more"/> more">
Oleh Bonan Imanuel R, S.T
Setiap kita mungkin pernah bergumul dengan persoalan skala prioritas dalam hidup. Seringkali kita mengatur dengan "Allah dan kehendak-Nya harus menjadi prioritas pertama dan utama," setelah itu barulah segi kehidupan lain seperti pasangan, keluarga, pekerjaan, dan lainnya. Konsep ini terkesan baik, namun pada realitanya Allah dapat menjadi urutan yang kedua, ketiga, bahkan mungkin bisa keluar dari skala prioritas tersebut.
Jika demikian bagaimana seorang Kristen harus hidup? Paulus dalam Galatia 2:19b-20 menyatakan “Sebab aku telah mati oleh hukum taurat untuk hukum taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Paulus menerangkan kehidupan Kristen yang sejatinya diperuntukkan bagi Allah. Allah dan kehendak-Nya bukanlah salah satu prioritas, melainkan satu-satunya fokus hidup setiap pengikut-Nya. Namun bagaimana menerapkan prinsip ini dalam setiap dimensi kehidupan kita? Ayat 19-20 memberikan sebuah pencerahan dimana Paulus tidak hanya menitikberatkan kepada “hidup bagi Allah” saja, melainkan sebuah pesan yang lebih utuh: “Hidup yang berpusat kepada Allah dan karya-Nya di atas kayu salib,” atau yang kita kenal dengan Injil. Setiap kita harus memiliki hidup yang berpusat kepada Injil.
Gospel-centered life menolong kita untuk memiliki perspektif hidup yang benar, dimana Injil menjadi sebuah kaca mata untuk memandang segala sesuatu dalam hidup ini. Sebagai contoh dalam hal perbuatan baik, pemimpin Yahudi yang dituliskan dalam surat Galatia begitu legalistic. Mereka memiliki perspektif bahwa kehidupan kekal diperoleh melalui kesalehan dan perbuatan baik berdasarkan Hukum Taurat. Paulus sendiri memiliki perspektif yang berbeda, dimana setiap orang percaya tidak boleh mendasarkan kehidupan kekal pada kekuatan dan kesalehan kita, melainkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus.
Seringkali sebagai orang percaya kita kadang memiliki perpektif yang keliru; “aku harus melayani dengan giat, aku harus berbuat saleh, aku harus melakukan praktik-praktik religius supaya Allah terkesan dan Allah memberkati. Cara menjalani hidup demikian sangat berpusat kepada diri. Hidup yang berpusat kepada Injil mengarahkan kita untuk terus terkesan dan kagum akan kebaikan-kebaikan Allah yang sudah Ia dinyatakan. Apapun yang kita lakukan, berita Injil tentang kematian dan kebangkitan Kristus harus yang mendorong kita untuk hidup bagi Allah di setiap dimensi kehidupan. Secara umum orang melihat pekerjaan sebagai sarana untuk mencari nafkah. Hidup yang berpusat kepada Injil menjalani pekerjaan sebagai sarana untuk mengenal dan mengalami Allah lebih dalam, serta memperkenalkan Allah kepada dunia. Injil memberikan kita sebuah perspektif dan dorongan yang berbeda.
Dalam perjalanan kita mengupayakan hidup yang berpusat pada Injil, kita menemukan suatu kendala didalam diri kita, yaitu kecenderungan hati yang berdosa. Terkadang kita bisa gagal, frustasi dan ingin menyerah untuk hidup bagi Allah. Kabar baiknya, Injil juga menjadi sumber kekuatan. Berita bahwa Allah mengasihi dan menerima kita bukan karena kebaikan kita adalah hal yang meneguhkan. Kegagalan kita tidak mengurangi kasih Allah kepada kita. Tidak ada kebaikan kita yang menambahkan kasih Allah kepada kita, dan tidak ada kesalahan yang dapat mengurangi kasih Allah kepada kita. Karena bukti kasih-Nya sudah dinyatakan melalui Anak-Nya yang telah mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya untuk kita. Amin. (*Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa Surabaya)