more"/> more">
Oleh Victor Kurniawan
Tahun ini, kita masih akan merayakan Natal dalam kungkungan pandemi. Optimisme bahwa pandemi akan selesai di tahun ini tidak terjadi. Bahkan kabar terakhir, ada varian baru yang muncul. Varian yang disebut Omicron oleh para ahli, kabarnya lebih cepat menular. Kabar ini sontak membuat dunia kembali waspada, setelah sempat tenang selepas vaksin ditemukan dan mulai didistribusikan ke seluruh dunia. Pada akhirnya, kita harus menerima kenyataan bahwa perayaan Natal tahun ini masih akan dirayakan dalam suasana yang rapuh dan tidak aman.
Rapuh dan tidak aman, bukankah ini suasana yang tidak asing dalam kisah Natal? Dalam kisah-kisah di dalam Alkitab yang bersinggungan dengan Natal, kita pasti ingat bahwa ada banyak kisah yang dihiasi dengan kerapuhan dan ketidakamanan. Salah satu kisah yang penting adalah kesediaan Maria untuk mengandung bayi Yesus ketika dia belum dalam ikatan pernikahan. Ia bersedia masuk ke dalam kerapuhan dan ketidakamanan demi tujuan yang besar. Hal ini terjadi ketika ia menyambut kabar dari malaikat Tuhan yang mengabarkan perihal bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki (Luk 1:31) dengan pernyataan, “Saya bersedia.”
Maria merespons kabar tersebut dengan berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Respons ini sangatlah luar biasa karena ia tahu risikonya besar. Risiko pertama yang Maria hadapi adalah kehilangan Yusuf yang terikat pertunangan dengannya (Lukas 1: 26). Kalau ini terjadi, ia pasti akan sedih, karena pernikahan yang sudah dinantikan tak akan terjadi. Risiko kedua, Lukas mencatat bahwa Maria belum bersuami dan dia hamil (Luk 1:34). Hamil saat belum bersuami memiliki resiko yang besar. Ia bisa mati karena hal ini.
Pada akhirnya, kesediaan Maria untuk menerima tanggung jawab mengandung bayi Yesus, meresikokan dirinya. Penerimaannya, sekali lagi, membuka ruang risiko untuk kehilangan orang yang ia cintai bahkan nyawanya sendiri. Rapuh dan tidak aman. Itulah yang ruang yang Maria masuki. Pertanyaannya adalah untuk apa ia memasukinya?
Tentu saja Maria tidak mengambil risiko yang besar untuk hal yang sederhana. Tampak sekali bahwa Maria menangkap dengan jelas rencana besar yang ada di balik kabar kehamilannya yang disampaikan oleh Malaikat. Rencana besar itu adalah bahwa anak yang dikandungnya merupakan pemenuhan janji akan keselamatan dan kerajaan yang yang tak berkesudahan yang akan diteruskan dari keturunan Daud. Ia akan mengandung sosok yang penting. Maka, demi terwujudnya rencana tersebut ia menyatakan bersedia. Ia mau menjadi rapuh demi tercapainya sebuah tujuan besar. Ia mau menjadi tidak aman demi berkontribusi bagi terwujudnya janji yang dinanti-nantikan oleh bangsanya selama bertahun-tahun. Maria bersedia menjadi rapuh demi terwujudnya tujuan yang besar.
Natal tahun ini masih akan dirayakan di tengah pandemi Covid-19 yang belum reda, di tengah kerapuhan dan ketidakamanan. Tampaknya situasi ini memperkuat pesan Natal ini bahwa merayakan Natal berarti bersedia untuk masuk ke dalam ruang kerapuhan dan ketidakamanan demi menghantarkan kabar keselamatan dan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah dunia ini.
Memang untuk untuk melakukan keduanya kita harus menghadapi berbagai risiko. Namun, dampak dari dua tindakan tersebut sangat mulia jika dibandingkan dengan resiko-resiko yang harus kita hadapi. Maka seperti Maria, untuk mewujudkan keduanya kita harus menyatakan, “Saya bersedia.”
Selamat Natal dan Tahun Baru. Selamat menjalani jalan kerapuhan dan ketidakamanan demi tujuan yang besar.
(* Kak Victor Kurniawan, melayani pelayanan mahasiswa di Perkantas Malang, Kak Vic adalah salah satu Pembina Pena Murid dan mendampingi adik-adik serta memberi masukan untuk hasil tulisan-tulisan mereka, terutama yang akan di masukkan ke Rubrik Student Writing)