more"/> more">
Refleksi Paskah dari Lukas 9:28-36
Oleh Tommy Indarto*)
Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah peristiwa monumental yang menentukan masa depan Indonesia, karena melalui Proklamasi, bangsa Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Namun, kita perlu tahu bahwa sebelum Proklamasi Kemerdekaan dibacakan, ada satu peristiwa yang terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945. Peristiwa inilah yang mempercepat proses Proklamasi Kemerdekaan, peristiwa itu adalah “Peristiwa Rengasdengklok.” Golongan muda yang ingin agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamirkan “menculik” Soekarno-Hatta dan membawa mereka ke rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok. Peristiwa ini memicu rangkaian peristiwa yang puncaknya adalah pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta.
Alkitab juga mencatat satu peristiwa penting yang terjadi beberapa saat sebelum Yesus disalibkan. LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) memberi judul peristiwa itu, “Yesus dimuliakan di atas gunung.” Tiga penulis Injil (Matius, Markus, dan Lukas) mencatat peristiwa ini. Sekalipun ada perbedaan dalam detail peristiwa yang dicatat oleh ketiganya, perbedaan itu tidak saling bertentangan, namun menunjukkan keunikan para penulisnya. Secara garis besar ketiganya mengisahkan beberapa hal yang sama yaitu:
Peristiwa yang terjadi di gunung itu merupakan peristiwa yang luar biasa, yang tidak bisa dijelaskan dengan akal manusia sehingga membuat tiga orang murid Yesus yang mengikuti-Nya merasa ketakutan. “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.” (ay. 29). Perubahan rupa Yesus ini secara teologis dikenal dengan istilah Transfigurasi, yaitu momen ketika Yesus menampakkan kemuliaan ilahi-Nya. Perubahan rupa Yesus tidak berdiri sendiri, namun disertai juga dengan munculnya Musa dan Elia, awan yang menaungi mereka dan adanya suara dari surga. Semua rangkaian peristiwa ini menunjukkan dengan jelas identitas ilahi Yesus.
Kita akan cermati bersama tiap peristiwa tersebut. Diawali dengan munculnya Musa dan Elia berbicara dengan Yesus (ay. 30). Para penafsir sepakat dalam melihat peristiwa ini
bahwa Musa melambangkan/ mewakili hukum Taurat,Elia melambangkan/ mewakili para nabi. Kehadiran mereka di samping Yesus menunjukkan bahwa Yesus adalah penggenapan dari seluruh nubuat (para nabi) dan hukum Taurat.Kemudian muncul awan yang menaungi mereka (ay. 34). Menurut Leon Moris, awan itu bukanlah fenomena alam biasa namun, “Itu adalah Shekinah—kehadiran Allah.” Kehadiran Allah juga dikonfirmasi dengan “suara dari dalam awan itu” (ay. 35). Pernyataan Allah cukup jelas bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang Ia pilih dan para murid harus mendengarkan Yesus, oleh karena Ia adalah penggenapan hukum Taurat dan nubuat para nabi. Secara teologis inilah yang disebut dengan Kristosentris, Yesus Kristus sebagai pusat seluruh pengajaran, penafsiran Alkitab, dan kehidupan iman.
Sampai di sini kita mendapatkan validasi mengenai identitas ilahi Yesus. Tetapi ada satu detail penting dalam peristiwa Transfigurasi Yesus yang tidak dicatat oleh Matius atau Markus namun Lukas mencatatnya. “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.” (ay. 31). Hanya Lukas yang mencatat topik pembicaraan di antara Musa, Elia dan Yesus. Frasa “tujuan kepergian-Nya” dalam bahasa aslinya ἔξοδον (exodon) = exodus. Dalam hal ini Lukas ingin menunjukkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus adalah “jalan keluar/ exodus” (sama seperti keluarnya Israel dari Mesir) yang akan memerdekakan manusia dari dosa dan hal inilah yang menjadi tujuan (misi) Yesus dari semula. Kepergian Yesus ke Yerusalem adalah satu hal yang tidak bisa dihindari oleh karena hal itu adalah penggenapan nubuat ilahi tentang Sang Mesias yang menanggung dosa, penyakit, dan kejahatan manusia (bdk. Yes. 53). Percakapan ini sekali lagi menjadi penegasan bahwa Yesuslah Sang Mesias yang telah dinubuatkan para nabi dan dinantikan kedatangan-Nya oleh umat Israel. Sebagai Mesias maka Ia harus menggenapi semua yang telah dinubuatkan tentang diri-Nya, termasuk penderitaan dan kematian-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Ia menyadari identitas dan misi-Nya di dunia. Ia siap melaksanakan misi-Nya itu sampai tuntas, oleh karena itu Ia menyampaikan-Nya kepada para murid, sebelum hal itu terjadi (Luk. 9:22-27).
Di masa Paskah ini, mari kita renungkan beberapa hal, pertama, Yesus menyadari identitas dan misi-Nya di dunia. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita menyadari dengan jelas identitas dan panggilan/ misi kita sebagai murid Yesus? Kedua, Yesus siap menggenapi misi-Nya, sekalipun harus mengalami penderitaan dan kematian. Bagaimana dengan kita, siapkah kita untuk ikut menderita bersama Yesus demi menggenapi misi-Nya dalam hidup kita? Ketiga, Yesus mendapat validasi dari Bapa. Bagaimana dengan kita, apa dan siapa yang menentukan nilai diri kita? Apakah Tuhan dan kehendak-Nya menjadi sumber validasi yang cukup bagi kita?
Golongan muda dalam peristiwa Rengasdengklok mengambil bagian yang penting dalam upaya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Tuhan Yesus Kristus tidak hanya memproklamirkan kemerdekaan dari dosa, namun Ia mati, mengorbankan diri-Nya demi memerdekakan manusia dari dosa. Sebagai murid-Nya kita juga harus mengerjakan bagian kita dalam misi penyelamatan manusia dari dosa. Biarlah kematian dan kebangkitan Kristus menjadi sumber kekuatan kita dalam upaya menggenapi misi-Nya di tengah dunia. Selamat Paskah.
N.T. Wright:
"Paskah bukan berarti &&'39;39;aku akan pergi ke surga ketika aku mati&&'39;39;.
Paskah berarti bahwa dunia baru Allah telah dimulai di bumi sebagaimana di surga, dan kita dipanggil untuk menjadi bagian dari pembaruan itu."
*)Penulis melayani sebagai staf Siswa di Perkantas Banyuwangi.