dan apresiasi.  Padahal kita tahu bahwa pekerjaan kita akan selalu ada tiap hari. Bukannya berkurang tetapi selalu bertambah. Sampai kita lupa bagaimana mencintai diri kita. Pekerjaan memperbudak kita dan menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama termasuk keluarga kita.

Kita seringkali mendengar istilah burn out.  Burn out adalah kondisi stres kronis yang menyerang fisik, emosional, dan jiwa, karena pekerjaan dalam jangka panjang.  Orang yang mengalami burn out ditandai dengan tiga hal: pertama, ketika kita mengalami lelah fisik dan emosi yang terkuras di sepanjang waktu; kedua, kelelahan emosional (mengalami depresi, perasaan tak berdaya, dan merasa terjebak di dalam pekerjaan); ketiga, menunjukkan fisik dan emosi yang lelah seperti terlalu sensitif atau mudah tersinggung, dan sinis terhadap orang lain. Fenomena ini mungkin membuat kita menderita, tetapi sekaligus menjadi alarm-Nya untuk kita mengusahakan keseimbangan hidup.

            Kita dapat belajar dari Allah dalam kisah penciptaan di Kejadian. Allah menciptakan langit bumi dan seisinya selama enam hari. Tetapi Allah berhenti pada hari yang ketujuh, untuk memberkati dan menguduskan segala apa yang diciptakan-Nya. Kita belajar bahwa Allah tidak hanya sekedar menciptakan, tetapi juga menikmati segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya.

          Memperlambat tempo hidup merupakan salah satu cara kita untuk menikmati hidup. Hal itu mencegah kita memberhalakan pekerjaan atau kesibukan kita. Itu juga menjadi kesempatan bagi Allah untuk mengajar dan mengoreksi kita. Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah mulai mencari dan menekuni hobi yang kita minati.  Kita juga bisa mencatat semua pemikiran dan perasaan kita dalam jurnal harian kita.  Hal itu menolong kita mengenal diri dan Tuhan di dalam perjalanan kehidupan kita.

Ada pelajaran menarik yang bisa dipelajari dari kisah nabi Elia. Ia pernah mengalami ketakutan dan ingin mati di tengah pergumulan berat dalam melayani Tuhan (1 Raja-raja 19:1-18). Padahal baru saja ia dipakai oleh Tuhan menyatakan kekuasaan Allah Israel yang dahsyat kepada umat-Nya.  Di dalam kelelahan dan keputusasaannya, Tuhan tidak menuntutnya untuk bekerja melebihi dari kemampuannya.  Allah menyediakan makanan untuk menguatkan Elia melanjutkan perjalanannya. Hal yang sederhana tetapi menjawab apa yang dibutuhkan Elia. Kita harus ingat bahwa kita adalah manusia ciptaan Allah bukan robot.  Kita sendiri yang memahami kapan kita bekerja dan beristirahat. Pekerjaan kita bisa berjalan maksimal dan produktif ketika kita memenuhi kebutuhan fisik (makan, minum, istirahat), dan sosial (quality time dengan sahabat dan keluarga).

Kitab Injil juga memperlihatkan bagaimana Yesus hidup seimbang antar melayani dan  berelasi dengan Allah Bapa dan sesama. Yesus tidak “diperbudak” oleh pelayanan-Nya. Relasi pribadi dengan Allah Bapa menjadi prioritas setiap hari, sehingga Ia mempunyai hikmat mengelola segala sesuatu. Yesus juga memahami fokus utama hidup-Nya di dunia, yaitu mengerjakan agenda Allah Bapa.

Sebagai manusia ciptaan-Nya, kita bertanggung jawab untuk terus memperjuangkan hidup yang seimbang.  Saat kita makin mengenal Allah dan diri, kita makin memiliki kepekaan dan hikmat dalam mengelola hidup secara seimbang, yang membawa kita untuk mampu hidup sebagai manusia sesuai rancangan Allah.  Mari kita terus berjuang memelihara kehidupan yang Allah anugerahkan.  Percayalah bahwa Allah akan terus memampukan kita hidup sebagai manusia sejati sesuai rancangan-Nya.  Amin. (Penulis melayani pelayanan siswa di Perkantas Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES