more"/> more">
Bukan sekedar Undangan: Membangun Pemuridan Persahabatan di Tengah Riuhnya Dunia Mahasiswa
Last Updated : Jul 24, 2025  |  Created by : Administrator  |  544 views

Oleh Marta A.Panjaitan, S.M*)

 

Masa di kampus adalah kesempatan strategis selama empat tahun atau lebih dimana Allah membangun fondasi hidup seseorang untuk dijalani sepenuhnya bagi-Nya. Ini adalah masa dimana Tuhan bekerja secara maksimal membentuk karakter, iman, dan panggilan hidup seseorang (Steve Shadrach - The Fuel and The Flame.)

        Saat ini kita memasuki masa-masa penerimaan mahasiswa baru. Ada banyak dari  mereka  datang dengan segudang rencana dan impian, seperti:  target akademik, pengalaman organisasi pengembangan diri berkaitan dengan kuliah atau jenjang karir apa yang harus saya pikirkan. Semangat ini mendorong mereka mencari pengalaman sebanyak- banyaknya guna mempersiapkan segala rencana dan impian itu. Namun, dalam upaya mencapainya, tak jarang para mahasiswa cenderung ‘overestimate’ akan kapasitas dirinya, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapi tantangan nyata– seperti manajemen waktu, tekanan sosial atau terjebak dalam godaan lainnya.

            Lalu, apa yang sebenarnya paling dibutuhkan dan dicari mahasiswa selama di kampus? jawaban umum seperti: memiliki relasi yang banyak, dapat lulus tepat waktu, meraih IPK tinggi, atau langsung bekerja mencerminkan pola pikir yang masih berpusat pada diri sendiri. Tapi apakah itu cukup? Matius 6:33   "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Ayat ini membawa perenungan kepada saya secara pribadi ketika menjadi seorang mahasiswa, dan seharusnya ayat ini juga dapat menolong mahasiswa di kampus melihat prioritas dalam hidup. Kampus bukan sekadar tentang mengejar prestasi atau relasi, melainkan ruang untuk menemukan:  makna hidup yang melampaui pencapaian duniawi, arah hidup yang selaras dengan kehendak Allah, keterhubungan sejati dengan Tuhan dan sesama, serta signifikansi eksistensial sebagai ciptaan yang bernilai dimata Allah. Inilah jawaban bagi kehidupan pasca- kampus bukan sekedar  menguasai skill untuk bertahan di dunia kerja, tetapi memiliki: komunitas yang mendukung pertumbuhan iman (Rom. 12:5) dan bagaimana hal itu dapat membimbing mereka untuk mengenal Kristus secara otentik serta ruang bertanya dan berproses tanpa takut dihakimi (Fil.3:15).

            Sebagai seseorang yang pernah di kampus dan pernah terlibat dalam pelayanan pemuridan, saya melihat dengan jelas banyak mahasiswa menyelami berbagai aktivitas– bukan sekedar untuk menyibukkan diri, tetapi  untuk  mencari: Siapa diri mereka? Apa tujuan  hidup mereka?, dan Kemana arah yang harus dituju?. Masa pencarian diri ini seringkali tidak menemukan makna sesungguhnya, sehingga hanya terjebak dalam kesibukan yang melelahkan dan tidak memberikan kepuasan sejati. Dan disinilah “Pemuridan yang Bersahabat” menemukan relevansinya. Ia hadir bukan sebagai pesaing aktivitas kampus, melainkan sebagai pondasi transformasi hidup melalui : persahabatan yang bermakna, pergumulan bersama , dan pemuridan yang memberdayakan. Lalu, Bagaimana teladan Yesus dalam pemuridan yang adaptif dapat menjadi model yang relevan di tengah realitas ini? Model pemuridan yang Yesus kerjakan  bukanlah sebuah program yang kaku, melainkan proses relasional yang dinamis, di mana: Kontekstual (menyesuaikan bahasa dan pendekatan dengan tantangan zaman); Relasional (memuridkan dengan hidup bersama & berbagi hidup, bukan sekedar kurikulum); serta Transformasional (bukan sekedar transfer pengetahuan namun juga fokus pada pertumbuhan iman, kedewasaan rohani & karakter )

             Yesus sendiri telah memberikan model-Nya melalui pemuridan yang bersahabat, langkah yang perlu kita lakukan adalah, meresponi panggilan untuk menjangkau dan memuridkan  mahasiswa dengan taat dan berani.  Akan tetapi dengan realita yang ada kita perlu menyadari di tengah hiruk pikuk mahasiswa kita tidak boleh kecil hati, ketika orang yang dijangkau untuk dimuridkan tidak banyak, atau ada yang gugur di pertengahan. Jika kita menerapkan pemuridan persahabatan ini arahkanlah fokus bukan tentang kuantitas namun bagaimana pemuridan ini dapat menghidupkan. Pemuridan berarti mengundang mahasiswa bukan sekedar mengikuti kelompok, namun sampai kepada memasuki kehidupan untuk dapat  hidup bersama di mana kita berani membuka pintu rumah dan hati kita untuk dapat dilihat dan menjadi ruang untuk berproses menjadi serupa dengan Kristus. Betapa bahagianya jika kita dapat terlibat untuk menjangkau dan mengabarkan Injil-Nya  dan memuridkannya serta hal itu membawa pengenalan akan Allah untuk kemuliaan nama-Nya di kampus.

             Akhirnya jika kita merupakan pribadi yang sudah diperjuangkan untuk mengalami dan mengenal Kristus melalui pemuridan di kampus, mari perjuangkanlah apa yang sudah Anda terima dengan mengundang mahasiswa baru untuk turut berbagian mengalami proses pemuridan bersahabat ini. Percayalah Dia yang memanggilmu untuk mengerjakan, Dia juga yang akan menyertaimu bahkan memperlengkapimu. *) Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Perkantas Surabaya


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES