more"/> more">
Oleh Noni Elina
Libur Natal telah tiba. Meski pemerintah melarang warga Indonesia untuk mudik ke kampung halaman, sebagian dari kita mungkin tetap bisa berjumpa dengan keluarga, karena tinggal di satu kota yang sama. Banyak orang menantikan liburan yang panjang ini. Biasanya liburan panjang diisi dengan berkumpul bersama keluarga dengan jamuan makan bersama.
Terlepas dari bagaimana setiap keluarga menghabiskan liburan Natal (dalam budaya keluarga masing-masing), bagi sebagian orang, liburan Natal justru menjadi momen yang ingin dihindari. Mungkin ini mengejutkan. Namun bagi seorang yang sedang dalam penantian pasangan hidup, “serangan” pertanyaan yang dimulai dengan kata tanya “Kapan?” menjadi momen yang membuatnya enggan pulang kampung saat liburan. Bagi sebagian orang pertanyaan seperti itu terkadang mengganggu, meski sebenarnya penanya tidak bermaksud demikian.
Pertanyaan “kapan..?” bisa diajukan pada yang telah lama dalam masa penantian pasangan hidup, sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak, mahasiswa semester akhir yang dinantikan kelulusannya, atau seorang pencari pekerjaan yang tak kunjung menerima panggilan wawancara. “Kapan punya pacar? Kapan punya momongan? Kapan lulus? Kapan dapat pekerjaan hanya cerminan keingintahuan atau harapan yang biasanya disampaikan keluarga dan kerabat sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali disampaikan dengan tulus untuk menunjukkan perhatian.
Di dalam suasana Natal yang seharusnya penuh kehangatan, orang-orang yang tidak memiliki pasangan hidup, belum dikaruniai anak, belum mendapat ijazah atau pekerjaan, seolah menjadi “orang Kristen kelas dua.” Mereka seolah masih perlu memiliki atau mencapai sesuatu untuk menjadi mahluk yang berharga dan utuh. Bukan berarti memiliki atau mencapai sesuatu menjadi buruk, namun jika itu menjadi penentu dalam kita menaruh nilai diri orang lain, nampaknya hal tersebut jauh dari maksud Allah di dalam Alkitab. Apakah nilai seseorang hanya didasarkan pada kepemilikan dan pencapaian orang itu?
Persekutuan bersama keluarga dalam suasana perayaan kelahiran Yesus Kristus adalah suasana yang indah. Namun hal itu dapat berubah menjadi sesuatu yang ingin dihindari, karena pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah membuat dirinya adalah pribadi yang kurang, “seorang Kristen kelas dua.” Marshall Segal dalam bukunya Not Yet Married mengatakan, “jika Yesus Kristus telah mati untuk menyelamatkan Anda dan mengutus Roh-Nya untuk berdiam di dalam Anda, maka Anda tidak bisa disebut orang Kristen kelas dua.”
Lagipula Paulus dalam pimpinan Roh Kudus tidak berkata, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula, yaitu kita yang sudah menikah dan memiliki anak dan pencapaian ini dan itu, untuk menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Efesus 1:5). Tidak, bagian dari Alkitab tersebut tidak menyatakan demikian. Oleh karya keselamatan Kristus, semua orang yang percaya kepada-Nya telah dilayakkan menjadi anak-anak Allah, dan berharga sebagai ahli waris kerajaan Allah. Di tengah dunia yang mengutamakan pencapaian dan kepemilikan, kita perlu terus mengingat bahwa keselamatan kita peroleh bukan karena perbuatan baik dan pencapaian kita.
Pada perayaan Natal kali ini mari merenungkan, apakah ada saudara seiman yang selama ini kita anggap sebagai orang Kristen kelas dua? Yesus dan Paulus adalah seorang yang tidak menikah, tidak memiliki anak secara lahiriah, namun kita tahu kisah dan dampak hidup mereka. Petrus dan beberapa murid lainnya tidak menempuh pendidikan yang tinggi namun melalui mereka Injil diberitakan ke seluruh dunia. Sekali lagi, bukan berarti kita hidup tanpa keinginan dan pencapaian, namun kenyataan bahwa status sosial dan pencapaian kita di dunia ini tidak menjadikan kita orang Kristen kelas dua di hadapan Allah, seharusnya mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan orang lain. Kiranya kita dapat saling menyatakan kasih, saling mendukung, dan memaksimalkan setiap potensi yang kita miliki, apapun musim kehidupan yang saat ini sedang kita jalani. Selamat Natal. Kasih Allah beserta.
(* Kak Noni, sangat bersemangat hingga hari ini melayani pelayanan siswa di Banyuwangi, sembari merintis pelayanan mahasiswa. Selain itu passion Kak Noni dalam menulis dan membuat konten juga memberkati banyak orang.)