more"/> more">
Pengharapan yang Tak Pernah Pudar
Last Updated : Dec 21, 2021  |  Created by : Administrator  |  1292 views

Oleh Ria Agustina

 

Tahun kedua pandemi ini kita lalui dengan sejuta perasaan. Masih terekam dengan jelas, hampir setiap hari kita mendengar berita duka cita ketika puncak pandemi terjadi medio Juni-Juli lalu. Sedih, cemas, takut, gusar dengan banyaknya berita kematian yang bertubi-tubi. Mendengar teman/kerabat yang terjangkit Covid-19, terkulai lemas sakit, atau bahkan mungkin kita sendiri harus bergumul dengan virus mematikan ini. Hari-hari pesimis itu perlahan berlalu ketika grafik penambahan kasus baru Covid-19 mulai melandai di bulan September. Sekolah sudah melakukan pertemuan tatap muka, perkantoran mulai bekerja penuh waktu di kantor, dan aktifitas sosial ekonomi kembali normal.

 

Ketika hari-hari optimis mulai berlangsung, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa telah ditemukan varian Covid-19 yang disebut Omicron dari Afrika Selatan. Setelah melakukan rapat darurat pada Jumat (26/11), WHO menetapkan varian tersebut dalam status mengkhawatirkan atau variant of concern (VOC). Berita yang cukup membuat kita terhenyak.

 

Ya Tuhan sampai kapan ini akan terus berlangsung? Kapan pandemi ini berakhir? Apa yang Engkau kehendaki bagi umat-Mu? Banyak orang bertanya-tanya. Mereka lelah, hilang harap, bahkan mungkin depresi. Sebagai orang beriman yang banyak melakukan aktivitas rohani, mungkin ada rasa takut dan malu untuk mengutarakan hal ini dari mulutnya. Tapi inilah realita kehidupan yang didengungkan sang pemazmur dengan jujur apa adanya.

 

Pandemi ini sekali lagi mengajak kita mengingat bahwa hidup ini tidak pasti, sangat rapuh, dan begitu singkat. Bersama dengan manusia lain, kita berseru dalam keresahan, kekecewaan, ketakutan, dan kehancuran, sembari kita berharap supaya penyakit, penderitaan, dan kesedihan ini berakhir. Walaupun kita tahu, bahwa penderitaan ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita kelak (Roma 8:18).

 

Natal tahun ini kita masih merasakan duka atas penderitaan dunia ini. Rasa was-was dan cemas mungkin masih menghinggap di relung hati kita. Namun kita tidak bisa menepis sukacita, dan nyanyian riang yang menyatakan Juruselamat telah lahir. Di tengah jatuh bangunnya dunia dalam pesimisme dan pengharapan yang mulai menipis, ada pengharapan yang terus ada dan tak akan sirna. Kehadiran Kristus menjadi sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Penulis surat Ibrani menulis tentang hal itu demikian: “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya” – (Ibr. 6:19-20).

Pengharapan muncul dari membaca janji-janji-Nya yang berharga, serta melihat bahwa Kristus yang telah menebus kita (Rom.10:17). Janji-Nya membuat kita teguh dalam pengharapan, bahkan bersuka ketika kita meratap, karena kita percaya kepada Tuhan yang membuktikan bahwa kita tidak akan dikalahkan oleh sakit penyakit dan kematian (1Kor. 15). Apa pun yang terjadi dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus, tidak akan menghentikan kita. Pengharapan di dalam kelahiran dan kehadiran Kristus telah menjadi penghiburan yang memberi damai sejahtera bagi kita. Pengharapan di dalam Kristus tidak akan pernah pudar.  Selamat Natal.

(* Kak Ria, saat ini berkonsentrasi mengembangan pelayanan Literasi di Literatur Perkantas  Jatim.Kerinduannya dalam pelayanan Pemuridan dan Misi di Perkantas, akan muncul dari komponen Siswa, mahasiswa, dan alumni “ agen of change” melalui pelayanan Literasi.)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES