more"/> more">
Theresella Mercy Wibowo
Pergi ke Salon
Pada suatu hari, seorang wanita keluar dari rumahnya untuk pergi ke salon. Di tengah perjalanan, ia mengalami kecelakaan sehingga tak sadarkan diri. Rohnya melayang ke pintu Surga dan bertemu dengan seorang malaikat. “Malaikat,” ucapnya, “Apa aku sudah mati?”
“Belum, Bu, waktumu belum tiba,” ucap malaikat itu. “Kembalilah ke bumi.”
Perempuan itu membuka matanya dan tersadar. Orang-orang mengerubunginya di tengah jalan, dan pengendara mobil yang tadi menabraknya sudah pergi melarikan diri. Untungnya, tidak ada luka dan memar yang terlalu parah yang mengharuskannya pergi ke rumah sakit. Wanita itu berdiri dan kembali berjalan kaki menuju salon tujuannya tadi. Ia merasa sangat bersyukur dan ingin merayakan kehidupannya dengan perubahan yang signifikan: ia menggunting rambut, mengecatnya jadi berwarna merah, dan memulas make-up.
Di perjalanan pulang, mobil lain menabraknya lagi dan membuatnya tak sadarkan diri. Ketika rohnya kembali melayang ke pintu Surga dan bertemu dengan malaikat yang tadi sudah menyambutnya, wanita itu protes.
“Malaikat!” Ucapnya. “Katamu waktuku belum tiba. Kenapa aku ditabrak lagi?”
Dengan bingung, malaikat itu mengelap kacamatanya dan menyipitkan mata. “Maaf, Ibu siapa ya?”
He He He. Pernah dengar cerita di atas? Sewaktu saya sekolah minggu, cerita ini kerap diulang oleh guru-guru sekolah minggu saya ketika mengangkat tema mengenai penampilan dan gambar diri.
Lewat cerita yang sedikit guyon tersebut, kami didoktrin bahwa penampilan yang Tuhan ciptakan adalah penampilan terbaik yang bisa kami miliki. Kami harus bersyukur dan bersukacita atas rambut, mata, alis, wajah, dan kulit kami. Semua anak diciptakan unik dan menarik! Jangan sampai malaikat tidak mengenalmu kalau kamu mengecat rambut dan memulas make-up!
Namun, semakin saya beranjak dewasa, cerita ini terus mengganjal di hati saya. Kebetulan saya kini juga sudah menjadi guru sekolah minggu bersama dengan beberapa orang teman saya. Ketika bicara mengenai penampilan, kami sadar kami semua pernah merasakan yang namanya insecure alias tidak percaya diri. Kami juga pernah iri terhadap penampilan beberapa teman kami atau bahkan selebriti di luar sana yang terkesan sempurna dan sesuai dengan standar kecantikan yang akan dilirik para pria. Tak sedikit dari kami yang perlahan mulai belajar memulas wajah, memperbaiki penampilan, memilih gaya rambut favorit, dan ... mengecat rambut.
Guru sekolah minggu saya dulu mungkin akan protes melihat kami sekarang. “Bagaimana kalau malaikat tidak mengenalimu?” Demikian saya membayangkan ucapan beliau. Hati saya gelisah; ada pertempuran antara nilai-nilai yang saling berlawanan.
Bukankah Tuhan tidak melihat penampilan luar, tetapi melihat hati? Ketika Ia mengutus Nabi Samuel ke keluarga Isai, Ia tidak menunjuk anak-anaknya yang body-nya bagus sebagai raja. Ia tidak menunjuk anak-anaknya yang kece sebagai pemimpin umat Israel. Melainkan, ia memilih Daud yang kecil dan lemah lembut --sebuah fakta yang mengejutkan bagi banyak orang saat itu. Tuhan berfirman di 1 Samuel 16:7, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
Maka dari itu, apa salahnya mengecat rambut dan memulas make up, karena ‘toh Tuhan mengenal kita dari hati? Ataukah ada sebuah kontras yang memaksa para perempuan berhati lembut untuk berpenampilan sederhana, dan perempuan yang kurang baik untuk berpenampilan menarik? Seharusnya Ia tetap mengenaliku, seperti apa pun penampilanku di dunia.
Untunglah, cerita tadi tak pernah lagi saya dengar disampaikan kepada anak-anak sekolah minggu. Hikmat kebenaran Firman Tuhan memang tak mudah untuk dimengerti akal manusia, maka tak jarang kita berbuat kesalahan. Saya sadar, ada dua nilai yang secara bersamaan harus disampaikan kepada anak-anak dari usia muda mereka: bahwa Tuhan menciptakan mereka dengan unik dan menarik, seperti apa pun penampilan mereka, dan juga bahwa Tuhan ingin mereka merawat tubuh mereka sebaik mungkin demi kemuliaan Tuhan.
Kini, setiap kali aku ingin memulas wajah, mengubah gaya rambut, atau tampil cantik dengan pakaian tertentu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri: apakah aku melakukannya karena tidak percaya diri pada tubuh yang Tuhan berikan? apakah yang akan aku lakukan akan menjadi syak bagi orang lain yang belum percaya? Kalau jawabannya adalah tidak, maka aku percaya, Tuhan tetap mengenaliku seperti apapun penampilanku.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” 1 Korintus 6:19
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1
(Komunitas Pena Murid~ Mercy demikian panggilannya, mahasiswa semester 3 Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia ini, sangat lihai merangkai kata-kata dan prosa. Ia berharap percikan ini bisa memberkati pembaca.)