more"/> more">
Renungan E-Murid - “Relatable Discipleship: Menghadirkan Yesus dalam Dunia Gen Z”
Last Updated : Mar 18, 2026  |  Created by : Administrator  |  129 views

Oleh  Apt.Heppy Natalisa Irianti Putri Nari, S. Farm

Dalam sebuah artikel online di Media Indonesia ketika membahas tentang Generasi Z, atau yang kerap disapa Gen Z, kini menjadi sorotan utama dalam berbagai aspek kehidupan. Lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, generasi ini tumbuh besar di era digital yang serba cepat dan terhubung. Pengalaman unik ini telah membentuk karakter dan pandangan hidup mereka, membedakan mereka dari generasi sebelumnya.

Di era digital ini, Gen Z tidak lepas dari yang namanya media sosial, bahkan Gen Z dapat memilki lebih dari satu akun media sosial, yang menggambarkan bahwa generasi ini memiliki banyak lapisan untuk ditembus dan sulit dikenali. Sosial media sangat menolong saya untuk melihat kondisi adik-adik yang saya pimpin, begitulah sejauh ini perenungan saya ketika memuridkan. Apa yang mereka sukai, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka alami, apa yang mereka impikan semua tergambar dalam postingan sosial media mereka. Namun, jika saya menyimpulkan keadaan adik-adik pemuridan yang saya pimpin hanya berdasarkan pada postingan, maka hal itu terlalu permukaan. Sentuhan personal dengan pertemuan tatap muka untuk mendengarkan mereka dari hati ke hati tetap menjadi cara utama yang saya pakai agar bisa memahami lebih dalam memahami arti setiap postingan mereka.

Pemuridan saat ini dituntut untuk bisa masuk dalam sosial media dimana Gen Z berada. Era digital memang menolong dan membuat proses pemuridan lebih fleksibel karena dapat bertemu secara daring atau online. Namun, pertemuan online tidak menghilangkan pemuridan secara onsite. Kedua hal ini harus seimbang.

David G. Benner dalam bukunya Sacred Companion mengatakan bahwa pembimbing rohani membantu orang lain untuk bisa peka terhadap kehadiran dan pernyataan Tuhan dan mempersiapkan orang itu untuk berespons kepada Dia. Dan hal inilah yang seharusnya menjadi tujuan dari kelompok pemuridan. Benner menambahkan dengan memperdalam disiplin-disiplin rohani, orang-orang yang ada dalam kelompok pemuridan akan lebih peka dan tajam dengan kehadiran Tuhan bersama mereka. Disiplin-disiplin rohani meliputi doa, waktu pribadi, pendalaman Alkitab. Pelatihan disiplin rohani menolong Gen Z untuk terus memperjuangkan relasi dengan Allah ditengah dunia yang penuh distraksi. Dan salah satu distraksi terbesar bagi Gen Z adalah sosial media itu sendiri.

Ada hal lain yang tidak kalah penting, yang perlu dilakukan ketika memuridkan Gen Z yaitu aspek personal. Dalam buku 'Ngegas Tapi Sayang, Danny dkk mengatakan bahwa Gen Z membutuhkan seorang yang mau hadir, mengasihi, dan menerima. Saya dapat merumuskannya sedikit berbeda dari pengalaman yang saya alami ketika berhadapan

 

dengan Gen Z yaitu kehadiran, perhatian, dan belas kasihan dari pembimbing rohani merupakan aspek personal yang sangat mempengaruhi Gen Z. Gen Z akan sangat menghargai setiap orang yang hadir penuh bagi mereka, memberi mereka perhatian yang intens, disamping itu juga datang dengan penuh belas kasihan bukan dengan penghakiman. Hal ini sangat persis seperti apa yang dilakukan Yesus ketika ada di dunia ini.

Kehadiran Yesus di dunia bukanlah kehadiran yang semu. Yesus memilih datang dan hadir ke dunia ketika manusia memberontak pada Allah yang berakibat dosa. Dan kehadiran-Nya memulihkan kembali relasi yang sudah rusak itu, karena kehadiran Yesus membawa misi penyelamatan bagi manusia dari dosa. Gen Z membutuhkan kehadiran orang yang mampu hadir secara nyata juga, bukan hanya hadir dalam virtual atau sosial media saja.

Yesus memberi perhatian penuh bagi dunia tidak hanya dalam keprihatinan tapi turut serta dalam keprihatinan itu. Selama 3 tahun masa pelayanan-Nya, Ia hidup bersama manusia dan turut merasakan apa yang dirasakan oleh manusia. Perhatian Yesus bukan hanya sekedar perasaan iba, namun perhatian yang diwujud nyatakan dengan menjadi dan berjalan bersama manusia di dunia yang penuh tantangan ini. Gen Z dengan segala tekanan dunia ini, memerlukan orang yang memberi perhatian dan semangat baginya dalam menjalani tekanan itu.

Yohanes 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.

Cara Yesus dalam memuridkan adalah menjadi sahabat bagi manusia. Sebagai sahabat, Yesus datang dengan penuh belas kasihan. Belas kasihan Yesus bukan hanya sekedar tulisan yang tercantum dalam kumpulan surat yang tertulis ribuan tahun lalu, namun ada bukti nyatanya, yaitu ketika Ia memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya. Yesus memilih datang dengan belas kasih dan penebusan bagi pelanggaran manusia, bukan dengan penghakiman yang membawa penghukuman. Mungkin dalam mengasihi Gen Z, kita belum mampu seperti Yesus yang sanggup memberikan nyawa, tapi Gen Z perlu sahabat yang kasihnya tidak hanya dalam ucapan atau bentuk chat saja. Gen Z butuh dikasihi dengan kasih yang diperjuangkan sedemikian rupa, bahkan ada pengorbanan di dalamnya, barulah itu bisa dirasakan secara nyata.

 

Setiap generasi memiliki keunikannya sendiri dan tiap generasi perlu di jangkau dalam kebenaran, dan itulah yang Yesus lakukan dalam dunia ini. Mengasihi setiap orang yang Yesus kasihi dan melakukan setiap hal yang Yesus kerjakan itulah panggilan setiap kita yang sudah merasakan kehadiran, perhatian dan belas kasihan Yesus. Jika kita ingin memuridkan Gen Z, maka kita harus melakukan apa yang Yesus sudah lakukan dan teladankan ketika Ia di dunia.

(* Penulis  Melayani Pelayanan Mahasiswa di Perkantas Surabaya

 

Sumber:


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES