more"/> more">
Oleh Kristin Nita Maria Puspa, S.Psi
Apa yang menjadi sumber kebahagiaan Anda? Mungkin ada yang spontan menjawab saya bahagia jika saya banyak uang, jika saya sehat, jika saya dihormati banyak orang, jika saya memiliki jabatan, jika saya memiliki pasangan yang setia, dan lain-lain. Setidak-tidaknya itulah gambaran kebahagiaan yang dibentuk oleh iklan-iklan dan film-film.
Semua orang ingin bahagia baik orang dewasa bahkan anak-anak. Kebahagiaan diartikan sebagai pemenuhan keinginan hati kita. Jika kita perhatikan, pemenuhan kebahagiaan akan terus bergerak karena kita manusia cenderung menginginkan suatu hal yang lebih. Kita semua berlomba untuk mencapai titik akhir atau garis finish kebahagiaan, akan tetapi titik akhir itu tidak dapat kita gambarkan secara jelas.
Epikurus, seorang filsuf Yunani kuno, dikenal sebagai pemuja kebahagiaan. Menurutnya, hidup yang bahagia adalah hidup yang ditandai oleh pemenuhan dan pemuasan kesenangan diri. Jadi menurut Epikurus, ukuran kebahagiaan adalah kesenangan. Semakin besar kesenangan yang didapat maka semakin tinggi pula tingkat kebahagiaannya, dan begitupun sebaliknya. Dalam kerangka berpikir semacam ini maka, tidak ada tempat untuk penderitaan. Sebisa mungkin penderitaan harus dihindari karena penderitaan menjauhkan kita dari kebahagiaan.
Prinsip kebahagiaan Epikurian ini disebut juga dengan hedonisme. Hedonisme adalah pandangan yang menganggap kebahagiaan sebagai tujuan utama dalam hidup. Ironisnya, hedonisme tidak mengenal kata cukup. Semakin kesenangan diri dan kenikmatan materi dipenuhi, maka kita pun akan menginginkannya lagi dan lagi, bahkan harus lebih besar dari yang sebelumnya. Dengan cara itulah kebahagiaan hidup dapat dialami.
Prinsip kebahagiaan Kristiani mengajarkan hal yang berlawanan dengan prinsip Epikurian. Dalam prinsip kekristenan, kebahagiaan justru dipahami sebagai sikap bebas dari keterikatan materi. Jika kita lihat kembali salah satu kisah dalam Injil Matius tentang seorang muda yang datang kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya perihal cara memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di Sorga”. Namun, ketika orang muda itu mendengar perkataan Yesus, pergilah dia dengan sedih sebab banyak hartanya (Mat. 19:16-22).
Kegelisahan orang muda tersebut mungkin juga menjadi kegelisahan kita. Dengan penuh semangat kita mencari jalan untuk bisa hidup bahagia. Namun, ketika kita dihadapkan pada kebenaran bahwa kebahagiaan dapat diraih dengan melewati jalan sempit dan berliku, kita menjadi gelisah dan bahkan menyerah sebelum melewatinya. Syarat yang diajukan Yesus memang sangat radikal. Yesus meminta kita untuk tidak lagi terikat pada materi. Harta atau materi memang punya daya lekat yang kuat pada hati manusia. “Karena dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada” (Matius 6:21).
Kebahagiaan dalam iman Kristiani tidaklah meniadakan kesulitan. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Matius 16:24). Sekali lagi, syarat yang diajukan Yesus sangat tidak mudah dan penuh kesulitan yang harus ditanggung. Kesulitan merupakan jalan pendewasaan iman, justru dalam kesulitanlah iman kita diuji dan didewasakan. Seberapa teguh kita pada cinta kasih Yesus dalam masa sulit hidup kita. Seberapa besar rasa syukur yang bisa kita ungkapkan atas kebaikan Allah atas hal yang tampak biasa, jauh dari gegap-gempita. Yesus sendiri telah memberikan teladan bagi kita. Jalan yang Ia tempuh untuk menyelamatkan kita sangatlah sempit, berliku dan penuh kesulitan. Tapi justru dalam kesulitan yang ditanggung-Nya itu kita memperoleh rahmat penebusan.
Kiranya moment Natal tahun ini dapat membawa kita pada pemahaman yang benar tentang kebahagiaan. Kiranya gegap-gempita perayaan Natal tidak lebih menguras perhatian kita daripada pengolahan batin di hadapan Tuhan kita Yesus Kristus. Prinsip kebahagiaan yang ditegaskan oleh Yesus memang tidak populer. Logika kebahagiaan dunia akan selalu menjadi tantangan kita. Cara pandang yang diubahkan oleh prinsip tersebut kiranya dapat menolong kita untuk menjalani segenap kesulitan dan mampu mensyukuri apa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita. Selamat menyambut Natal bagi kita semua. Kristus Yesus sang sumber kebahagiaan menyertai kita. (* Penulis staf dan Konselor Griya Pulih Asih)
.
Griya Pulih Asih “Pusat Pemulihan dan Pengembangan Diri”
Mendampingi Menggapai Potensi Efektif
Telp. :+62 857 9115 2570
Alamat : Jl. Tenggilis Mejoyo KA-12, Tenggilis Mejoyo, Surabaya, Jawa Timur 60292, Indonesia
Email : griyapulihasih@gmail.com
Web : https://griyapulihasih.com
Ig :griyapulihasih (rumah pemulihan)
You Tube : Griya Pulih Asih
Layanan:
Psikotes
Pelatihan dan Seminar
Konseling dan Intervensi
Child Care Center “Griya Anak”