more"/> more">
I Raja-raja 19:1-18
Oleh Lidia Wurru *)
Ketika pertama kali membaca kisah Nabi Elia yang fenomenal ini sekaligus dengan tindakannya yang mengguncang, barangkali inilah kesimpulan sebagai pembaca masa kini: Elia takut balas dendamnya Izebel sebagai ratu penyembah berhala yang saat itu mengancamnya; Elia melarikan diri sejauh mungkin sampai ke padang Gurun tak bersuara untuk menyelamatkan nyawanya; Elia merasa sendiri melawan para pengkhianat Allah.
Ya, Nabi Elia membunuh 450 nabi Baal di Gunung Karmel!
Ini tidak terbantahkan sebagai aksi paling heroik dari seorang nabi pada eranya. Bisa dibayangkan ini sebagai penampilan yang menggetarkan siapa pun yang menyaksikannya. Ancaman datang dari ratu Izebel yang akan membunuhnya sehingga membuatnya takut lalu pergi berjalan kaki menuju ke padang belantara untuk menyelamatkan nyawanya. Anehnya ketika tiba di Bersyeba, Elia justru meninggalkan hambanya dan berjalan sendiri ke padang gurun sehari lamanya. Di sini seperti terjadi sebuah perubahan, dari ketakutan kehilangan nyawa menjadi kebutuhan akan waktu menyendiri. Pernyataan Elia setelah perjalanan panjang satu hari lamanya membuktikan sang nabi tengah mengalami kelelahan secara emosi, fisik dan mental.
"Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."
Pengamatan saya, bukan karena Elia melakukannya sendiri atau para nabi Israel membiarkannya melawan musuhnya sendiri. Kelelahan yang bertumpuk itu membawa Elia kepada kebutuhan yang lebih mendasar daripada sekadar keamanan, yaitu kebutuhan untuk dipulihkan dan kembali mendengar Allah. Di titik inilah pengalaman Elia memperlihatkan prinsip sabat: berhenti, beristirahat, dan memberi ruang bagi Allah untuk memulihkan dirinya secara fisik, menyegarkan kembali jiwanya dan menguatkan visinya. Memang, kata “ambillah nyawaku” tampak menjadi pernyataan paling putus asa dari seorang nabi. Meskipun apa yang Elia lakukan sungguh dihargai oleh Allah, bahkan kuasa TUHAN berlaku atasnya ketika ia berhadapan dengan musuhnya. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Elia mengalami keletihan. Kita dapat melihat, ketika tiba di padang gurun, hal pertama yang dilakukan adalah berbaring dan tidur di bawah pohon Arar. Sebuah kesempatan beristirahat setelah aksi heroiknya menentang penyembah berhala.
Uniknya, Allah memberi respons yang sangat manusiawi dengan memberikannya tidur yang cukup, membangunkannya serta memberinya makan dan minum. Allah sungguh memahami kebutuhan dasar manusia ketika mengalami kelelahan dalam berbagai segi saat pelayanan. Setelah mendapat asupan yang cukup, Elia sanggup berjalan empat puluh hari empat puluh malam sampai tiba di Gunung Allah. Di Gunung Horeb inilah, Elia masuk ke dalam Gua dan bercakap-cakap dengan Allah, meluapkan isi hatinya: “aku bekerja segiat-giatnya bagi Allah, tinggal aku seorang diri tetapi Izebel ingin mencabut nyawaku”. Menariknya, di sini pun Allah tidak memberi nabi itu sebuah pengajaran betapa kelirunya ia mengeluh, namun Allah memberi pertunjukan yang sangat menakutkan. Di tengah kesendirian Elia, Allah mendatangkan badai yang dahsyat, tetapi Alkitab mencatat tidak ada Allah di sana. Elia tidak mendengar suara Allah kecuali gemuruh angin yang mengherankan. Menyusul gempa mengguncang bumi lalu api, sekali lagi Alkitab mencatat pun tak ada Allah di sana. Kemudian, terdengarlah suara angin sepoi-sepoi basa menyesap masuk menembus gua di mana Elia berada. Elia keluar ke pintu gua tersebut, anehnya, justru di sanalah ia mendengar suara Allah: di tengah kesendirian, di dlam kesunyian, di dalam suara lembut angin. Bagi saya, inilah model sabat yang Allah ingin dinikmati oleh setiap pelayan Tuhan yang sudah kewalahan secara fisik, emosi dan mental. Di tengah kebisingan mustahil orang dapat mendengar suara Allah dengan jelas. Itulah sebabnya, saya sangat suka mengutip tulisan Peter Scazzero dalam bukunya Emotionally Healthy Leader “Defisit rohani umumnya muncul dalam bentuk terlalu banyak melakukan aktivitas. Para pemimpin yang tidak sehat melibatkan diri ke dalam banyak aktivitas sehingga tidak bisa lagi ditanggung oleh fisik, spiritual dan emosi mereka. Mereka akhirnya hanya membangun pelayanan bukan membangun murid. Bahan dasar mereka adalah kayu, jerami dan lumpur (materi berkualitas rendah).”
Bahkan pengertian Sabat hari ini bisa jadi bergeser sekadar mengambil waktu libur setelah pelayanan padat selama berminggu-minggu atau barangkali mengambil jatah off-day secara rutin tetapi aktivitas yang dilakukan tidak membawa kepada situasi yang dikondisikan untuk mendengar Allah. Pertanyaan yang harus dijawab adalah “apakah hari sabat kita lebih sibuk/bising dari hari biasanya?”. Jawaban dari pertanyaan ini membawa kita pada keputusan untuk belajar dari Elisa. Elia melakukan perjalanan yang tidak biasa untuk berinteraksi dengan TUHAN di tempat yang sunyi, di bawah pohon Arar dan di dalam Gua serta di dalam angin sepoi-sepoi. Nabi Elia sungguh membutuhkan tempat yang hanya ada suara angin sepoi untuk jelas mendengar suara-Nya. Allah berbicara dengan Elia bukan di dalam badai, gempa bumi atau api tetapi melalui suara angin yang sangat lembut dan di dalam kesunyian. Konsep sabat yang jarang terjadi di dunia yang bising. Mendengar suara Allah membutuhkan keteduhan. Di dalam angin sepoi-sepoi itu Elia tahu, ia sesungguhnya tidaklah sendiri. Di dalam angin sepoi-sepoi itu, Elia tahu Allah tidak meninggalkan dia. Di dalam angin sepoi-sepoi itu Elia tahu bahwa ada ribuan orang yang tidak menyembah berhala. Di dalam angin sepoi-sepoi itu, Elia menemukan kesegaran iman dan tujuan yang baru dari Allah.
Kadang-kadang kemenangan rohani terbesar justru diikuti oleh kelelahan terdalam. Pada saat itulah seorang pelayan Tuhan membutuhkan sabat: berhenti sejenak, dipulihkan, dan kembali mendengar suara Allah.
*)Penulis melayani di Perkantas Mataram.