more"/> more">
Adven: Masa Berjaga-jaga dan Siap Sedia
Last Updated : Dec 10, 2021  |  Created by : Administrator  |  2111 views

Lidia L.Wurru

 

Tradisi Adven telah diperingati lebih dari 1.400 tahun silam. Masa Adven yang dilalui selama empat minggu sebelum perayaan Natal ini pada umumnya dimaknai sebagai penantian kedatangan Yesus pada saat Natal dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebagaimana kata Adventus dalam bahasa Latin dan Parousia dalam bahas Yunani yang berarti “kedatangan.”  Dari beberapa catatan, tradisi Adven telah dimulai di lingkungan gereja Katolik di Spanyol dan Perancis sekitar abad IV.  Kemudian tradisi ini berlanjut di Roma sekitar tahun 550-an, dan diwarisi oleh umat Kristen maupun Katolik sampai hari ini. Kenyataan bahwa Kristus pernah datang ke dunia, dan pada saat kenaikan-Nya Ia berjanji akan kembali menjemput umat pilihan-Nya, menjadikan masa Adven sebagai tradisi yang penting. Meski demikian secara literal kata Adven tidak sekalipun disebutkan dalam Alkitab.

Jika masa Adven adalah masa penantian akan kedatangan Kristus melalui perayaan Natal dan menyambut kedatangan-Nya yang kedua kalinya, maka masa adven dapat dimaknai dengan beberapa pertanyaan ini.

 

Bagaimana Jika Masa Adven Adalah Tentang Sebuah Kewaspadaan?

Para penulis Injil menggambarkan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya nanti didahului oleh siksaan, matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan serta kuasa langit akan goncang. Siksaan yang demikian dikatakan belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak akan terjadi lagi. Bukankah itu sebuah hari yang mengerikan? Penulis Injil Matius memberikan sebuah warning bahwa akan ada suatu hari yang tak terduga dan menyentak kita semua hingga seorangpun tidak dapat mempersiapkan diri untuk bersembunyi, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (24:42,44).

Kedatangan (adventus) yang begitu mengejutkan ini membutuhkan kewaspadaan (siaga), sebuah sikap aktif untuk menantikan, sebab hari itu tidak terprediksi. Tidak terduga. Yesus sendiri mengatakan hari kedatangan-Nya bagaikan pencuri. Nasehat “berdoalah” adalah kata kerja aktif yang diminta TUHAN agar dilakukan umat-Nya selama masa penantian akan kedatangan-Nya (Adven). Berdoa adalah bentuk penyerahan total kepada Allah atas apa yang akan terjadi. Berdoa juga merupakan bentuk menyelaraskan kehendak kita dengan kehendakNya.

 

Bagaimana Jika Masa Adven Adalah Tentang Penyesalan dan pertobatan?

Gereja Katolik memaknai tradisi Adven ini dengan cara yang unik dan patut dicontoh. Pada Minggu pertama dan kedua masa Adven, sekitar tanggal 28 Nopember-11 Desember, umat Katolik melewatinya sebagai masa penyesalan dan pertobatan yang ditandai dengan penyalaan lilin berwarna ungu di rumah-rumah maupun di gereja. Minggu ke-tiga dimaknai sebagai hari sukacita dengan menyalakan lilin berwarna merah muda. Sedangkan minggu terakhir menjelang Natal, sekitar 19-25 Desember, ditandai dengan penyalaan lilin berwarna putih yang berarti hari dimana Kristus segera (sudah) datang. Dalam liturgi Gerejawi, tercatat tujuh dosa pokok yang harus disesali dan ditinggalkan serta digantikan dengan karakter Kristus selama masa Adven. Diantara tujuh dosa itu adalah dosa kesombongan digantikan dengan kerendahan hati, ketamakan dengan kasih, iri hati dengan kebaikan, kemarahan dengan kesabaran, hawa nafsu dengan kemurnian, kerakusan dengan penguasaan diri dan kemalasan dengan ketekunan “…sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus”, (I Korintus 1:8)

Teolog Ronald Nash menyimpulkan kehidupan Agustinus dari Hippo sebagai pendosa yang “jarang melewatkan kesempatan untuk mengejar dosa demi dosa.” Agustinus melakukan seks di luar pernikahan dan memperoleh anak di usia 20 tahun. Namun ia menyesali dosanya dengan menuliskan sebuah kalimat yang mewakili kehidupannya dalam Confensions, karya klasiknya “Áku sekarang akan mengingat kekotoranku yang lalu, dan pencemaran ragawi jiwaku; bukan karena aku menyukainya, tetapi agar aku bisa mengasihiMu, o Allahku.” Kontras dari kehidupan yang tenggelam dalam dosa adalah semakin mengasihi Allah lebih dalam lagi dan mencintai kebenaran-Nya. Semakin menyadari diri yang berdosa, semakin menyesali dan meninggalkannya dan menggantikan dengan karakter Kristus.

 

Bagaimana Jika Masa Adven Adalah Tentang Merayakan Kasih Karunia Allah?

John Newton merupakan pelaku penjualan budak Afrika dan ia mendapatkan nafkah dari penjualan manusia tersebut. Ia menyadari bahwa inilah dosanya yang paling kotor dan busuk. Setelah pertobatannya, Newton mengakui betapa berartinya pengampunan yang ia dapatkan dari Allah. Sebuah himne berjudul Amazing Grace, dituliskan untuk mengingat betapa berdosanya ia, namun kasih Allah jauh lebih besar dari kebusukan dosanya.

 

Kasih karunia menakjubkan, betapa indah terdengar

Yang menyelamatkan sosok menyedihkan seperti aku!

Dulu aku pernah sesat, tetapi sekarang aku ditemukan

Dulu aku buta, tetapi sekarang aku dapat melihat!

 

Tanggung jawab sebagai pengikut Kristus bukan hanya merayakan kasih-Nya bagi diri sendiri dengan menyembah Dia, tetapi kita juga dituntut untuk semakin militan membagi kasih itu kepada lebih banyak orang. Sebagaimana digambarkan Matius, menjelang kedatangan-Nya, mesias-mesias palsu akan bertebaran untuk mengacaukan iman umat-Nya. Mereka yang tidak pernah berjumpa dengan Sang Juru Selamat akan dilenyapkan “dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia” (24:39). Bukankah ini sebuah kesedihan kekal, ketika mereka yang ada disekeliling kita tidak pernah merayakan kasih karunia itu?

 

(* Penulis melayani pelayanan Kantor dan Mahasiswa di Perkantas Mataram)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES