more"/> more">
Keseharian Hidup sebagai Misi Tuhan
Last Updated : Nov 26, 2021  |  Created by : Administrator  |  875 views

Anthon Katobba Mapandin,M.Div.

 

Freit Betto, seorang teolog Brasil berujar, “kepala berpikir dimana kaki berpijak.” Ungkapan ini menyatakan satu kebenaran bahwa apa yang menjadi pijakan kita akan menentukan cara kita berpikir. Pikiran akan menentukan cara kita bertindak. Demikianlah dalilnya, pengaruh dari pijakan dan dampaknya terhadap tindakan-tindakan kita. Sadar atau tidak, kebenaran ini berlaku dan kita hidupi, baik secara konsisten ataupun tidak. Pijakan disini adalah “kebenaran-kebenaran” yang kita percayai, dan untuknya kita investasikan hidup kita. Hal itu bisa berupa asumsi-asumsi kita, atau nilai yang kita anut, dan sistem kepercayaan yang kita imani.

Richard Sterans dalam buku Unfinished menyimpulkan ada 3 cara orang berada dan menghidupi kehidupan di dunia ini. Pertama, mereka mempercayai bahwa: “mempercayai tidak ada kisah apapun.” Mereka mempercayai bahwa kita hanyalah spesias yang tidak memiliki arti, dan yang hidup tanpa tujuan atau tidak ada tujuan yang menggerekan kehidupan ini. Yang kedua, orang yang “menciptakan kisah untuk dirinya sediri.” Mereka mengarang kisah sendiri, kemudian mereka hidup dan menginvestasikan hidupnya untuk kisah yang mereka ciptakan sendiri. Mereka percaya akan semua itu sebagai kebenaran. Yang ketiga adalah, “menjadi bagian dari kisah Allah.” Mereka mempercayai kebenaran bahwa dunia dan seluruh ciptaan adalah milik Allah. Seluruh ciptaan dunia ini hidup dan berada bagi Dia, Sang Pemilik Taman ini. Semuanya hidup untuk merangkai kisah bagi Kemulian-Nya. Inilah yang menjadikan mereka hidup dan berada.

Pertanyaannya sekarang, dimana kaki kita berpijak selama ini? Sebagai manusia ciptaan Allah dan milik kepunyaan-Nya, kita percaya bahwa hidup ini adalah sebuah undangan untuk masuk dan menjadi bagian dari Kisah Allah. Kita diundang untuk meletakkan kaki kita di atas kebenaran, bahwa hidup tidak bisa dihidupi dengan sesuka hati dan merasa bahwa kitalah pemilik hidup kita sendiri. Tidak, hidup ini milik Dia yang memiliki rancangan untuk bumi milik-Nya ini; yaitu supaya bumi ini penuh dengan pengenalan akan Dia; supaya segala sesuatu didamaikan dengan-Nya, dan supaya segala kaum, suku dan bangsa datang menyembah dihadapan Anak Domba Allah, mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Raja.

Jadi inilah kebenaran itu; kisah yang memanggil kita untuk hidup di dalamnya, kebenaran yang menjadi pijakan kaki kita di dunia ini. Kebenaran ini juga harus mempengaruhi seluruh denyut nadi kita dan cara kita hidup dan berada di dunia ini. Jadi, kisah hidup kita adalah sebuah kisah yang sedang dan terus menghidupi Kisah milik Allah.

Bagaimana kisah ini kita hidupi dalam keseharian kita? Jawabannya adalah seperti Juruselamat kita menjalani hidup-Nya di dunia ini.

Pertama, Dia diam dan tinggal di antara kita (Yohanes 1:14). Yesus mengerjakan misi-Nya dengan tinggal secara total di dunia ini. Di sini Yohanes menggunakan bahasa yang memiliki makna: tinggal tetap selama-lamanya.  Dia tinggal dan begitu concern dengan apa yang menjadi persoalan di sekitar hidup-Nya. Dia tidak saja memberitakan Kabar Baik, tetapi hidup di dalam Kabar Baik itu. Bukti dari corncen-Nya adalah mati untuk mengatasi satu hal yang menjadi masalah didunia ini, yaitu dosa. Apakah kita sendiri corncern untuk apa yang ada di sekitar hidup kita? Apakah kita berjuang untuk membebaskan segalanya dari pengaruh dosa?

Kedua, Yesus hidup benar dan juga memperjuangkan kebenaran. Dia bukan hanya memberitakan Allah yang Kasih dan Adil, tetapi juga menawarkan hidup yang pantas dihidupi dan berdampak bagi orang lain. Itu sebabnya hidup-Nya selalu menjadi daya tarik, karena menghadirkan kelepasan dan kelegaan. Yesus menghadirkan Kerajaan Allah untuk dicicipi orang-orang di sekitar hidup-Nya. Dia memperjuangkan keadilan dalam masyarakat. Tim Keller dalam bukunya Generous Justice mengatakan, “keadilan itu adalah relasi yang benar.” Keadilan hadir bukan saja dengan moralitas pribadi. Keller mengatakan, “menjadi ‘orang benar’ yang menjadi bagian dari memperjuangkan keadilan, merujuk pada kehidupan yang memiliki relasi yang benar.” Jadi bagaimana kita berelasi dengan masyarakat sekitar kita? Kita hidup dalam masyarakat dengan anugerah yang Tuhan limpahkan kepada kita, kemudian hidup dan memperjuangkan keadilan bagi terjadinya transformasi. Inilah kebenaran dari status kita sebagai orang benar dalam masyarakat dunia ini.

Jadi menghidupi misi dalam keseharian adalah meneladani Yesus dalam seluruh aspek hidup kita. Inilah yang akan menggerakkan kita untuk mewartakan Injil kasih karunia bagi manusia ciptaan-Nya, dan membawa segenap ciptaan untuk mengalami transformasi. Soli Deo Gloria.

(*Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa dan Misi di Perkantas Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES