more"/> more">
Happy Natalisa I.P.N*)
Ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah tahu bahwa manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Sebanyak, sebaik dan sesempurna apapun yang dilakukan manusia untuk terhindar dari hukuman kekal Allah, tidak akan bisa menggantikan keadilan Allah yang harus ditegakkan, yaitu upah dosa yang adalah maut.
Lalu, apa yang bisa dilakukan manusia untuk lepas dari maut itu? Tidak ada!
Apakah Allah diam saja dan membiarkan ciptaan-Nya masuk ke dalam maut? Tidak!
Allah bertindak dengan heroik menggunakan tanda yang sangat tidak masuk di akal bagi manusia. Allah justru bekerja dalam tanda kehinaan dan kutukan. Hal yang harus manusia alami, namun Ia yang mengalaminya sebagai ganti kita lewat salib Kristus Yesus.
Salib merupakan hukuman yang paling hina bagi bangsa Roma. Biasanya yang mendapat hukuman ini adalah kelas rendah seperti budak, penjahat berkelas rendah, dan jarang sekali warga negara Roma. Bagi orang Yahudi, penyaliban berarti kutukan (Ul 21:23; Gal 3:13). Namun, bagi orang Kristen, salib bukanlah lambang hinaan. Salib bukanlah lambang kutukan, melainkan lambang keselamatan.
Salib juga merupakan tanda pendamaian Allah dengan manusia (Kol 1:20). Salib merupakan tanda atau bukti lunasnya hutang dosa yang membawa kita bukan lagi pada hukuman maut melainkan keselamatan kekal (Kol 2:14). Salib adalah bukti bahwa keadilan Allah telah ditegakkan. Namun, objeknya bukan kita lagi yang tertimpa maut, melainkan Kristus. Dalam salib Kristus, kita juga bisa melihat kasih Sang Anak Allah bagi kita.
Dulu bagiku salib Kristus hanya ornamen atau aksesoris yang dapat menunjukkan bahwa aku orang Kristen. Tidak ada makna lebih dari itu. Sekarang, setelah aku tahu makna salib lebih dalam, aku semakin menghargai salib Kristus. Tidak hanya menjadikannya sebagai aksesoris penunjuk bahwa ‘aku orang Kristen’, namun menghargai pengorbanan Kristus dengan terus menyadari identitasku sebagai ciptaan yang baru. Bukan lagi manusia yang dibelenggu dosa, tapi manusia yang sudah dibebaskan dari dosa dan hidup merdeka dalam kasih Allah lewat salib Kristus. Hidup yang kuhidupi sekarang adalah hidup yang ada dan bergerak di dalam kasih Allah.
Masih banyak manusia yang terikat dengan dosanya. Masih banyak manusia yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah Allah mengasihinya ketika mereka sudah melakukan dosa yang berat. Masih banyak manusia yang berpikir untuk apa hidup di dunia ini, jika semua yang terjadi dalam hidup tidak sesuai keinginan. Semua hal ini juga pernah muncul dalam benakku. Namun, ketika aku memahami makna salib Kristus, salib Kristus dapat menjawab semua pertanyaan itu.
Kasih Kristus lewat salib-Nya mengonfirmasi bahwa Ia mengasihiku ketika aku berdosa (Rom. 5:8). Maka aku akan memperoleh pengampunan-Nya ketika aku jatuh dalam dosa karena pembenaran Kristus lewat salib yang Allah lihat padaku.
Kasih Kristus lewat salib-Nya memberiku tujuan hidup baru ketika hidupku tidak sesuai harapanku. Harapan baruku berdasarkan realita bawa aku dikasihi Allah; itu sudah cukup. Aku terbebas dari maut, itu sudah cukup. Jika kehidupan kekalku yang terbebas dari maut sudah dijamin oleh Kristus, bukankah hidup yang tidak sesuai dengan keinginan tidak akan merubah jaminan kekal itu? Apalagi yang kubutuhkan dalam hidup? Kristus sudah cukup. Kasih Kristus sudah cukup menjadi harapan. Kasih Kristus di atas kayu salib sudah cukup menjadi bahan bakar menjalani hidup ini.~ Penulis melayani pelayanan Mahasiswa di Perkantas Surabaya