more"/> more">
Mari Garami dan Terangi Negeri (Sebuah Refleksi dari Matius 5:13-16)
Last Updated : Aug 14, 2025  |  Created by : Administrator  |  366 views

Oleh Victor K. Pujianto, M.Ikom

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

 

Dalam sidang BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno berpidato demikian mengenai kemerdekaan,

Di seberang jembatan, jembatan emas inilah, baru kita leluasa menyusun
 masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal, dan abad”

Bagi Soekarno kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas untuk mewujudkan  visi besar bangsa ini, yaitu mencapai masyarakat Indonesia yang sejahtera. Dengan semangat visi inilah pada akhirnya bangsa Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa merdeka pada 17 Agustus 1945. Visi besar ini tentu saja perlu keterlibatan seluruh rakyat Indonesia untuk mewujudkannya, termasuk orang Kristen di dalamnya.

  Bagian ini merupakan bagian dari khotbah di bukit memberikan sebuah peneguhan bahwa perwujudan cita-cita bangsa Indonesia juga menjadi tanggung jawab para pengikut Yesus di negeri ini. Dalam khotbahnya, Yesus mengingatkan bahwa para pengikutnya adalah garam dan terang dunia. Secara unik Yesus menggunakan keduanya untuk mengungkapkan pesan-pesan yang penting.

Sebagaimana yang kita tahu, garam berfungsi memberi rasa, dan mengawetkan atau mencegah terjadinya pembusukan. Sedangkan terang sendiri merupakan sebuah keadaan tiada kegelapan. Fakta ini menunjukkan pesan yang Yesus ingin ungkapkan melalui khotbah yang ingin ia sampaikan yaitu supaya setiap orang mengingat panggilan mereka untuk berperan aktif untuk mengerjakan hal-hal baik bagi bangsa ini.

 

Jika dikaitkan dengan cita-cita  kemerdekaan yang diungkapkan Soekarno,  ajaran Yesus jelas merupakan sebuah panggilan bagi kita orang-orang yang dilahirkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia supaya berkontribusi untuk bangsa ini lewat karya-karya untuk mewujudkan nyatakan kebaikan di tengah bangsa ini. Lebih lagi di tengah kondisi Indonesia yang sedang  dilanda cemas saat ini, maka panggilan untuk menjadi garam dan terang semakin relevan.  Soli Deo Gloria.

 

(* Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa dan Alumni di Perkantas Malang)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES