more"/> more">
Oleh Yemima Galih Pradipta*)
Dalam film Petualangan Sherina 2, terdapat sebuah adegan yang berhasil membuat saya mencucurkan air mata. Adegannya sederhana, dibalut dengan lagu indah yang dinyanyikan oleh Sherina—sang tokoh utama, menceritakan tentang Sayu—seekor orang utan asli Kalimantan. Sherina beserta tim penyelamat hewan langka menyusuri sungai di sebuah hutan di Kalimantan untuk melepas Sayu ke alam bebas. Lirik lagu tersebut kira-kira seperti ini:
“Sebelum ucap kata perpisahan, dengarlah, Sayu, ku titipkan pesan. Alam tersenyum karena kalian. Terima kasih, t’lah jaga hutan raya Kalimantan.”
Saya bertanya-tanya, mengapa saat itu saya bisa menangis terharu? Film itu rilis tahun 2023. Pengalaman yang sudah hampir terlupakan itu ternyata menyingkapkan hal yang lebih mendalam tentang cara saya merasakan kasih dan kehadiran Allah yang memuaskan hati, pikiran, dan jiwa saya.
Beberapa bulan belakangan, kejenuhan menyusup dalam diri saya. Sebagai pelayan Tuhan, saya tahu masa-masa seperti ini pasti selalu mampir. Saya mencoba lebih keras berdoa, membaca Firman, bahkan saat sabatikal, namun perasaan kosong itu tetap tinggal. Saya merasa bersalah dan frustasi.
Dalam buku Pemuridan yang Sehat secara Emosi, Peter Scazzero menuliskan: “kehidupan pelayanan bagi Allah dalam dunia ini hanya bisa dilakukan karena hasil dari kehidupan persekutuan yang mendalam bersama Allah.” Sebagai pelayan Tuhan, mau tidak mau saya harus segera menyelidiki apa yang terjadi pada diri saya.
Satu Penyakit, Satu Resep
Dalam buku Sacred Pathways: Menemukan Jalan Spiritual Anda Menuju Allah, Gary Thomas menuliskan “banyak orang kristiani mendapati bahwa rutinitas waktu teduh cukup untuk menolong seseorang memulai kehidupan ibadah mereka, tetapi nyatanya malah membatasi dan tidak memadai untuk membangun hubungan yang penuh penyerahan diri kepada Allah dari waktu ke waktu. … Mereka tak pernah diajari rupa-rupa langkah untuk ‘memberi makan’ secara rohani. Mereka menjalani pola makan yang ketat dan terkejut saat mendapati diri mereka senantiasa ‘lapar’”. Banyak orang Kristen yang cenderung menyederhanakan kehidupan ibadah menjadi rutinitas. “Ibadah yang mekanis” telah menggerogoti banyak hal, dan banyak orang menjadi hampa secara rohani.
Bacaan itu mengajak kita berpikir ulang tentang spiritualitas yang selama ini kita bangun. Kadang-kadang, ketika kita merasa “kering” atau “lapar rohani”, bisa jadi permasalahannya bukan di banyaknya aktivitas dan kesibukan, tetapi pada cara kita memberi “gizi rohani”.
Seorang teman saya yang berprofesi sebagai apoteker terkejut mendengar bahwa saya minum obat Ibuprofen untuk mengatasi pilek. Sebagai catatan, saya alergi pada paracetamol, sehingga tubuh saya hanya bisa menoleransi Ibuprofen saja. “Tapi itu obat pereda nyeri! Ndak ada hubungannya sama pilek,” ucapnya, “kapan sembuhnya kalau gitu?”
Sebagaimana Ibuprofen tidak bisa dipakai untuk mengatasi semua penyakit, kita juga tidak bisa memberi satu resep yang sama untuk semua penyakit rohani kita. Saya bersyukur bahwa Roh Kudus menolong saya menemukan realitas ini. Maka saya dibawa pada perjalanan menemukan “resep rohani” yang tepat bagi kondisi saya. Saya mulai menemukan bahwa disiplin waktu teduh yang saya jalani dari sejak petobat baru hingga sekarang—walaupun memang bermanfaat—rupanya kurang memadai. Ada bagian-bagian lain dari diri saya sebagai makhluk rohani yang terbengkalai.
Pentingnya Mencari Tipe Spiritualitas
Dalam Alkitab, dituliskan bahwa Yesus menerima ibadah ibu mertua Petrus saat ia melayani-Nya, tetapi di kesempatan lain, Ia menghormati Maria yang duduk diam di dekat-Nya dan justru menegur Marta yang sibuk dengan pelayanannya sendiri. Yesus tahu tiap orang berbeda. Pembimbing rohani yang baik memahami bahwa orang memiliki tipe spiritualitas yang berbeda-beda, bahwa menu yang memenuhi kebutuhan seseorang belum tentu memenuhi kebutuhan semua orang.
Dalam bukunya, Gary Thomas menjabarkan tentang 9 tipe spiritualitas. Belakangan, saya menyadari bahwa saya adalah perpaduan dari kaum naturalis, kaum indrawi dan kaum intelektual. Kaum naturalis berusaha mencari Allah dengan mengelilingi diri mereka dengan segala sesuatu yang telah Dia jadikan, misalnya keindahan langit dan bumi. Kaum indrawi, seperti namanya, dapat menikmati pengalaman bersama Allah melalui panca inderanya, seperti melihat karya seni atau mendengar musik. Sedangkan kaum intelektual memerlukan sesuatu yang menggugah pikiran mereka sebelum hati mereka hidup sepenuhnya, seperti misalnya membaca buku, pendalaman Alkitab atau aktivitas intelektual lainnya. Temuan itu yang akhirnya menolong saya mengatur ulang cara saya menghabiskan waktu teduh bersama Allah (Anda bisa membaca tipe yang lain secara lengkap dalam buku tersebut).
Tentu saja, semua itu hanyalah metode untuk mengasihi dan menikmati Allah dengan segala keberadaan kita. Contohnya, alam bukan Tuhan, tapi keindahan alam membuat saya melihat bahwa Allah itu ada. Mungkin alasan itulah yang membuat saya terharu melihat adegan dalam Petualangan Sherina 2 yang menampilkan hutan Kalimantan, orang utan dan diiringi lagu yang indah. Hati saya tersentuh dengan kebenaran bahwa Allah merenda semuanya itu dengan teliti dan harmoni. Namun adegan itu juga membuat saya menaikkan permohonan ampun karena manusialah yang kerap merusak alam ciptaan-Nya dan menindas ciptaan lain demi kepentingan diri sendiri. Gary menuliskan, “melihat keindahan alam membuat kita rendah hati”, dan itulah yang terjadi pada saya. Adegan berlalu cepat, tetapi saya langsung dapat terkoneksi dengan Allah melalui doa.
Jadi, saya mulai belajar untuk memodifikasi waktu teduh itu dengan menaikkan puji-pujian atau mendengar lagu rohani, memandang langit sambil membaca Mazmur, dan memadukan pembacaan Alkitab dengan "mendengar" pembacaan Alkitab. Bila sedang sabatikal, saya menyempatkan diri pergi ke perpustakaan atau museum untuk mencari kebenaran Allah yang tersebar dan tercermin di dalam karya seni dan sastra, menyimpannya dalam potret dan membagikan renungan singkat di sosial media. Waktu teduh yabg demikan membuat saya jauh lebih segar dan akhirnya siap untuk pergi melayani Allah.
Pentingnya Menemukan ‘Taman Getsemani’
Dalam Alkitab, Yesus sendiri mencari ketenangan di Taman Getsemani. Yesus menggunakan taman itu dalam sejumlah alasan untuk bertemu Bapa-Nya, untuk mendapatkan kekuatan rohani dan untuk menerima perintah-perintah-Nya. Pada kenyataannya, Yesus pergi ke sana setiap hari selama Minggu Sengsara: “Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di bukit yang bernama Bukit Zaitun” (Luk. 21:37). Taman Getsemani, tempat Yesus berdoa sebelum ditangkap, terletak di kaki Bukit Zaitun. Bahkan Yesus memilih tempat ini untuk bergumul dalam waktu kritis-Nya, sesaat menjelang penyaliban.
Pada akhirnya, antusiasme dapat diraih dengan meninggalkan rutinitas. Mungkin, kasih kita kepada Allah tidaklah surut; hanya saja kita sudah terlena dalam kerohanian yang tumpul. Padahal, kerohanian kita bagaikan sebuah kebun yang perlu kita rawat. Kita perlu menyiraminya agar tidak kering. Dengan begitu, kita sekaligus menjaga agar kasih kita kepada Allah senantiasa segar.
Sebagaimana pengalaman Getsemani adalah unik bagi Yesus, maka perjalanan rohani masing-masing Anda juga pasti unik. Pertanyaannya, ketika kita perlu mendengarkan suara Allah, ketika kita perlu dikuatkan oleh Allah, ketika kita perlu menerima perintah-perintah-Nya, ke manakah kita pergi?
Di manakah “Taman Getsemani” Anda? “Taman Getsemani” itu bisa berupa sebuah tempat atau sebuah momen. Baik Anda maupun saya memiliki “Taman Getsemani” yang berbeda-beda. Kiranya kita tak pernah berhenti mencari Taman Getsemani kita masing-masing—tempat di mana kasih Allah menghidupkan kembali jiwa kita yang lelah. (* Penulis melayani di Literatur Perkantas Jatim)