more"/> more">
Dr. Hotma Siahaan SpJP (K), FIHA, FAsCC, FICA dan Dr. Sri Berthalina Tambunan, SpTHT-KL , FICS.
Sketsa kali ini, kami mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat pasangan suami istri yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Dokter Hotma dan Dokter Bertha demikian mereka biasanya disapa, bertemu saat menempuh studi di Fakultas Kedokteran USU di Medan. Awal pertobatan mereka adalah saat mengikuti Kebaktian Mahasiswa baru, dalam sebuah momen KKR disanalah mulai menerima Kristus dan aktif melayani bersama di PMK USU. Visi dan beban sebagai tenaga kesehatan makin dibukakan seiring dengan berjalannya waktu.
Setelah mendapatkan gelar dokter dan menikah, mereka melanjutkan program spesialiasi di Unair Surabaya. Dokter Hotma adalah dokter spesialis jantung dan Dokter Bertha adalah dokter spesialis THT. Pasangan dokter ini memiliki 3 anak, Paulus, Daniel dan David. Putra pertamanya, Paulus juga sudah mendapatkan gelar Sarjana Kesehatan dan sedang meraih gelar profesi kedokterannya. Sedangkan David dan Daniel masih bersekolah di tingkat dasar dan menengah pertama.
Saat ini Dokter Hotma bertugas di 3 rumah sakit di Surabaya; RS Adi Husada Undaan, RS Husada Utama dan RS Islam Jemursari. Sedangkan Dokter Bertha bertugas di RSUD Husada Prima Surabaya dan RS Husada Utama. Kepada Tim Sketsa mereka berbagi kisah dan kerinduan mereka.
Apa saja tantangan menjadi tenaga kesehatan itu ?
Tantangan menjadi nakes itu banyak dan silih berganti. Pada saat sebagai dokter umum, kami bertugas di daerah, harus menghadapi masyarakat pedesaan dengan segala macam permasalahannya. Kami harus beradaptasi dan karena kami masih muda semangat masih tinggi dan menggunakan semua kesempatan untuk memberitakan kasih Tuhan sebagai nakes.
Tantangan kedua adalah kerinduan untuk sekolah. Pengembangan diri sangat penting. Karena ilmu kedokteran itu adalah ilmu yg berkembang terus secara pesat Karena jika menjadi dokter umum kita tidak akan berkembang dan maksimal melayani. Dan kebutuhan untuk studi lanjut membutuhkan biaya yang besar. Kadang kita bisa lebih fokus ke pengembangan diri, penting kita menyeimbangkan keinginan pengembangan diri tadi dengan mengatur strategi dalam memberitakan kasih TUHAN.
Pengalaman sebagai dokter sejak lulus 1995 sudah banyak dilalui dan kami sudah makan asam garam. Kesulitan menghadapi pasien menjadi hal yang biasa kami lalui setiap hari. Apalagi sejak awal masa pandemi 2 tahun lalu, kami kesulitan dalam menghadapi pasien Covid-19. Tapi sekarang sudah mulai bisa teratasi dengan baik. Kasus menurun dan alat pelindung diri (APD) kita sudah lengkap.
Kerinduan untuk Terus menjadi Berkat
Satu hal yang kami rindukan adalah peka melihat setiap kesempatan untuk memberitakan kasih TUHAN ketika melayani pasien di Rumah Sakit. Ketika bekerja kami akan fokus memberikan yang terbaik untuk pasien. Dan yang terpenting adalah menyampaikan kasih Tuhan kepada mereka. Kesempatan itu banyak. Tapi kadang kami dibatasi waktu dan kondisi yang kurang memungkinkan. Tenaga medis harus terus menerus melatih kepekaannya dalam menyatakan kasih TUHAN. Dan ini didapat kalau persekutuan dengan TUHAN terjalin baik. Kegiatan dan pekerjaan banyak, sehingga harus pintar mengatur semuanya. Waktu untuk bersekutu dengan Tuhan juga bersama dengan keluarga.
Kami bersyukur di masa pandemi ini kami sekeluarga merintis sebuah Kanall Kesehatan di platform Youtube yang bernama Indonesia Sehat. Kanal ini adalah sebuah upaya yang kami lakukan untuk memberi pendidikan kesehatan bagi masyarakat. Kami bersyukur banyak bekerja sama dan bersinergi dengan para tenaga kesehatan lain yang memiliki bidang-bidang spesialisasi mereka. Kami berharap edukasi kesehatan ini bisa memberkati masyarakat Indonesia terutama di masa-masa sulit akibat pandemi ini.
Menurut Kakak berdua, Apa peran alumni dalam menjadi agen perubahan di tengah masyarakat ?
Peran alumni sebagai agen perubahan menurut kami, pertama adalah bagaimana melakukan tugas melayani sesuai profesinya dengan memberikan layanan yang terbaik. Kedua, bagaimana kita bisa menjadi alumni yang terus belajar dan dinamis menerima perubahan tapi memiliki hati yang terus rindu memberitakan Injil TUHAN. Ketiga, rajin dan peka menggunakan setiap kesempatan untuk menyatakan kasih TUHAN. Setiap kesempatan yang diberikan TUHAN, selalu gunakan karena kesempatan itu tidak datang 2 kali. Keempat, kita sebagai alumni harus memiliki persekutuan pribadi intim dan kuat dengan TUHAN, supaya bisa melakukan perubahan walaupun kecil di masyarakat.