more"/> more">
Oleh Nila Kus
Natal selalu identik dengan damai, sukacita, berbagi kasih dan sejumlah demonstrasi kebaikan yang lain. Rasanya semua itu mudah dilakukan saat kita berada dalam kondisi baik-baik saja. Keluarga yang harmonis, keuangan yang cukup, pekerjaan yang stabil, bisnis yang berjalan lancar, berada pada lingkungan yang aman, jauh dari bencana alam, kesehatan yang tidak terganggu dan kondisi membahagiakan yang lain. Namun bisakah kita melakukannya saat dalam kondisi yang serba pas-pasan, situasi hati yang sedih dan kondisi pekerjaan yang tidak stabil ?
Khotbah di Bukit mengajarkan pada kita sesuatu yang beda. Ajaran yang seperti rangkaian puisi dan seakan tidak realistis ini menjadi konten natal yang bernas. Mari kita renungkan sebagian dari rangkain Khotbah di Bukit ini. Matius 5 : 3 – 4. 3Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerjaaan Sorga. Miskin tidak hanya dalam hal materi namun juga berarti harga diri yang hancur, keadilan yang terampas dan keluarga yang terpuruk. Yesus sedang ingin mengajak bangkit kaum ‘papa’ itu. Mereka yang secara duniawi sering diabaikan, diremehkan, direndahkan karena kondisi-kondisi itu, justru disediakan Allah suatu tempat yang mulia, agung yaitu Kerajaan-Nya yang kekal. Dan ini bisa terwujud melalui natal.
4Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Bahwa ada sosok yang bisa mengisi dukacita kita yang paling dalam. Dukacita yang tidak sekedar kehilangan uang jutaan rupiah karena salah investasi. Atau sekedar kehilangan harta benda karena kecurian. Dukacita yang juga tidak sekedar karena gagal melamar pekerjaan. Tetapi dukacita yang sangat dalam yang melampaui batas kekuatan . Yang menghancur leburkan jiwa. Menorehkan rasa pedih yang menyayat hati. Sampai-sampai kita merasa tidak ingin hidup lagi. Namun juga bisa, dukacita yang disebabkan oleh pelanggaran dan dosa. Dan ketika kita menginsafi dosa-dosa itu, membawa dukacita yang dalam di hati kita. Dukacita yang menuju pada kepenuhan sukacita yang ditawarkan oleh Allah. Semua dimulai dari natal.
Saat kita bisa memaknai dan meyakini bahwa natal memulai segala pemulihan dalam hidup, maka Yesus Sang Juruslamat itu sudah lebih dari cukup bagi kita. Kita tidak lagi dikhawatirkan dengan masa depan yang seakan tidak pasti karena kejadian-kejadian yang begitu berat dalam hidup. Damai dan sukacita kita tidak akan terampas oleh situasi yang buruk karena sumber damai dan sukacita kita adalah Sang Terang Dunia.
Dengan demikian, kita akan bisa berbagi kasih natal kepada sesama tanpa beban, apapun kondisi kita. Berbagi materi, waktu, tenaga, pikiran, perhatian, doa. Berbagi hidup kita. Terlebih berbagi berita keselamatan. Karena kasih yang memancar dalam diri kita dianugrahkan oleh Sang Immanuel, Juruslamat dunia, Mata Air Kehidupan yang kekal.
Yesaya 9 : 5
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita,
seorang putera telah diberikan untuk kita ;
lambang pemerintahan ada di atas bahunya,
dan namanya disebutkan orang :
Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai
Keterangan : bernas/ber·nas/ a 1 berisi penuh (tentang butir padi, susu, bisul, dan sebagainya): buah padi --; 2 ki banyak isinya (tentang pidato, petuah, ceramah, dan sebagainya); 3 dapat dipercaya: janjinya selalu –
(* Ditengah kesibukan pekerjaannya, Kak Nila masih bisa memberi waktunya melayani di Perkantas Jember sebagai anggota Badan Pengurus Ranting. Bergabung dengan komunitas Pena Murid membuat Kak Nila bisa mnyelurkan hobi menulisnya dengan baik.