more"/> more">
Apa yang biasanya kita bawa setelah mengikuti retret? Makin disegarkan, atau justru, pulang membawa pertanyaan? Pada momen retret ini, Tuhan menuntun para staf dan board untuk memikirkan ulang pelayanan Perkantas Jatim.
Retret yang diadakan pada 25-27 April 2025 ini dihadiri oleh 68 orang peserta yang terdiri dari staf dan board Perkantas Jatim. Secara lokasi, retret kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumya. Retret diadakan di Bukit Doa Imanuel-Prigen. Jalan di sana berbukit-bukit dan udaranya sejuk. Sehingga, lokasi retret ini mendukung peserta untuk melakukan "latihan rohani" sekaligus "latihan badani".
Pada hari Jumat, para peserta melakukan koordinasi triwulan( PHC) dan pleno, yang kemudian ditutup dengan doa bersama dan sharing kelompok. Di dalam kelompok, peserta disuruh memilih beberapa simbol yang mewakili kondisi relasi mereka. Lalu di hari Sabtu yang cerah, Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D selaku pembicara, membukakan gambaran tentang mengapa seorang pelayan Tuhan bisa mengalami kejenuhan. Pak Yakub kemudian menutup sesi dengan diskusi berdasarkan studi kasus yang ia contohkan. Para peserta begitu antusias membagikan pandangan mereka. Di tengah hari, peserta diajak untuk melakukan latihan jiwa berupa “santai kudus”. Harapannya, peserta dapat mengingat bahwa keberadaan mereka yang apa adanya—yang bukan sedang menghasilkan sesuatu—adalah berharga di mata Tuhan.
Tantangan muncul pada sesi yang kedua, karena di sini Pak Yakub menjelaskan satu konsep yang lebih kompleks, yakni tentang keutuhan seorang pelayan. Pak Yakub memaparkan sebuah pertanyaan besar, yaitu "Bagaimana cara agar kita bisa benar-benar mengalami sebuah kondisi di mana semua hambatan teratasi dan kehdadiran Kristus nyata dalam hidup kita?" Sesi ditutup dengan diskusi lagi.
Pada hari Minggu, secara tidak terduga, Pak Yakub memaparkan sebuah pernyataan yang kuat dan membekas di hati peserta, "Perkantas harus objektif menilai dirinya." Pembicara tersebut kemudian mengingatkan suatu prinsip yang sering kita lupakan, yaitu bahwa Yesus disembah dengan roh dan kebenaran, bukan sekadar ritual agama. Semua orang beragama pasti berdoa, berbuat baik, meninggalkan godaan, dan suka memberi. Bahkan manusia biasa juga mau "mati" berkorban bagi sesamanya, oleh karena manusia memiliki hati nurani yang merupakan anugerah umum dari Tuhan. Lantas, apa bedanya seorang yang percaya Kristus dengan orang beragama lain?
"Bisakah Perkantas Jatim secara objektif menilai apakah kegiatan-kegiatan yang dilakukan merupakan suatu hal yang bertujuan menyembah Yesus dalam roh dan kebenaran, ataukah hanya sekadar ritual agama?" Pertanyaan itu yang dibawa pulang oleh para peserta sebagai perenungan, sehingga sepulang dari retret, semua peserta memiliki komitmen baru di hadapan Tuhan. Bersyukur karena Tuhan terus berbicara pada setiap kita pelayan Tuhan. Kiranya setelah momen retret ini, kita boleh makin teguh mengerjakan panggilan yang diletakkan Tuhan pada pelayanan ini. (YGP)