more"/> more">
Di tengah ritme pelayanan yang padat, ada kalanya seorang pelayan Tuhan perlu berhenti sejenak. Bukan untuk beristirahat dari panggilan, melainkan untuk kembali mengingat mengapa ia melayani. Itulah semangat yang mewarnai Pembinaan Staf dan Rapat PHC Perkantas Jawa Timur pada 27–28 Juli 2026 di Rumah Pemuridan Perkantas Jatim. Selama dua hari, para staf dari berbagai daerah—Surabaya, Malang, Kediri, Banyuwangi, Jember, Batam, Mataram, hingga Mojokerto—berkumpul bukan hanya untuk mengikuti agenda organisasi, tetapi juga untuk belajar, saling menguatkan, dan memperbarui hati dalam pelayanan.
Hari pertama dibuka dengan sesi pembinaan yang mengajak setiap staf melihat kembali pelayanan dari perspektif yang lebih luas. Dalam kelompok-kelompok berdasarkan komponen pelayanan, mereka berdiskusi, berbagi pengalaman, sekaligus belajar dari tantangan yang dihadapi di lapangan. Suasana semakin kaya ketika Ibu Betty Tjipta Sari, yang menyampaikan materi langsung dari Jerman, mengajak peserta menyadari bahwa setiap mahasiswa memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Karena itu, pendekatan pelayanan tidak dapat disamaratakan. Injil memang tidak berubah, tetapi cara kita menjangkau orang perlu terus dipelajari dengan penuh hikmat agar benar-benar menjawab kebutuhan mereka.
Namun, pembinaan bukan hanya terjadi di ruang kelas. Menjelang sore, para staf menikmati waktu fellowship dalam kelompok pelayanan. Staf pelayanan siswa dan pendukung menikmati sore di Kota Tua Surabaya, para staf Mahasiswa dan Alumni menikmati fellowship di Café sambil makan malam. Percakapan ringan, canda tawa, dan kebersamaan di luar suasana formal menjadi ruang yang mempererat relasi. Pelayanan yang sehat tidak hanya dibangun melalui strategi yang baik, tetapi juga melalui persahabatan yang tulus di antara para pelayannya.
Memasuki hari kedua, suasana berubah menjadi lebih hening. Persekutuan doa yang dipimpin oleh Kak Ekawaty mengingatkan setiap peserta akan sebuah kebenaran yang sering terlupakan di tengah kesibukan: sebelum menjadi staf, pemimpin, atau pelayan, kita terlebih dahulu adalah anak-anak Allah. Identitas inilah yang menjadi fondasi pelayanan. Dari relasi yang intim dengan Bapa, pelayanan menemukan arah, kekuatan, dan maknanya.Para Staf juga berdiskusi dimasing masing bidang pelayanan, untuk mempertajam setiap program dan kegerakan yang dilakukan.
Ada satu sudut yang tak kalah menarik selama rapat PHC berlangsung: sebuah "lapak kopi" sederhana yang menjadi tempat bertemunya banyak cerita. Di sela-sela rapat dan pleno, secangkir kopi menjadi teman berbincang, bertukar pengalaman, bahkan saling menyemangati. Kehangatan itu mengingatkan bahwa kebersamaan sering kali dibangun melalui momen-momen sederhana yang mempererat hati.
Pada akhirnya, dua hari ini bukan sekadar rangkaian agenda tahunan. Pembinaan dan rapat menjadi kesempatan untuk berhenti, mendengar, mengevaluasi, lalu melangkah kembali dengan visi yang diperbarui. Di tengah perubahan zaman dan tantangan pelayanan yang semakin kompleks, Perkantas Jatim terus belajar menjadi komunitas pelayan yang rendah hati, peka terhadap kebutuhan generasi mahasiswa, serta tetap berakar pada kasih Kristus. Dengan hati yang diteguhkan dan langkah yang semakin seirama, setiap staf kembali ke ladang pelayanannya membawa pengharapan baru bahwa Allah yang telah memanggil, juga akan terus memimpin setiap langkah pelayanan ke depan.