more"/> more">
Natal di Tengah Pandemi: Momentum Perubahan
Last Updated : Dec 25, 2020  |  Created by : Administrator  |  105 views

Oleh Ekawaty Ranteliling,S.Psi.

 

Pandemic Covid-19 yang melanda seluruh dunia dalam kurun waktu 9 bulan terakhir ini telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek hidup kita. Namun, manusia terbukti sangat mampu beradaptasi dengan cepat. Dalam waktu singkat, inovasi-inovasi baru tercipta untuk mendukung berlangsungnya kehidupan di tengah pandemi ini. Dengan dukungan teknologi, berbagai macam aktivitas dapat tetap berlangsung, meski terbatas oleh jarak dan ruang. Ini termasuk perayaan Natal yang seyogyanya merupakan rutinitas tahunan umat Kristiani.

 

Walau sebagian besar perayaan Natal dilakukan dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, namun hal itu tak mengurangi semangat dan semaraknya. Seolah tak ingin kehilangan momentum kali ini, setiap gereja, instansi, dan lembaga pelayanan Kristen pun dengan sangat antusias tetap merayakan Natal, meski terbatas melalui pertemuan daring. Ya, situasi pandemi rupanya tak mengurangi semarak Natal yang selalu identik dengan perayaan dan sukacita.

 

Sukacita yang hadir saat Natal tentunya bukan tanpa alasan, sebab momen ini adalah perayaan atas kelahiran Kristus, Sang Juruselamat dan Penebus umat manusia. Kita sudah sepatutnya bersukacita, seperti para gembala di padang yang menerima berita kesukaan dari malaikat dan para bala tentara sorga. Setelah menanti dalam waktu yang panjang, Simeon dan Hana juga memuji Allah dan bersukacita ketika menyambut bayi Yesus di dalam Bait Allah. Bukan hanya bersukacita, kita juga perlu bersemangat seperti orang Majus yang berjalan jauh dari Timur menuju Yerusalem untuk mengikuti bintang dari Raja orang Yahudi yang baru lahir. Dengan kata lain, kita memang perlu bersukacita dan bersemangat menyambut kelahiran Kristus, sebab perayaan itu sendiri tak salah. Sayangnya gemerlap perayaan dan euphoria Natal sering mengaburkan pandangan kita untuk melihat makna Natal yang sesungguhnya. Setelah sekian lama dan sekian kali merayakan Natal, masihkah kita bertanya tentang apa maknanya bagi hidup kita?

 

Natal memang memiliki beragam pengertian dan beragam makna yang dapat kita lekatkan padanya. Jika kita membaca catatan Injil mengenai kelahiran Tuhan Yesus, kita akan menjumpai juga beberapa peristiwa yang memilukan di seputar kelahiran-Nya. Sebelum kabar sukacita itu dikumandangkan oleh malaikat, Maria telah diliputi ketakutan atas tugas mulia yang diterimanya untuk mengandung bayi Yesus, walau pada akhirnya tetap taat dan bersedia menerima kehendak Tuhan baginya. Sementara Yusuf, tunangan Maria juga diperhadapkan dengan pilihan sulit untuk menceraikan atau tetap memperistri tunangannya, yang kehamilannya terjadi di luar nalar pikiran. Akhirnya Yusuf taat setelah malaikat Tuhan juga menjumpainya lewat mimpi, untuk meyakinkannya tentang kehamilan Maria dan identitas bayi yang dikandung Maria tersebut.

 

Bahkan menjelang Maria melahirkan, ia dan Yusuf harus menempuh perjalanan jauh menuju Betlehem dan di sana tak ada tempat bagi Maria untuk melahirkan, kecuali sebuah kandang domba. Tak hanya itu, kunjungan orang Majus yang mengabarkan kelahiran Raja orang Yahudi, ternyata menyebabkan raja Herodes penasaran dan ingin juga menjumpai bayi Yesus. Namun, orang Majus yang menerima petunjuk lewat mimpi, tidak kembali menjumpai Herodes untuk memberitahu keberadaan bayi Yesus. Hal tersebut membuat Herodes naik pitam, sehingga memerintahkan pembantaian kepada semua anak yang berusia dua tahun ke bawah. Yusuf yang kembali dijumpai lewat mimpi, akhirnya harus membawa Maria dan bayi Yesus untuk menyingkir ke Mesir. Maka peristiwa pembantaian atas perintah Herodes tersebut tak urung telah menimbulkan ratap tangis yang mendalam di Betlehem.

 

Peristiwa dukacita di seputar Natal tersebut sejatinya tak mengurangi sukacita Natal. Sebab peristiwa demikian tersebut telah menjadi penggenapan janji Allah akan kedatangan Sang Juruselamat. Sesungguhnya Natal bagai dua sisi koin yang tak terpisahkan. Tak hanya mengandung sukacita atas kelahiran Kristus, melainkan di sisi yang lain juga membawa dukacita dari bayang-bayang salib. Natal adalah permulaan perjalanan Kristus menuju kematian-Nya di atas kayu salib. Namun, jika Natal tak hanya dirajut oleh peristiwa sukacita melainkan dukacita juga, bagaimana seharusnya kita menyikapi momen Natal?

 

Natal di tengah pandemi ini seharusnya menjadi kesempatan bagi kita, bukan sekadar untuk merayakan Natal dengan cara yang berbeda, tetapi juga untuk membuka ruang bagi perenungan yang dalam akan makna Natal. Kiranya kita dapat menghayati bahwa Natal adalah tentang Allah yang menyatakan kasih-Nya tanpa syarat kepada manusia, dengan jalan merengkuh kemanusiaan kita. Karena itu, Natal bukan sekadar untuk dirayakan, melainkan menjadi momentum yang mengubahkan hidup kita menjadi makin serupa dengan Kristus. Kiranya Natal kali ini menjadi berbeda dan tak hanya mengubah cara perayaan kita, melainkan lebih mengubahkan hidup kita. Soli Deo Gloria.

(* Penulis adalah Staf yang melayani di Griya Pulih Asih, saat ini sedang menempuh Studi Lanjut di STTRII-Jakarta)

 

Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/photos/nmA90RJLOro


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES