more"/> more">
Pena Murid Easter Project in Christian Heritage Arts - Tidak Ditinggalkan
Last Updated : Apr 16, 2022  |  Created by : Administrator  |  1069 views

Oleh Yemima Galih Pradipta

 

‘Crucifixion, seen from the Cross‘ (1890) oleh James Tissot, Brooklyn Museum.

“Yesus menjadi Penolong yang sejati karena Ia mampu bersimpati dan berempati dengan sempurna. Ia tahu persis perasaan kita yang merasa ditinggalkan dalam sepi. Bedanya, saat itu Yesus tidak menerima penguatan apapun, tetapi kini, melalui Roh Kudus-Nya, Ia memberikan jaminan bahwa di dalam kondisi yang paling mencekam dan paling sepi sekalipun, Ia tidak akan pernah meninggalkan kita.”

 

Kita tahu bahwa peristiwa kematian Kristus adalah fakta sejarah. Namun bagi orang percaya, itu tidak hanya sebuah sejarah, melainkan sebuah kebenaran yang membebaskan. Masalahnya, kadang-kadang kita justru “mereduksi” makna esensial dari kematian Yesus karena kita tidak melihat sendiri bagaimana Yesus disalibkan. Seakan-akan kita berpikir, kematian Yesus adalah peristiwa biasa. Padahal, tidak ada yang biasa-biasa saja dari Via Dolorosa sampai ke Golgota!

James Tissot mencoba untuk menyediakan perspektif berbeda dalam karyanya yang berjudul, “What Our Lord Saw from the Cross (Ce que voyait Notre-Seigneur sur la Croix)”. Ia menggambarkan peristiwa penyaliban itu dari sudut pandang Kristus, membawa orang untuk membayangkan diri mereka di tempat Kristus dan mempertimbangkan pikiran dan perasaan terakhir-Nya saat Dia menatap musuh dan kolega-Nya yang menyaksikan, atau yang berpartisipasi dalam, kematian-Nya. Kita tahu, kitalah yang seharusnya ada di posisi itu. Kitalah yang seharusnya disalib dan menerima penghukuman dari Allah Bapa.

Mari bayangkan sejenak. Di depan mata-Nya, Ia melihat berbagai jenis manusia yang meresponi kondisi-Nya. Ada beberapa yang menangisi dengan sedih, tetapi lebih banyak lagi yang memandang-Nya dengan pandangan mengejek, mencemooh dan menanggapi dengan hujatan. Tidak hanya tubuh-Nya yang terkoyak, jiwaNya juga tercabik-cabik. Jujur saja, kalau saya jadi Yesus, saya ingin meneriaki, “Dasar manusia tidak tahu diri! Aku begini demi kalian!” Tetapi kita tahu, Yesus bahkan tidak mencoba untuk membuatnya lebih mudah dan tidak menyakitkan, dan Ia tetap taat sampai tuntas. Seakan-akan Yesus sudah berdeklarasi, “There’s no going back!”

Salah satu ucapan Yesus yang terkenal dalam peristiwa penyaliban adalah “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang artinya “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Seruan ini merupakan sebuah doa yang juga disampaikan oleh Daud dalam Mazmur 22. Perkataan ini menjadi sebuah puncak ketegangan yang dialami Yesus.

Bagi saya pribadi, bagian tersulit dalam perjalanan Kalvari itu ialah bahwa Yesus sedang dalam kondisi “paling kesepian”. Murid-murid yang Ia kasihi sebagian besar lari ketakutan dan meninggalkan-Nya. Orang-orang banyak yang sebelumnya mengelu-elukan-Nya di Yerusalem juga tidak ada di sana. Justru yang ada di hadapan-Nya ialah para pemuka agama yang sangat ingin melihat Yesus menderita. Dan puncaknya, Bapa-Nya harus bertindak sebagai Hakim yang adil kepada-Nya, dan membiarkan Yesus menerima murka Ilahi atas dosa-dosa manusia. Untuk sementara waktu, Yesus “terputus” dari Allah Bapa.

Seruan Yesus di kayu salib itu menggambarkan betapa menderitanya kondisi “terputus sementara waktu” dari Bapa. Tetapi kita tahu, cerita itu tidak berhenti di situ. Seperti cerita dengan happy ending yang terdengar mustahil, kebangkitan Yesus menjadi penanda bahwa Ia telah menang. Ia membuka jalan bagi kita kepada Bapa, dan Ia juga yang menjadi jalan itu sendiri. Ia juga memberikan Roh Kudus sebagai jaminan bahwa Ia akan senantiasa menyertai orang yang percaya pada-Nya. Dan Ketika Ia bangkit, Ia telah mengalahkan musuh terbesar kita, yaitu kematian.

Jadi kita patut bersyukur, peristiwa penyaliban dan kebangkitan itu membawa penghiburan yang utuh dan tuntas bagi kita. Mungkin ada waktu-waktu di mana kita merasa sangat kesepian, merasa tidak ada jalan keluar, atau merasa kecewa oleh banyak hal. Kita merasa Allah meninggalkan kita dalam sepi. Tetapi penyaliban Kristus itu memberi harapan, bahwa Iapun mengerti apa yang kita alami. Yesus menjadi Penolong yang sejati karena Ia mampu bersimpati dan berempati dengan sempurna. Ia tahu persis perasaan kita yang merasa ditinggalkan dalam sepi. Bedanya, saat itu Yesus tidak menerima penguatan apapun, tetapi kini, melalui Roh Kudus-Nya, Ia memberikan jaminan bahwa di dalam kondisi yang paling mencekam dan paling sepi sekalipun, Ia tidak akan pernah meninggalkan kita.

Lukisan James Tissot tersebut hanya menampilkan kaki Yesus. Seakan memberi gambaran, kalau kematian saja sudah takluk di bawah kaki-Nya, maka tidak ada satupun hal di dunia ini yang mampu memisahkan kita dari pada-Nya. Ia ada, Ia di sana, Ia hanya sejauh doa.

 

*) Yemima Galih Pradipta, Penggerak Komunitas Pena Murid, saat ini melayani penuh waktu di Literatur Perkantas Jatim.

 

Tambahan Referensi:

Sudharma, Erick. Tujuh Ucapan Yesus di Kayu Salib.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES