more"/> more">
Oleh Theresella Mercy
Perjamuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya adalah skema yang menginspirasi banyak orang. Sebut saja misalnya beberapa lukisan oleh Leonardo da Vinci dan Hendrick Goltzius yang berjudul The Last Supper —Perjamuan Terakhir. Ada pula lagu The Last Supper oleh Andrew Lloyd Webber, puisi The First Supper karya Norman Adi Satria, dan bahkan karya patung pahatan. Pada perjamuan malam itu, Yesus duduk di sebelah Yudas yang akan menyerahkan-Nya kepada para ahli Taurat. Ia mengetahui hal tersebut, tetapi ia tidak marah dan mengusir Yudas. Ia tetap menerima pendosa itu duduk makan Bersama-Nya. Malam itu, Yesus memecah-mecahkan roti dan membagikan anggur sebagai tanda perjamuan daging dan darah-Nya. Penderitaan-Nya sudah diramalkan, namun ia tidak kabur dan bersedih hati. Yesus menerimanya dengan sukacita.
Leonardo Da Vinci, ketika melukis The Last Supper ini di tahun 1494-1498, mengeluarkan upaya yang besar untuk mendapatkan warna-warna sebrilian mungkin. Ia berusaha mengajak para pengamat masuk ke dalam adegan dramatis tersebut dengan memperhatikan angle dan posisi duduk setiap orang. Bahkan, sampai saat ini, masih terdapat diskusi seru di antara para pengamat dan kritikus seni mengenai simbol-simbol yang berusaha Da Vinci sampaikan melalui lukisan tersebut.
Bagi saya sendiri, ada satu pertanyaan yang timbul ketika melihat lukisan The Last Supper atau Perjamuan Terakhir ini. “Kenapa disebut ‘Perjamuan Terakhir’?”
Bicara mengenai hal-hal ‘terakhir’, mungkin banyak orang berusia lanjut yang sudah memikirkan hal yang sama. “Apa hal terakhir yang akan aku lakukan sebelum aku mati nanti?” Kematian jadi sesuatu yang selalu membayang-bayangi setiap kegiatan yang mereka lakukan dari bangun pagi sampai tidur lagi. Begitu juga yang anak-anak pikirkan tentang orang tuanya ketika mereka mulai menua: “Kalau Mama jatuh di kamar Mandi, apakah ini adalah mandinya yang terakhir? Kalau Mama kecelakaan di perjalanan kerja, apakah ini sarapannya yang terakhir?”
Kita sering terintimidasi pada banyak hal yang terakhir dilakukan seseorang sebelum ia mati. Dibandingkan kegiatan yang sama yang ia lakukan berkali-kali selama masa hidupnya, satu kegiatan itu terasa jauh lebih berarti. Banyak orang yang bahkan bersikeras mengabadikan semua momen di dalam hidupnya melalui foto dan video agar suatu hari kelak, ketika ia sudah meninggal, anak-anaknya bisa menatap foto dan video itu sambil berkata, “Lihat, tuh, kali terakhir dia ke Bali sebelum dia meninggal.”
Ketika Yesus tahu diri-Nya akan mati, Ia sudah tahu hal-hal terakhir apa yang harus Ia lalui sebelum Ia mati. Mungkin, ketika diri-Nya berdoa di Taman Getsemani, di dalam hati Ia berpikir, “Ini adalah kunjungan-Ku yang terakhir.” Ketika Ia ditampilkan di hadapan orang banyak untuk diadili, Ia berpikir, “Ini adalah penampilan-Ku yang terakhir.” Ketika Ia berjalan menyusuri Golgota sambil didera dan membawa salib, Ia berpikir, “Ini adalah siksaan-Ku yang terakhir.”
Namun, beberapa hari sebelumnya, Yesus mengadakan perjamuan dengan murid-murid-Nya —dan Ia tidak menyebut perjamuan itu sebagai perjamuan terakhir.
Di Matius 26:29, Yesus berkata: “Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”
Perjamuan malam itu —malam terakhir di mana murid-murid-Nya berkumpul dengan sukacita sebelum Yudas menyerahkan sang guru, Petrus menyangkali Mesiasnya, dan murid-murid lain tercerai-berai dalam ketakutan— bukanlah perjamuan terakhir bagi Yesus. Ia berkata: “Mulai sekarang Aku tidak akan minum lagi ... sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”
Ia tahu waktunya tak lama lagi, namun alih-alih melakukan segala sesuatu untuk kali yang terakhir, Yesus membuka jalan bagi para murid untuk menantikan sesuatu yang baru akan terjadi begitu Ia mati —begitu Ia mengorbankan diri-Nya yang suci di atas kayu salib dan menebus setiap orang yang berdosa— yaitu perjamuan dengan Bapa di Surga dalam kekekalan. Ternyata, bukan Ia yang menyebut perjamuan malam itu dengan perjamuan terakhir!
Kematian Yesus tidak meninggalkan kekosongan yang buram dan sendu, melainkan justru sebuah pintu yang baru terbuka dan mendatangkan kesempatan baru. Kematian-Nya membawa keselamatan, penderitaan-Nya membawa penebusan, dan pengorbanan-Nya di atas kayu salib membawa kekekalan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Apa yang Anda lakukan kali terakhir sebelum mati kelak tak akan membawa banyak perubahan—selain meninggalkan kenangan yang perih dan menyedihkan. Kecuali, bila Anda memutuskan dengan sadar untuk menjadikan hari-hari terakhir Anda di dunia seperti Yesus menghabiskan hari-hari-Nya: memberitakan kabar keselamatan dan mendatangkan sukacita kepada setiap orang yang membutuhkannya.
Tak ada yang tahu apa yang akan kita lakukan sesaat sebelum kita mati. Karena itu, lakukan segala sesuatu sebelum kita mati dengan tujuan yang sama, yaitu memuliakan Dia dan meneruskan tugas-Nya di dunia.
*) Gadis yang tahun ini menginjak umur 19 tahun biasa di panggil Mercy, ia adalah seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan Pendidikan di Universitas Indonesia. Mengambil jurusan Sastra Indonesia, Mercy menemukan kecintaannya terhadap menulis. Melalui Pena Murid, Mercy rindu makin menjadi berkat melalui menulis dengan prinsip-prinsip Injil.