more"/> more">
Oleh Heppy Natalisa I.P.N
“Jangan menangis, menangis itu lemah”
“Harus berani berdebat jika pendapatmu ingin didengar”
“Kamu harus memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, agar dipandang orang”
“Saya harus menjadi orang yang bisa diandalkan oleh semua orang supaya saya diterima”
Seringkali di sekitar kita, tanpa disadari, ucapan-ucapan di atas yang membentuk pribadi seseorang untuk tidak memunculkan “kerapuhan” di depan orang lain. Memperlihatkan kerapuhan berarti sama saja kita sedang mempermalukan diri kita sendiri. Dunia menganggap “kerapuhan” harus disembunyikan, ditutup rapat-rapat, bahkan jangan sampai ada seorang pun tahu akan hal ini. Dunia hanya memandang orang yang sempurna, tanpa cacat, baik dari perkataan, perbuatan, pemikiran, yang seringkali membuat kita tidak bisa menjadi “otentik”, apa adanya dihadapan Allah dan sesama. Namun, kita lupa bahwa ada satu pribadi yang mengenal kita, bahkan mengenal kita jauh melebihi diri kita sendiri. Ia yang membentuk kita, bahkan ketika kita ada di dalam rahim ibu kita (Yes. 49:5).
Menjadi otentik berarti mengakui setiap kelemahanmu, keterbatasanmu, ketidaksempurnaanmu. Sangat sulit untuk mengakui hal ini di depan banyak orang, sangat sulit tidak membayangkan apa yang orang lain pikirkan dari cara saya berbicara, sikap saya pada mereka yang tidak bisa selalu menyenangkan tiap orang. Bahkan pada diri sendiri, kita tidak mau mengakui kelemahan dan kerapuhan kita, sulit untuk menerima bahwa kita tidak sempurna. Namun, saya mau terus belajar otentik dalam segala hal, belajar otentik di hadapan Tuhan dan sesama. Hal yang saya dapatkan ketika saya merenungkan setiap kerapuhan saya adalah:
“saya bukan manusia sempurna”
“saya adalah orang yang sangat terbatas”
“saya tidak bisa menyenangkan semua orang”
“saya punya banyak sekali kelemahan”
Khotbah Yesus diatas bukit terutama yang terdapat dalam Matius 5: 3-10, menunjukkan paradoks yang begitu jelas antara nilai dunia dan nilai Kerajaan Allah. Ketika nilai dunia mewajibkan setiap orang menunjukkan kesempurnaan dan tanpa cacat cela, Yesus mengatakan bahwa kita harus berbuat sebaliknya, menunjukkan kelemahan dan kerapuhan kita dihadapan Allah. Ayat yang sangat saya sukai dan bagi saya secara pribadi yang menunjukkan paradoks yang begitu jelas ada pada ayat 3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Yesus menyuruh kita menjadi miskin, agar kita punya Kerajaan Sorga. Apakah Yesus tidak salah? Bukankah yang kaya yang akan memiliki segalanya? Yesus ingin kita menunjukkan kerapuhan kita dihadapan-Nya. Kyle Idleman dalam bukunya The End of Me mengatakan bahwa Kerajaan Allah berawal dari mengeluarkan semua persediaan yang ada pada kita dan berdiri tanpa menggenggam apapun. Kita tidak punya apapun yang bisa kita berikan. Kerajaan Allah berawal didalam diri anda, dimana anda menyadari anda tidak punya apapun (miskin) untuk diberikan.
Ketika kita memiliki kekayaan dan tidak menjadi miskin, maka kita akan berjuang dengan kekuatan kita, kita mengandalkan kekayaan kita, bukan mengandalkan Tuhan. Tuhan ingin kita menjadi miskin dihadapanNya agar kita mengandalkan-Nya. Ketika kita menyadari bahwa kita miskin, kita rapuh, maka bersiap-siaplah melihat bagaimana Tuhan yang menyempurnakanmu. Allah adalah satu pribadi yang mengerti setiap “kerapuhan” dalam hidupmu dan Ia siap menerimamu apa adanya. Berhentilah bersikap selalu sempurna, berhentilah berbohong pada diri sendiri yang akan terus membuatmu semakin lelah, rengkuhlah kerapuhanmu, jadilah otentik, maka engkau akan melihat bagaimana Allah bekerja di dalam kelemahanmu dan menjadikanmu sempurna di hadapan-Nya dengan anugerah-Nya.
“….. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” – 2 Kor. 12:9b
Dosa merupakan penyebab utama kerapuhan dan kelemahan manusia. Natal tidak hanya bercerita tentang seorang bayi yang lahir di dunia, namun berbicara tentang misi Allah menyelamatkan dunia dari dosa. Natal merupakan peristiwa yang menunjukkan kerapuhan manusia, kelemahan manusia yang tidak bisa lepas dari dosa, namun juga memperlihatkan kasih Allah. Allah yang turun ke dunia menjadi manusia, ber-inkarnasi untuk mengatasi kerapuhan dan kelemahan manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. – Yohanes 3:16. Kasih Allah menutupi penyebab kerapuhan manusia yang utama yaitu dosa. Tidak hanya menutupi bahkan menghapuskan kerapuhan dan kelemahan manusia akibat dosa. Natal merupakan peristiwa Allah yang merengkuh kerapuhan manusia.
(* Happy melayani pelayanan mahasiswa di Perkantas Surabaya, hobby membacanya membuat gadis energik ini memiliki banyak ide untuk menulis. Happy aktif di komunitas Baca Bareng LPJ dan rindu untuk belajar menulis bersama dengan teman-teman di Komunitas Pena Murid.)