more"/> more">
Oleh Kezia Nadella Julistian
“Waktu begitu cepat berlalu” adalah sebuah ungkapan klise yang selalu dilontarkan banyak orang di penghujung tahun. Ungkapan yang sampai hari ini menghantui hidupku secara pribadi. Ya, waktu memang tak kenal permisi untuk terus melaju. Seolah berjalan begitu saja dalam ruang imajinasi sampai aku hanya bisa tersadar di tengah bisingnya otakku dan berkata, “Wah, sebentar lagi 2021 berakhir.” Tahun ini memang akan berakhir, entah itu membawa suka ataupun luka yang belum kering. Belum lagi masa pandemi yang bahkan bergejolak seperti hatiku. Hari ini aman, besok belum tentu. Varian virus yang satu selesai, muncul lagi varian baru.
Desember tahun ini adalah bulan penuh refleksi dalam hidupku. Hari demi hari mencoba memikirkan kembali semua hal yang telah terjadi hampir setahun ini. Mulai dari perjuangan akhir kuliah, masuk kerja hingga sebuah peristiwa berdarah-darah yang membuatku beralih identitas sebagai penyandang disabilitas. Ya, seorang disabilitas. Aku kehilangan jari-jari mungil tanganku dalam hitungan detik. Banyak yang harus dikorbankan hingga aku bukan sekedar sakit secara fisik, melainkan mental yang tiba-tiba melemah begitu saja oleh keadaan. Sama seperti kebanyakan manusia lainnya, akupun akhirnya mempertanyakan “Apa yang Tuhan mau lewat kejadian ini? Mengapa harus aku?” Dan pertanyaan lain sebagai bentuk negosiasiku kepada Tuhan.
Fase negosiasi itu kian lama kian berlalu. Banyak pribadi dan hal-hal yang sangat menguatkanku. Bahkan, di tengah kerapuhanku, aku justru sangat merasakan kehadiran Tuhan nyata lewat banyaknya kasih sayang yang aku terima. What a worderful God! Aku tidak pernah merasa sekuat dan seikhlas ini jika Tuhan tidak bersama dengan aku. Meskipun titik terlemah untuk aku memilih lebih baik mati saat itu juga masih sering menghantuiku. Tapi aku bersyukur masih bertahan untuk menjalani hidup.
Banyak cara bagaimana Tuhan mengajarkanku nilai-nilai kekal lewat kondisi saat ini? Aku belajar tentang arti bersyukur yang sebenarnya, mengalami Firman itu sendiri dan memahami arti kasih yang lebih dalam dari apa yang selama ini aku tahu. Salah satu ayat yang begitu terngiang sampai hari ini adalah :
“Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”
1 Korintus 13:7
Kalimat mengenai sabar menanggung segala sesuatu inilah yang begitu mengusik hatiku. Ternyata dengan sabar menanggung segalanya, aku sedang belajar mengasihi Tuhan, diri sendiri dan orang-orang di sekelilingku. Sekalipun hal ini bukan sesuatu yang mudah, tapi patut untuk diperjuangkan. Hal sabar menanggung segala sesuatu juga membawaku kepada refleksi dari Natal tahun ini. Kehadiran Tuhan Yesus yang sesungguhnya adalah untuk menanggung kerapuhanku dan kerapuhan banyak orang menuju kekudusan dan kemuliaan-Nya. Tidak ada bentuk kasih dan kesabaran yang lebih besar dan mulia daripada itu. Jadi hari ini, kalau aku boleh memilih, aku akan tetap memilih melalui proses yang menyakitkan ini, karena harapanku, melalui kisah imanku, banyak orang dapat mengenal Kristus.
Apapun kondisi setiap kita saat ini. Tuhan mau terus menanggung kita sebagai anak-anak-Nya. Dia tidak melihat kerapuhan dan ketidaksempurnaan kita sebagai sesuatu yang hina, tapi justru Dia mau terus menyempurnakan hidup kita melalui kerapuhan itu dengan kehadiran-Nya. Natal sebagai lambang kehadiran Tuhan memberikan warna baru dalam setiap kerapuhan kita untuk menjadi jawaban bagi banyak orang.
~Kezia Nadella Julistian, alumni Tehnik Lingkungan ITATS Surabaya ini, memiliki banyak talenta diantaranya bermain musik, menyanyi dan menulis…Kezia sering kali memiliki banyak ide untuk menulis tapi sulit menuangkannya dalam tulisan. Bersama sama dengan teman-teman di Pena Murid, Kezia terus berproses dan belajar. ” Semoga tulisan dan kisahku menjadi berkat bagi banyak orang” , harapnya.