more"/> more">
Renungan : Love God, Love People
Last Updated : Feb 25, 2022  |  Created by : Administrator  |  5078 views

Oleh Wahyu Respati*)

 

... "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Mat 22:37-40)

 

“Bulan yang penuh kasih”, kira-kira begitulah kalimat yang sering kita dengar dari banyak orang ketika memasuki bulan Februari. Orang berlomba-lomba mencari kado spesial untuk orang terkasih. Aneka coklat, boneka, bunga, dan barang-barang yang serba pink di jual di pertokoan. Mereka akan memberikan kado itu dengan cara yang spesial bahkan romantis untuk menyenangkan hatinya.

 

Kita bisa mengupayakan segala sesuatu untuk menunjukkan kasih dan perhatian kepada mereka yang kita kasihi. Pertanyaannya, bagaimana kita melakukannya untuk Tuhan? Sang Pribadi yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

 

Matius menulis Injilnya bagi orang-orang yang mengenal Perjanjian Lama dan menunjukkan bahwa kabar baik yang diberitakan Yesus berdasar pada hukum dan Perjanjian Lama. Injil Matius berbicara tentang hidup dan ajaran-ajaran Yesus.  Yesus mengundang setiap orang untuk percaya, men-Tuhankan Dia, dan mengasihi sesama.

 

Dalam perjalanan pelayanan-Nya memberitakan kabar baik di Galilea dan Yudea, Tuhan Yesus berjumpa dengan ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Nampaknya orang Farisi ingin mencobai Yesus setelah mereka melihat Yesus membungkam orang Saduki mengenai makna kebangkitan. Orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama dalam hukum Taurat. Yesus menjawab dalam ayat 37: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”.  Itu adalah hukum yang terutama yang Yesus ajarkan.

 

Dunia seringkali mengaitkan mengasihi dengan hati berarti merujuk kepada perasaan. Mengasihi Allah dengan segenap hati, berarti kita bersedia memberikan segala sesuatu kepada Allah dengan penuh hormat dan menghargai Allah. Penghormatan kita kepada Allah seharusnya tidak berdasarkan berkat yang Allah akan berikan, tapi karena kerinduan akan persekutuan dengan Dia. Mengasihi dengan segenap jiwa, berarti bersedia mengambil untuk kepentingan orang lain bukan untuk kepentingan diri sendiri atau egois. Seperti apa yang telah diteladankan Yesus, mati dan menanggung semua hukuman manusia. Di bagian terakhir Yesus mengingatkan untuk bisa mengasihi dengan segenap akal budi. Itu artinya, mengasihi dengan seluruh pikiran kita yang telah ditebus oleh Allah. Kasih yang dibangkitkan oleh kasih-Nya kepada kita.

 

Orang yang telah diselamatkan Allah akan bertanggungjawab atas anugerah yang Tuhan berikan, yaitu mengasihi. Arti mengasihi secara alkitabiah berhubungan erat dengan tindakan, dan arti spesifik dari mengasihi Allah adalah melakukan apa yang Allah inginkan, yaitu perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya. 

 

Dalam ayat 39 Yesus kembali mengatakan mengenai hukum kedua adalah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Jika kita meyakini dan merasakan bahwa kasih Allah begitu melimpah dalam kehidupan kita, kita seharusnya membagikan kasih itu kepada orang lain, melayani mereka. Melayani mereka dengan semangat kasih Allah. Menyediakan tangan kita untuk menolong, menggunakan kaki kita untuk menghampiri mereka yang susah, memiliki mata untuk melihat kebutuhan orang lain, dan melalui telinga kita untuk mendengar rintihan mereka yang menderita.

 

Dalam 1 Yohanes 4:12 dituliskan Jikalau orang beriman saling mengasihi, Allah tetap di dalam mereka dan kasih-Nya disempurnakan di dalam mereka”. Tujuan akhir dari kasih Allah bukanlah diri kita sendiri, melainkan orang lain. Kita bukan sekadar objek kasih, melainkan saluran kasih. Mari kita terus mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi. Mengasihi mereka yang Tuhan percayakan untuk kita layani dengan semangat kasih dari Allah.

 

Selamat mengasihi :)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES