more"/> more">
Natal dan Selebrasi dalam Sunyi
Last Updated : Dec 16, 2021  |  Created by : Administrator  |  1020 views

Oleh Yemima G. Pradipta

 

“Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.”

Lukas 2:20

 

Ketika mengalami hal yang membahagiakan, pada umumnya manusia memiliki keinginan untuk membagikan hal itu. Ada sebuah perasaan euphoria yang membuat kita tidak sabar untuk membagikannya ke orang lain. Peristiwa kelahiran, kelulusan, menikah, ulang tahun, mendapatkan kerja, ataupun mendapat hadiah undian. Peristiwa-peristiwa itu menjadi makin bermakna ketika orang-orang di sekitar kita ikut merasa bahagia dan ikut berselebrasi bersama kita.

Namun, apakah sebuah sukacita akan berkurang maknanya bila tidak ada selebrasi?

Tidak bisa dipungkiri, kehidupan umat manusia di bumi ini berubah total semenjak COVID-19 merebak tahun lalu. Segi-segi kehidupan kita yang esensial mulai dibatasi dan kita bahkan harus menahan diri untuk dapat bertemu dengan orang lain secara langsung untuk mencegah penyebaran virus. Kini, keadaan menjadi sedikit pulih, tapi ada kemungkinan semua ini akan memburuk kembali.

Memasuki normal yang baru, kita tidak bisa lagi melakukan tradisi-tradisi Natal hanya karena sudah biasa dilakukan. Bila dahulu kita biasa mengadakan perayaan-perayaan yang meriah seperti makan malam keluarga, ibadah bersama dan jamuan makan di gereja, tukar kado bersama kolega dan saudara di bawah pohon Natal, atau sekadar berjalan-jalan dengan kerabat di mall atau taman kota. Hal-hal itu tidak hilang sepenuhnya, namun kita didorong untuk melihat apa yang esensi.

Lantas, apa yang esensi dari hari Natal? Saya pikir, semakin beranjak dewasa, kita semua mulai paham bahwa Natal adalah tentang Kristus dan Kristus saja. Memang betul, kelahiran Yesus membawa sukacita. Namun ada tidaknya sebuah perayaan, tidak akan mengurangi esensi dan efek dari sukacita serta damai yang dibawa oleh Yesus ke dunia ini melalui kelahiran-Nya.

Menilik pada kisah kelahiran Yesus, Ia lahir di kondisi yang sederhana. Tidak ada pesta dan perayaan yang megah, ataupun gegap gempita sorak sorai orang-orang yang menantikan-Nya. Hanya ada ayah dan ibunya, bersama dengan para gembala dan tiga orang Majus yang menyambut kedatangan-Nya di bawah kolong langit bertabur bintang. Tetapi di tengah kesederhanaan dan kesunyian malam itu, mereka merasakan sukacita karena melihat sendiri Allah menggenapi janji-Nya.

Lukas mencatat tentang kisah perjalanan gembala yang mendapat kabar kesukaan dari seorang malaikat Tuhan, dan dalam sukacita yang membuncah itu, mereka pergi ke Betlehem untuk membuktikan sendiri perkataan malaikat tersebut. Sukacita mendorong mereka untuk mencari, dan Allah memberikannya. Melihat sendiri bagaimana Allah betul-betul menggenapi janji-Nya akan kedatangan Mesias, membuat mereka makin bersukacita dan memuji Allah.

Tulisan ini saya beri judul “Natal dan Selebrasi dalam Sunyi” karena secara figuratif (atau dalam beberapa konteks, secara literal), kita tidak bisa lagi mengadakan perayaan yang megah dan meriah di Natal kali ini, apalagi dengan rencana peraturan PPKM level 3 selama Natal sampai tahun baru. Tetapi sukacita Natal itu tidak bergantung pada hal-hal eksternal.

Mari kembali pada hal yang esensi. Natal adalah tentang Allah yang berinisiatif menyediakan keselamatan bagi kita melalui Yesus Kristus. Hal ini sudah cukup untuk membuat kita bersukacita dan makin memuji Allah. Entahkah dalam kesunyian ataupun dalam gegap gempita selebrasi, sukacita itu tetap dan tidak akan berkurang efeknya.

 

(*Mima ~ demikian dia dipanggil, suka membaca buku, tapi Mima sangat jatuh cinta dengan menulis. Ia suka menginterpretasikan hal-hal material yang dia lihat di sekitarnya, sehingga tulisannya lebih banyak bicara soal bagaimana tiap hal dalam hidup manusia itu dapat menceritakan kemuliaan dan hati Allah. Di komunitas tersebut, Mima  belajar dan berlatih lebih dalam untuk mempertajam kemampuannya tidak hanya soal menulis, tapi juga dalam story-telling melalui pemaparan narasumber dan mentoring yang dilakukan. Kehadiran komunitas tersebut mendorong Mima untuk bisa lebih serius menekuni passionnya sebagai penulis.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES