more"/> more">
“Tiada yang mustahil bersama Tuhan" merupakan tema raker Perkantas Papua di tahun 2025 ini. Bersyukur untuk kehadiran dari kakak-kakak staf Perkantas Jatim, alumni-alumni dari berbagai daerah di Papua juga hadir dalam raker ini untuk melihat rencana dan kehendak Tuhan untuk dikerjakan dalam pelayanan tahun depan. Bersyukur juga dalam raker ini bisa melihat bagaimana karya Tuhan yang dinyatakan lewat pelayanan setahun yang sudah dilewati. Pelaksaanaan raker tahun 2025 ini diadakan pada tanggal 18 dan 19 Oktober 2025.
Dalam raker ini, nampak bahwa dinamika kegerakan di tiap-tiap kota sangat beragam. Ada daerah-daerah yang menunjukan pertumbuhan kegerakan pemuridan siswa dan mahasiswa, namun ada pula daerah yang menghadapi berbagai tantangan, baik itu sumber daya, kondisi keamanan wilayah, belum banyak hadir alumni yang bisa memuridkan siswa dan mahasiswa, dan sebagainya. Namun momen perjumpaan dalam raker ini menjadi ruang untuk berbagi strategi, mencari solusi bersama, serta saling menguatkan sebagai satu tubuh Kristus, di dalam kesadaran bahwa upaya pemberitaan injil kepada siswa, mahasiswa, dan alumni akan selalu menjumpai tantangan, tapi selalu ada kekuatan yang Tuhan berikan.
Hal ini semakin diteguhkan lagi di dalam pemberitaan firman yang disampaikan oleh Kak Akhung dalam ibadah penutup raker, yang mengajak perserta untuk memaknai tema “Tiada yang mustahil bersama Tuhan” dari perspektif Paulus yang di penjara. Sepanjang hidupnya, Paulus harus 4 kali dipenjara: di Filipi, Yerusalem, penjara Rumah di Roma, dan Penjara Bawah Tanah di Roma. Namun selalu ada anugerah yang membuat kesempatan pemberitaan injil justru makin besar. “Tiada yang mustahil bersama Tuhan”, bukan berarti pelayanan menjadi lebih mudah dan segera terlihat hasilnya. Tidak mustahil artinya bahwa dalam situasi yang sangat tidak ideal sekalipun untuk injil diberitakan, Anugerah Allah bekerja dengan cara yang tak terduga, yang memampukan kita memiliki kekuatan untuk tetap setia. Yang paling luar biasa adalah di saat Paulus harus masuk penjara bawah tanah di Roma, yang merupakan penjara terakhir yang akan merenggut nyawa-Nya (2 Tim. 2:1-13), hati Paulus untuk injil tetap sama. Bukan dirinya yang dia ratapi, tapi justru bagaimana agar muridnya Timotius senantiasa siap memberitakan injil baik atau tidak baik waktunya. Yang lebih luar biasa, walaupun Paulus ada di ambang kematian, Paulus melihat kematian bukan sebagai tragedi, melainkan ibadah terakhirnya kepada Tuhan. Dan dia justru merayakan itu sebagai kemenangan karena telah setia di dalam pekerjaan injil sepanjang hidupnya.