more"/> more">
Oleh Billy Amos D.P Ongkowijoyo
Melihat ke dalam dunia dan segala yang ada di dalamnya, kita semua tahu bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna. Kesulitan, masalah, dan dosa menjadi bukti bahwa manusia sedang menjalani kehidupan yang tidak sempurna. Namun pada kenyataannya, kesempurnaan selalu didambakan dan dikejar oleh banyak orang. Salahkah mengejar kesempurnaan? Apakah kesempurnaan merupakan suatu keharusan? Mari kita merenungkannya bersama-sama.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap kita menyukai sesuatu yang indah, menyenangkan hati, dan dapat dinikmati. Siapa yang tidak suka dengan rumah idaman, atau pasangan idaman, atau pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita? Kita semua memiliki kriteria mengenai hal-hal yang kita sukai; dan tidak jarang, hal ini membuat kita menginginkan sesuatu yang sempurna sekalipun kita mengetahui bahwa tidak ada yang sempurna dalam dunia ini.
Tahun ini telah mencapai penghujung, dan Natal akan segera tiba. Pertanyaannya, keindahan seperti apa yang kita dambakan? Apa yang akan kita kagumi? Dekorasi dan lagu Natal di rumah? Gereja? Tempat publik seperti mall, cafe, restoran? Benar, hal itu memang sangat indah dan momen Natal biasanya menjadi salah satu momen paling indah dalam kehidupan kita. Namun masih ingatkah kita, bahwa ada satu pribadi yang menwarkan keindahan yang jauh melebihi suasana Natal?
Mari kita kembali pada perkataan ini: “Tidak ada manusia yang sempurna.” Saya ingin menekankan hal ini dengan lebih jelas: “Sebab semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Rm. 3:23). Bukan saja kita tidak sempurna, tetapi kita juga penuh dengan kelemahan akibat dosa. Kita telah rusak karena dosa, tetapi Natal menjadi sebuah pengingat bahwa ada Pribadi yang rela turun dari surga dan menjadi Juruselamat manusia. Disinilah keindahan Natal yang seharusnya kita kagumi!
Natal seharusnya membawa kabar sukacita yang mengharukan. Allah yang begitu kudus mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia (Fil. 2:7). Bagaimana bisa Allah yang begitu kudus dan besar mau turun ke dalam dunia yang penuh dosa, dilahirkan oleh orang berdosa, dan mati di tangan orang berdosa? Renungkanlah: Yesus tidak memandang kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan (Fil. 2:6). Kuasa yang begitu besar tidak dipertahankan demi menyelamatkan manusia yang sering memberontak melawan Dia. Mengapa Dia melakukan hal itu? Tidak ada jawaban yang lebih baik yang dapat kita berikan selain kasih.
Hari Natal adalah bukti bahwa Tuhan tidak main-main dengan kasih-Nya kepada manusia. Dia yang kudus mau hadir dalam kehidupan orang berdosa, dan dalam diri yang tidak sempurna ini, Tuhan mau menjadikan hati kita sebagai tempat kediaman-Nya (1 Kor. 6:19; Ef. 2:22). Apa artinya? Dalam dosa kita, Tuhan menunjukkan kasih-Nya untuk membuktikan bahwa kerapuhan kita tidak menjadi penghalang bagi Dia untuk masuk kedalam hati dan kehidupan kita. Ia adalah Allah yang merengkuh semua kelemahan kita dan membawanya ke atas kayu salib agar kita dapat belajar bergantung dan berserah pada-Nya.
Keindahan apa yang kita pandang? Kesempurnaan apa yang kita inginkan? Kenikmatan apa yang kita dambakan? Mari merenungkannya bersama, karena saat kita mempunyai Tuhan yang sempurna, maka kesempurnaan dunia tidak akan kita kejar. Selamat menyambut Natal.
~Billy Amos D.P Ongkowijoyo biasa dipanggil Billy, merupakan alumni Program Studi Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pria muda ini memiliki hobby bermain musik dan menggambar, namun masih menyempatkan diri mengasah kemampuannya dalam menulis refleksi. Billy juga terlibat dalam penulisan sebuah buku karya mahasiswa, bersama Tim Pembina Pena Murid.